LABURA –Nasionaldetik.com.
Kondisi infrastruktur SMPN 2 Kualuh Hulu yang berlokasi di Desa Sono Martani, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), kini tengah menjadi sorotan tajam. Pasalnya, kondisi fisik sekolah yang memprihatinkan berbanding terbalik dengan kucuran Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOS) yang diterima sekolah tersebut(Labura 07 Januari 2026)
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (07/01/2026), kondisi bangunan sekolah tampak tidak terawat. Pemandangan paling mencolok terlihat pada tiga ruang kelas, di mana seluruh kaca jendela bagian belakang dalam keadaan pecah total.
Kerusakan ini disinyalir telah berlangsung lama dan sangat mengganggu kenyamanan serta konsentrasi siswa dalam proses belajar mengajar.
Dugaan adanya praktik “penyunatan” atau penyimpangan dana menguat setelah menilik data resmi. Berdasarkan laman Kemendikbud melalui aplikasi OMSPAN yang dipublikasikan Kemenkeu, SMPN 2 Kualuh Hulu tercatat mengalokasikan anggaran untuk komponen Pemeliharaan Sarana dan Prasarana (Sapras) sepanjang tahun 2024 hingga 2025 dengan total mencapai kurang lebih Rp127.544.980.
Angka yang menyentuh ratusan juta tersebut dinilai sangat janggal jika melihat realitas di lapangan. Hingga saat ini, kerusakan kategori sedang seperti kaca pecah dan fasilitas lainnya justru dibiarkan terbengkalai tanpa ada perbaikan nyata.
Sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) BOS, anggaran tersebut seharusnya diperuntukkan secara transparan untuk:
Pengadaan buku dan alat tulis.
Pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah.
Kegiatan operasional pendidikan.
Honorarium guru non-ASN.
”Negara sudah menyiapkan dana yang cukup besar agar orang tua siswa tidak lagi terbebani dan fasilitas sekolah memadai. Jika dana itu ‘dibegal’ oleh oknum tidak bertanggung jawab, maka ini adalah pengkhianatan terhadap dunia pendidikan,” ungkap salah satu pengamat kebijakan publik Labura.
Masyarakat dan orang tua murid kini mempertanyakan di mana keberadaan dana seratus juta rupiah lebih yang diklaim untuk Sapras tersebut. Muncul dugaan kuat bahwa ada oknum yang sengaja memanipulasi laporan penggunaan dana untuk kepentingan pribadi.
Kehadiran Media pada tanggal 07 Jqnuari 2026 di SMP NEGERI 2 Kualuh Hulu untuk lakukan Konfirmasi dengan Kasek tidak membuahkan hasil. Bahkan saat bendahara ditanyakan kepada salah satu Guru mengatakan juga tidak di Tempat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepala Sekolah SMPN 2 Kualuh Hulu belum memberikan klarifikasi resmi terkait alasan tidak terserapnya dana Sapras untuk perbaikan fisik bangunan yang rusak parah tersebut.
(Rijal Naibaho)







































