Nasionaldetik.com,– 31 Maret 2026 Jalur logistik utama yang menghubungkan Jawa dan Bali melalui kawasan Watudodol hingga Ketapang mengalami kelumpuhan total sejak Selasa dini hari (31/03). Kemacetan horor yang mengular hingga 30 kilometer ini memicu gelombang protes dari para pengemudi yang terjebak tanpa kepastian selama belasan jam.
Ratusan pengemudi bus (salah satunya Mas Polo dari bus Jatimtrans), truk logistik, dan personel Kepolisian Banyuwangi.
Kemacetan ekstrem sepanjang 30 KM yang mengakibatkan arus lalu lintas tidak stabil dan cenderung mandek total.
Kawasan Watudodol hingga Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Bermula sejak pukul 01.00 WIB dini hari dan masih berlangsung hingga saat ini.
Diduga akibat ketidakseimbangan antara volume kendaraan dengan jumlah kapal penyebrangan yang beroperasi, diperparah dengan manajemen pengaturan lalu lintas yang dinilai belum efektif.
Para sopir tertahan di jalur utama, membuang waktu operasional dan biaya logistik, sementara koordinasi di lapangan dianggap tidak memberikan solusi instan.
Suara dari Aspal: Kekecewaan Sopir
Mas Polo, pengemudi bus Jatimtrans, menyatakan kekecewaan mendalam atas lambannya penanganan krisis ini. Menurutnya, keberadaan petugas kepolisian di lapangan belum mampu menstabilkan arus karena pangkal persoalan berada pada kapasitas penyebrangan.
“Kami kecewa berat. Kemacetan terus memanjang dan tidak ada pergerakan berarti. Seharusnya pemerintah segera menambah armada kapal. Kalau begini terus, kami yang di lapangan yang habis (rugi waktu dan biaya),” cetus Mas Polo.
Kritik Terhadap Dinas Perhubungan
Situasi ini memicu kritik tajam terhadap Dinas Perhubungan (Dishub) Banyuwangi yang dinilai kurang tanggap dalam melakukan mitigasi bencana kemacetan. Desakan untuk segera menambah armada kapal penyebrangan menjadi harga mati agar kondisi kembali normal.
Kelumpuhan ini bukan sekadar masalah lalu lintas, melainkan cerminan lemahnya koordinasi antara otoritas pelabuhan dan pemerintah daerah dalam mengantisipasi lonjakan kendaraan di jalur vital nasional tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan konkret dari Dishub Banyuwangi terkait penambahan frekuensi pelayaran atau skema darurat lainnya. Publik menunggu langkah nyata, bukan sekadar imbauan, demi memulihkan urat nadi ekonomi di jalur Watudodol-Ketapang
Tim Redaksi







































