Wahyudi El Panggabean Imbau Insan Pers Nasional Segera Adaptasi AI dan Perkuat Kompetensi

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:28 WIB

5049 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasional detik.com,PEKANBARU — Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa gelombang perubahan besar pada lanskap media global. Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., CPCT., mengeluarkan imbauan keras kepada segenap insan pers di tanah air untuk segera melipatgandakan semangat belajar dan beradaptasi agar eksistensi profesi tidak tergilas zaman.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Wahyudi saat menerima kunjungan sejumlah pemimpin redaksi media di kediamannya, Pekanbaru, Rabu (1/7/2026).

Wahyudi, yang telah lebih dari 40 tahun menekuni dunia jurnalistik sekaligus menjabat sebagai Anggota Dewan Kehormatan Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Pekanbaru, menilai bahwa teknik jurnalistik dalam lima tahun terakhir telah mengalami lompatan eksponensial yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kehadiran generative AI kini menuntut standardisasi keahlian baru bagi seorang jurnalis.

“Kita sedang menghadapi titik balik sejarah pers. Saat ini telah terjadi pergeseran metodologi kerja yang sangat masif. Pilihan kita hanya dua: beradaptasi dengan belajar lebih giat untuk menguasai teknologi ini, atau menolak berubah lalu perlahan-lahan tergilas dan hilang dari industri,” ujar tokoh yang juga dikenal produktif sebagai penulis belasan buku jurnalistik tersebut di hadapan para pemred.

Wahyudi menjabarkan bahwa aspek mendesak yang harus segera dikuasai oleh para jurnalis saat ini meliputi literasi perangkat AI (prompt engineering), metode verifikasi tingkat lanjut (advanced fact-checking), serta pemahaman komprehensif terhadap regulasi pers digital. Kendati demikian, ia mengingatkan agar adopsi teknologi ini tidak melanggar rambu-rambu etis.

“AI mutlak diposisikan sebagai instrumen akselerasi riset, seperti merangkum dokumen hukum yang tebal atau memetakan big data. Namun, jurnalis tidak boleh malas. Hasil olahan mesin wajib diuji akurasinya karena AI rawan mengalami halusinasi informasi. Jangan sampai proses penyuntingan kehilangan prinsip human oversight atau pengawasan manusia,” tegas praktisi senior yang telah melatih ribuan jurnalis lewat PJC selama dua dekade terakhir ini.

Lebih lanjut, berbekal pengalamannya yang matang di dunia pers dan hukum, Wahyudi menggarisbawahi bahwa secanggih apa pun algoritma AI, ada batas-batas humanis dalam profesi pers yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh baris kode komputer.

“Mesin tidak dibekali nurani, tidak memiliki kode etik, dan tidak mempunyai hunting instinct atau naluri berburu berita di lapangan. AI tidak akan pernah bisa membangun hubungan emosional yang intim dengan narasumber saat wawancara mendalam (in-depth interview). Keunggulan otentik manusia itulah yang harus kita pertajam,” tambahnya.

Mengakhiri pertemuan tersebut, Wahyudi mendesak seluruh perusahaan pers dan lembaga pelatihan untuk segera merevitalisasi kurikulum pendidikan jurnalistik mereka agar selaras dengan kebutuhan era disrupsi. Sinergi antara kecakapan teknologi dan integritas moral dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga marwah pers sebagai pilar keempat demokrasi.

Berita Terkait

Seru dan Hangat Nobar Perempat Final Piala Dunia 2026 di Wilayah Kodim 0210/TU, Argentina Taklukan Swiss
Babinsa Koramil 04/Tigalingga Bangkitkan Kepedulian Warga Lewat Gotong Royong Bersihkan Lingkungan
Babinsa Koramil 03/Parongil Dampingi Petani Rawat Jagung, Bukti Pendampingan Tak Hanya Sekadar Imbauan
Mantan Ketua PC PPM Kota Pekanbaru Soroti Pelaksanaan Musda VIII PPM Riau, Minta Evaluasi dan Rekonsiliasi Organisasi
Dinilai Tidak Transparan, Proyek Publikasi DPRD Indramayu Senilai Ratusan Juta Diduga Bermasalah
Diduga Tempat Prostitusi di Kelurahan Kertosari Jadi Sorotan, Publik Minta APH dan Satpol PP Segera Bertindak
SEMA PTKIN Se-Indonesia: Independensi Penegakan Hukum Menjadi Kunci Sukses Pemberantasan Korupsi
INDIKASI PERSEKONGKOLAN ANTARA APH DAN PENADAH: Penangkapan Dua Warga Dipertanyakan, Pemimpin Redaksi Nasionaldetik.com Soroti Netralitas Kepolisian!

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 11:44 WIB

Seru dan Hangat Nobar Perempat Final Piala Dunia 2026 di Wilayah Kodim 0210/TU, Argentina Taklukan Swiss

Minggu, 12 Juli 2026 - 05:00 WIB

Babinsa Koramil 03/Parongil Dampingi Petani Rawat Jagung, Bukti Pendampingan Tak Hanya Sekadar Imbauan

Minggu, 12 Juli 2026 - 01:02 WIB

Mantan Ketua PC PPM Kota Pekanbaru Soroti Pelaksanaan Musda VIII PPM Riau, Minta Evaluasi dan Rekonsiliasi Organisasi

Sabtu, 11 Juli 2026 - 22:06 WIB

Dinilai Tidak Transparan, Proyek Publikasi DPRD Indramayu Senilai Ratusan Juta Diduga Bermasalah

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:48 WIB

Diduga Tempat Prostitusi di Kelurahan Kertosari Jadi Sorotan, Publik Minta APH dan Satpol PP Segera Bertindak

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:44 WIB

SEMA PTKIN Se-Indonesia: Independensi Penegakan Hukum Menjadi Kunci Sukses Pemberantasan Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:11 WIB

INDIKASI PERSEKONGKOLAN ANTARA APH DAN PENADAH: Penangkapan Dua Warga Dipertanyakan, Pemimpin Redaksi Nasionaldetik.com Soroti Netralitas Kepolisian!

Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:37 WIB

TANGKAP…!!! Terkait Kejanggalan Pengelolaan Barang Bukti dalam Kasus Yogi dan Memo

Berita Terbaru