Partai politik kerap dipandang dengan sinisme. Bagi sebagian masyarakat, politik identik dengan kepentingan, perebutan kekuasaan, bahkan dianggap sebagai jalan yang penuh kompromi dan intrik. Namun, memandang politik semata-mata sebagai sesuatu yang kotor adalah cara pandang yang terlalu sederhana terhadap realitas demokrasi.
Partai politik pada hakikatnya bukanlah jalan yang kotor. Ia merupakan salah satu instrumen penting dalam kehidupan demokrasi, tempat gagasan, aspirasi dan kepentingan masyarakat diperjuangkan melalui mekanisme politik yang sah.
Yang menentukan bersih atau kotornya politik bukan semata-mata wadahnya, melainkan perilaku orang-orang yang berada di dalamnya.

Seorang kader tidak seharusnya kehilangan idealisme hanya karena memasuki dunia politik. Justru politik membutuhkan orang-orang yang mampu membawa nilai, etika dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat. Kekuasaan semestinya dipandang sebagai amanah untuk bekerja, bukan kesempatan untuk memperkaya diri atau membangun pengaruh pribadi.
Menjadi bagian dari partai politik juga bukan berarti harus kehilangan sikap kritis. Loyalitas terhadap organisasi tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran terhadap setiap keputusan. Sebaliknya, kader yang memiliki integritas harus mampu memberikan pandangan, mengingatkan ketika terjadi kekeliruan, serta tetap menjaga kepentingan publik sebagai orientasi utama.
Politik akan menjadi kotor ketika kepentingan pribadi ditempatkan di atas kepentingan rakyat. Politik akan kehilangan martabat ketika jabatan diperlakukan sebagai tujuan akhir. Namun politik dapat menjadi jalan pengabdian ketika kekuasaan digunakan untuk memperjuangkan keadilan, membuka ruang partisipasi dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, generasi muda tidak seharusnya alergi terhadap politik. Justru diperlukan lebih banyak anak muda yang berani masuk, belajar, berproses dan membawa perubahan dari dalam.
Partai politik bukan jalan yang kotor. Yang harus dibersihkan adalah cara berpikir, perilaku dan praktik politik yang menyimpang dari nilai-nilai pengabdian.
Pada akhirnya, politik adalah pilihan jalan. Ia bisa menjadi jalan menuju kepentingan pribadi, tetapi juga bisa menjadi jalan pengabdian kepada masyarakat.
Pilihan itu berada di tangan setiap orang yang menjalaninya.
— Wawan Setiadi



























