LABURA, Nasionaldetik.com.
Kisah pilu yang dialami Rosmidawati Br. Purba mencapai puncaknya setelah seorang oknum PM diduga mengamuk di lahan milik ayahnya. Oknum tersebut bahkan melontarkan ancaman akan memenjarakan pihak keluarga. Kasus ini kini memasuki tahap krusial, menyusul munculnya pemberitaan dari salah satu media online yang menyebutkan bahwa kedatangan oknum PM tersebut justru untuk menyelamatkan ayahnya yang diintimidasi(Labura 18 Desember 2025).
Menanggapi hal itu, Rosmidawati memberikan penjelasan secara rinci untuk meluruskan fakta yang sebenarnya.
Rosmidawati menegaskan bahwa kejadian tersebut bukanlah kali pertama mereka diancam akan dipenjarakan jika memanen hasil kebun di lahan ayahnya sendiri. Konflik ini diketahui telah berlangsung selama lebih dari satu tahun.
”Jika kami disebut mengintimidasi ayahnya, mengapa justru kami yang tidak bisa masuk ke lahan kami sendiri? Selama ini, ayahnya (pihak lawan) yang selalu mengancam kami dan para pekerja pemanen. Bagaimana mungkin kami mengintimidasi mereka? Di sini jelas kami yang dirugikan, bukan ayahnya PM tersebut,” tegas Br. Purba.
Peristiwa oknum PM mengamuk di lahan sengketa tersebut terjadi pada 13 September 2025, sekitar pukul 11:17 WIB. Lahan tersebut berlokasi di Desa Ujung Padang, Kabupaten Labuhanbatu Utara.
Kejadian bermula saat Rosmidawati membawa pekerja pemanen ke lahan ayahnya yang telah dikuasai selama hampir 20 tahun. Setibanya di lokasi, terlihat seorang pria berinisial SS (yang akrab disapa warga sebagai Arek-arek) sedang melakukan penyemprotan.
SS kemudian menjumpai awak media dan mengeklaim bahwa dirinya merupakan pihak ketiga yang diberikan kuasa oleh Br. Juntak. Ia menyarankan agar Rosmidawati tidak melakukan pemanenan sebelum Br. Juntak tiba di lokasi. Namun, Rosmidawati yang yakin akan haknya tetap memerintahkan pekerja untuk mulai memanen.
Hal itu membuat SS kesal dan langsung menghubungi anaknya melalui telepon seluler:
”O yak, di mana kau? Ini orang-orang ini datang memanen. Sudah kusuruh jangan dipanen menunggu datang Nurminah, tapi mereka tidak mau. Cepat kau datang Yak, biar ditangkap orang ini! Suruh Nurminah buat laporan!” pungkas SS yang tidak rela lahan tersebut dipanen.
Sekitar pukul 11:30 WIB, suara deru motor terdengar tiba di lokasi dan seketika mengubah suasana menjadi tegang. Pengendara tersebut adalah RS, anak dari SS, yang langsung mengamuk dan melarang pekerja memanen lahan tersebut sembari melontarkan ancaman.
”Hei, mengapa kalian? Kenapa kalian memanen lahan? Ini lahan tante Br. Juntak (Nurminah). Awas kalian, kulaporkan kalian! Sudah banyak jatuh ya buahnya? Hitung ya, biar tahu orang ini!” tandas pemuda tersebut sembari menyuruh ayahnya menghitung buah yang sudah dipanen.
Mendengar hal itu, Rosmidawati langsung membalas, “Apa kau? Lahanmu ini? Ini lahan bapakku, bukan kau yang menanam di sini! Sebagai apa kau di sini? Lanjut memanen!”
Rosmidawati menjelaskan bahwa sosok RS adalah oknum PM yang selama ini menjadi sandaran kekuatan (beking) ayahnya. “Namanya RS, PM itu Bang. Semua orang di kampung takut dengan dia. Ayahnya selalu mengancam kami jika ingin memanen. Begitu saya memanen, anaknya datang mengusir kami,” tambahnya.
Setelah insiden tersebut, Rosmidawati membawa buah sawit yang sudah dipanen ke pengepul (toke) sawit untuk dijual. Namun ironisnya, tidak ada satu pun tengkulak di kampung tersebut yang bersedia membeli buah mereka.
Salah seorang tengkulak mengungkapkan bahwa oknum RS sebelumnya telah mendatangi mereka dan memberikan larangan.
“Bang, mohon maaf ya, bukan aku tidak mau membeli. Tadi dia (RS) datang ke sini saat orang Abang masih di sana. Katanya jangan dibeli buah kalian. Saya tidak berani membayarnya,” ungkap tengkulak tersebut saat dimintai keterangan.
Rosmeri, anak bungsu dari Hasan Basri Purba, sangat menyesalkan dan mengutuk tindakan oknum yang mengintimidasi keluarganya. Ia pun memaparkan bukti legalitas yang sah, mulai dari surat pembelian awal hingga surat pembagian harta antara ayahnya dan Nurminah Br. Juntak.
”Jika Nurminah mengeklaim lahan ini miliknya, mengapa oknum PM itu dan ayahnya yang sibuk mengancam kami dengan alasan surat kuasa? Ini masalah saya dengan Nurminah. Akibat perbuatan mereka, kami mengalami kerugian lebih dari Rp300 juta. Saya akan melaporkan kejadian ini. Semoga Tuhan membuka kebenaran dan memberikan hukuman yang setimpal bagi mereka yang telah membuat saya dan ayah saya menderita,” tegas Rosmeri.
Seorang warga sekitar yang dikonfirmasi mengenai kepemilikan lahan juga membenarkan bahwa lahan tersebut adalah milik Pak Purba. “Setahu kami itu memang milik Pak Purba, karena kami tahu semua pemanennya. Kabarnya pun pihak lawan memang berkuasa di sana, bahkan pemanen berinisial N pun takut karena sering diancam,” tutupnya.
Rijal/Tim







































