LABURA, Nasionaldetik.com
Citra Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) sebagai daerah yang peduli terhadap pendidikan kini tercoreng oleh pemandangan kumuh di salah satu institusi pendidikan terbaiknya.
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Labura, yang menyandang status sekolah unggulan, justru berubah menjadi titik penumpukan sampah yang memprihatinkan, Sabtu (20/12/2025).
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan kontras dengan label “Unggulan” yang disematkan pada sekolah tersebut. Tumpukan sampah rumah tangga dan limbah sekolah menggunung tepat di depan pintu gerbang utama. Selain merusak estetika, aroma busuk yang menyengat serta kerumunan lalat mulai meresahkan warga sekolah dan masyarakat yang melintas.
Kondisi ini bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan. Keberadaan sampah yang mulai membusuk di pintu masuk berpotensi menjadi sarang bakteri dan virus. Jika terus dibiarkan, para siswa dan tenaga pengajar berada dalam bayang-bayang risiko penyakit infeksi saluran pernapasan hingga penyakit kulit.
”Sangat mengganggu kenyamanan belajar. Baunya sampai ke dalam, apalagi kalau angin berhembus ke arah kelas. Kami khawatir ini jadi sumber penyakit buat anak-anak,” ujar salah satu warga sekitar yang melintas.
Seorang guru MAN 2 Labura yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambannya respon pihak terkait. Menurutnya, pihak sekolah tidak tinggal diam dan telah melakukan prosedur pelaporan.
”Soal sampah itu, kami sebenarnya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sejak tanggal 5 kemarin agar segera diangkut. Namun entah apa kendalanya, sampai detik ini tumpukan itu masih di sana,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Lanjutnya, pihak sekolah merasa kebingungan mengapa armada pengangkut sampah seolah “menutup mata” terhadap kondisi di sekolah unggulan tersebut, padahal koordinasi sudah dilakukan jauh-jauh hari.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Kepala Bidang (Kabid) DLH Labuhanbatu Utara, Jamil Hasibuan, yang membidangi masalah persampahan. Namun, sangat disayangkan, Jamil Hasibuan lebih memilih bungkam dan tidak memberikan klarifikasi sedikitpun terkait keterlambatan pengangkutan sampah yang sudah berlangsung selama dua pekan tersebut.
Sikap diam dari pejabat publik ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai komitmen DLH Labura dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area fasilitas pendidikan.
Masyarakat dan pihak sekolah kini mendesak agar Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Utara segera turun tangan sebelum kondisi lingkungan di MAN 2 Labura semakin memburuk dan memakan korban kesehatan.
(RijalNaibaho)







































