PNIB : MBG Program Bantuan Sosial, Jangan Lagi Memangkas Anggaran Pendidikan dan Kesehatan

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Minggu, 15 Februari 2026 - 07:43 WIB

50151 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Nasionaldetik.com,—- 15 Februari 2026
Dana Pendidikan Nasional yang menyedot 20% dari APBN ditujukan untuk memajukan anak bangsa melalui bangku sekolah dan perguruan tinggi. Sesuai UUD 45 pasal 32 bahwa setiap warga negara berhak dan wajib mendapat Pendidikan Dasar dan pemerintah wajib membiayainya adalah amanat konstitusi. Pembiayaan Pendidikan yang kemudian beralih alokasi sebagian menjadi pembiayaan Makan Bergizi Gratis adalah kebijakan yang menyalahi UUD 45

“MBG itu program kebijakan bantuan sosial kepada pelajar dalam bentuk pemberian makanan bergizi. Jika anggaran pembiayaannya kemudian diambil dari dana Kesehatan dan Pendidikan, maka masyarakat mempertanyakan bagaimana menutup kekurangan dana Kesehatan dan Pendidikan yang jumlahnya triliunan?” ungkap Gus Wal (AR Waluyo Wasis Nugrogo) selaku ketua umum ormas Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) mengomentari kebijakan anggaran yang menyita perhatian publik

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut pria yang akrab disapa Gus Wal tersebut besarnya dana APBN untuk Kesehatan dan Pendidikan bukan sebuah pemborosan, namun luasnya wilayah Indonesia dan jutaan guru dan siswa serta tenaga medis sekaligus fasilitas kesehatan adalah tanggung jawab mutlak Pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta menjamin kesehatan rakyat.

“Anggaran besar Rp769,09 triliun untuk Pendidikan itu masih menyisakan ketimpangan, masih banyak ribuan guru honorer bergaji 350 ribu / bulan. Tugas mereka mencerdaskan bangsa ada di pundaknya, namun kesejahteraan mereka jauh dari ukuran layak. Memangkas anggaran Kesehatan dan Pendidikan untuk program MBG dampaknya pada tenaga pendidik dan tenaga kesehatan beserta fasilitas kesehatan akan semakin terabaikan? MBG itu program Sosial bukan program Pendidikan meskipun obyek penyalurannya ada di siswa dan sekolah” lanjut Gus Wal.

Fenomena anak putus sekolah dan siswa bunuh diri karena tidak bisa membeli alat tulis menjadi bukti nyata bahwa perhatian kepada dunia Pendidikan belum adil dan merata. Mereka yang berada di pelosok dengan segala keterbatasan masih jauh pelayanan fasilitas Pendidikan dibanding dengan yang tinggal di kota.

“Persoalan pelajar bukan hanya meningkatkan gizi, tetapi kesamaan hak mendapatkan layanan Pendidikan layak yang seharusnya difokuskan. Fakta siswa di NTT yang bunuh diri terungkap bahwa termasuk keluarga tidak mampu yang tidak mendapatkan fasilitas bantuan dana Pendidikan. Tunggakan uang sekolah sebesar 1,2 juta rupiah bukan tidak mau membayar, tetapi tidak ada apapun yang dipunyai untuk membayar. Di sinilah negara seharusnya tidak terlambat hadir, menjadi ironis saat viral di media baru pemerintah mengakui ada korban dari kesalahan sistim keadilan” papar Gus Wal panjang lebar.

Kebijakan yang kurang tepat sasaran selalu berdampak di tempat-tempat yang jauh dari jangkauan perhatian. Program MBG yang bagus namun tidak tepat alokasi pembiayaannya akan mengganggu alokasi anggaran bidang lain.

“Jangan hanya karena ambisi program baru harus mengorbankan biaya pendidikan dan kesehatan yang jauh lebih penting daripada proyek MBG. Kita bisa menjadi pejabat, pengusaha, professor, sarjana karena ada sekolah. Dan pendidikan tanpa pengajar yang layak kesejahteraannya akan melahirkan generasi peminta-minta. Masa depan bangsa dipertaruhkan dalam dunia pendidikan, urusan peningkatan gizi serahkan kepada orang tua mereka masing-masing dengan bantuan sosial bagi yang tidak mampu. Yang pasti jangan bercampur aduk dengan urusan Pendidikan” himbau Gus Wal di akhir pernyataannya.

Tim Redaksi

Berita Terkait

SKANDAL MIRAS BANYUWANGI: Toko Berkedok Minimarket Jual Alkohol Kadar Tinggi ke Pelajar, Di Mana Aparat?
Optimalkan Layanan, Dishub Pastikan Arus Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk Tetap Mengalir
Banyuwangi Lumpuh! Antrean Watudodol Tembus 30 KM, Dishub Dinilai Lamban Antisipasi Krisis Penyebrangan
Diduga Jadi Korban Fitnah dan Intimidasi, Indra Minta Polisi Bertindak Tegas
Mengaku Aktivis Filsafat, Pernyataan Raden Teguh Dinilai Menyinggung Profesi Jurnalis dan Mendegradasi Kerja Media
FANTASTIS…!!! Angka Kemiskinan Banyuwangi Turun Minim, CBA Soroti Anggaran Sewa Alphard Setda Rp2,7 Miliar
CBA Bongkar Dugaan Keterlibatan Bupati Banyuwangi di Tambang Tumpang Pitu dan Skandal Pengadaan Laptop
RSUD Blambangan Mengukir Sejarah: “Janji Cinta” Ubah Kelor Jadi Emas Hijau Banyuwangi

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:21 WIB

OBJEK PBB P2 DIDUGA KUAT MASUK KAWASAN HUTAN, BAPENDA LAMBAR : “KAMI TIDAK TAHU!”

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:14 WIB

JIKA INDONESIA INGIN MAJU, BELAJARLAH DARI NEGARA YANG SUDAH MAJU, PESAN KIAI IMAM JAZULI MELEPAS 300 SANTRI KE CHINA

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:10 WIB

Pemuda dan Mahasiswa Dorong Transparansi dan Akuntabilitas Program MBG Melalui Diskusi Publik di Banten

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:06 WIB

Kemenduk Bangga/BKKBN Banten Peringati Satu Tahun Program TAMASYA

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:55 WIB

Sertipikat Tanah Hilang? Berikut Panduan Cara Mengurusnya

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:51 WIB

Jadi Simbol Nilai Luhur, Kementerian ATR/BPN Laksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:46 WIB

Kodim 0206/Dairi Rampungkan Rehabilitasi Jembatan Gantung di Pakpak Bharat

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:43 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Babinsa Bantu Pascapanen Jagung Milik Petani di Pakpak Bharat

Berita Terbaru