Membumikan Dalailul Khairat: Turats Wa Tajdid ala KH Imam Jazuli

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:30 WIB

5065 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Cirebon, 19 Agustus 2026
Oleh Prof. DR. Hj. Yayah Nurlaela, MA.

Nasionaldetik.com,— Sebagai salah satu peserta yang berkesempatan hadir langsung dalam Majelis Ijazah Dalailul Khairat Angkatan ke-21, saya merasa tergetar sekaligus menaruh rasa hormat yang sangat mendalam. Pengalaman spiritual ini seketika membongkar dua stereotip “paten” yang selama ini membelenggu benak publik: bahwa sosok kritis-progresif selalu jauh dari amalan tirakat, dan bahwa pengamal tirakat selalu identik dengan keterasingan zaman serta kehidupan serba papa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di hadapan KH Imam Jazuli, dogmatisme itu runtuh secara amat elegan. Beliau menghadirkan artikulasi spiritualitas yang tidak hanya menyentuh relung kalbu, tetapi juga membanggakan secara intelektual. Amalan tirakat shiyam dan Kitab Dalailul Khairat—mahakarya shalawat Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli abad ke-15—yang saya terima sanadnya, bukan sekadar lantunan teks ritual. Ia hadir sebagai benteng spiritual Nusantara yang diampu dengan cara yang luar biasa bermartabat.

Kehadiran saya di tengah ribuan jamaah angkatan ke-21 membuktikan bahwa konservasi tradisi salaf di tangan KH Imam Jazuli tidak berhenti pada nostalgia pesantren, melainkan melesat menjadi sebuah gerakan ihya’ut turats yang segar, ilmiah, dan penuh keagungan.

Angka-angka menjadi saksi bisu dari gerakan ini. Hingga angkatan ke-21, lebih dari 60.000 pengamal yang tersebar dari berbagai kota dan wilayah telah mengikatkan sanad shalawat ini. Setiap angkatan menghimpun sekitar 3.000 jamaah dalam satu majelis pengijazahan yang masif.

Namun, hal paling memikat bukanlah jumlah pengamalnya, melainkan kemasan pendekatannya yang berani. Pengijazahan tidak digelar di lorong-lorong sempit, melainkan selalu di hotel berbintang terbaik di Cirebon. Ini bukan bentuk hedonisme, melainkan penegakan kemuliaan (izzah) bagi tradisi keilmuan Islam.

Sebelum kalimat ijazah diikrarkan, jamaah dibekali dengan riset akademis dan pemaparan mendalam. Tradisi dikaji secara ilmiah, dipadukan dengan kehadiran para pakar dan pendakwah ternama Tanah Air. Turats tidak lagi diajarkan secara dogmatis, melainkan melalui dialektika intelektual yang bernas.

Hebatnya lagi, seluruh fasilitas ini diberikan secara gratis. KH Imam Jazuli membalik pola lama: bukannya mengambil keuntungan dari jamaah, sang mujiz justru menjadi pilar utama yang membagikan infak, memuliakan tamu, dan menggratiskan akomodasi kelas atas bagi para pencari ridho Ilahi.

Inilah tajali dari konsepsi Turats wa Tajdid (Tradisi dan Pembaruan). Sebuah perpaduan antara kesucian ajaran klasik dan kemodernan strategi peradaban. Kiai Imam Jazuli membuktikan bahwa menghidupkan turats (ihya’ut turats) tidak harus mengasong kemiskinan.

Sufisme autentik bukan tentang memakai jubah kusam di tengah kegelapan, melainkan membawa cahaya spiritual ke tempat terdepan dengan kemuliaan tertinggi. Di sana, di antara karpet tebal ballroom dan lantunan shalawat yang mengangkasa, sebuah pesan tegas disampaikan: amalan ulama salaf adalah warisan agung yang layak dirayakan dengan cara paling terhormat.

Gerakan ini mengajarkan bahwa spiritualitas tak pernah berbenturan dengan kesejahteraan. Menjadikan ruang-ruang modern sebagai tempat munajat adalah pesan simbolis: warisan ulama salaf Nusantara tak boleh terpinggirkan, melainkan harus berdiri tegak di panggung paling bermartabat.

Tasawuf modern bukanlah tentang melarikan diri dari dunia, melainkan menguasai dunia tanpa membiarkannya meracuni hati. Ketika sang mujiz membagikan infak dan membebaskan seluruh biaya jamaah, di situlah hakikat zuhud sejati dipraktikkan: memberi dampak nyata tanpa sedikit pun mengkomersialkan agama.

Sanad Dalailul Khairat yang menyambung hingga kiai khos Nusantara ini bukan sekadar warisan sejarah, melainkan benteng moral bangsa. Melalui pemaparan berdasar riset akademis, tradisi salaf ini dipagari dari erosi zaman dan tuduhan dangkal, membuktikan bahwa spiritualitas klasik sangat rasional dan relevan.

Oleh karena itu, KH Imam Jazuli tidak hanya mewariskan tirakat dan bait-bait shalawat, tetapi sedang membangun peradaban baru. Sebuah pembuktian bernas bahwa ketika turats dirawat dengan nalar ilmiah, kemandirian finansial, dan pemuliaan jamaah, keagungan Islam Nusantara akan terus menyala—melewati batas-batas zaman tanpa pernah kehilangan jiwanya. Wallahu’alam bishowab.

Guru Besar Psikologi Pendidikan, UIN Syekh Nurjati Cirebon & Peserta Ijazah Kubro Dalailul Khairat Angkatan ke- 21.

Tim Redaksi

Berita Terkait

Betonisasi RW 17 Kuta Bumi Disorot, Ketebalan Diduga Kurang dari 20 Sentimeter
Pengeroyokan Jurnalis di PT SSM Lambat Ditangani: Kinerja Polres Aceh Singkil Disorot Tajam, Divisi Propam Mabes Polri Didesak Turun Tangan
Rekam Jejak Kasat Reskrim Polres Muratara
*Tankos dan Solid Sawit, Alternatif Solusi Jangka Panjang Karhutla*
Babinsa Koramil 02/Sidikalang Pantau Aksi Pedagang Pasar, Tuntutan Kenaikan ILP Berujung Musyawarah
Babinsa Koramil 07/Salak Ajak Linmas dan Perangkat Desa Perkuat Deteksi Dini, Keamanan Desa Jadi Perhatian Bersama
Babinsa Koramil 04/Tigalingga Pantau Penyaluran BLT-DD Tahap III di Desa Palding
Cegah Karhutla Sejak Dini, Babinsa Parongil Sisir Ladang dan Ingatkan Petani Tak Bakar Lahan

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 00:18 WIB

Betonisasi RW 17 Kuta Bumi Disorot, Ketebalan Diduga Kurang dari 20 Sentimeter

Selasa, 8 September 2026 - 22:40 WIB

Pengeroyokan Jurnalis di PT SSM Lambat Ditangani: Kinerja Polres Aceh Singkil Disorot Tajam, Divisi Propam Mabes Polri Didesak Turun Tangan

Selasa, 8 September 2026 - 21:14 WIB

Rekam Jejak Kasat Reskrim Polres Muratara

Selasa, 8 September 2026 - 20:46 WIB

*Tankos dan Solid Sawit, Alternatif Solusi Jangka Panjang Karhutla*

Selasa, 8 September 2026 - 20:30 WIB

Babinsa Koramil 07/Salak Ajak Linmas dan Perangkat Desa Perkuat Deteksi Dini, Keamanan Desa Jadi Perhatian Bersama

Selasa, 8 September 2026 - 20:23 WIB

Babinsa Koramil 04/Tigalingga Pantau Penyaluran BLT-DD Tahap III di Desa Palding

Selasa, 8 September 2026 - 20:17 WIB

Cegah Karhutla Sejak Dini, Babinsa Parongil Sisir Ladang dan Ingatkan Petani Tak Bakar Lahan

Selasa, 8 September 2026 - 10:48 WIB

Sinergi Lintas Institusi Percepat Penanganan Karhutla di Desa Penusupan, Pangkah

Berita Terbaru

NASIONAL

Rekam Jejak Kasat Reskrim Polres Muratara

Selasa, 8 Sep 2026 - 21:14 WIB