Jakarta, nasionaldetik.com
Di balik hiruk-pikuk jalur Pantura Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terselip sebuah kisah tentang keteguhan warga biasa yang memilih jalan berliku sebagai penyambung lidah kaum akar rumput.
Supriyono, atau yang lebih akrab disapa Mas Botok, mendadak menjadi perbincangan hangat di ruang publik nasional setelah memimpin gelombang massa mendatangi jantung kekuasaan di ibu kota.
Sebagai Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), langkah Mas Botok jauh dari kesan birokratis maupun elite politik. Kesehariannya diwarnai oleh interaksi langsung dengan denyut kehidupan masyarakat bawah, yang kemudian membentuk karakternya menjadi sosok vokal dalam mengkritik kebijakan pemerintah daerah.
Ketika nurani kolektif warga merasa terabaikan oleh kebijakan publik, Botok tidak memilih diam; ia berdiri di garis depan mengorganisasi perlawanan damai.
Puncak dari eskalasi gerakan yang dipimpinnya terjadi ketika ia membawa massa AMPB melintasi ratusan kilometer menuju Kompleks Parlemen di Senayan, Jakarta.
Di hadapan Gedung DPR RI, derap langkah kaki para pengunjuk rasa menyuarakan agenda nasional yang tajam: mendesak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi para pelaku korupsi.
Bagi Botok, isu-isu tersebut bukan sekadar wacana di menara gading, melainkan cerminan keadilan substansial yang dirindukan rakyat kecil.
Namun, jalan seorang aktivis kerap diuji dengan turbulensi birokrasi dan hukum. Nama Mas Botok kembali mencuri perhatian ketika rekening bank miliknya —yang memuat dana pribadi sekaligus himpunan donasi untuk keperluan aksi massa— tiba-tiba mengalami pemblokiran oleh pihak perbankan atas permintaan aparat penegak hukum.
Polemik keuangan ini sempat memantik tanda tanya luas dari publik ihwal transparansi dan pembatasan ruang gerak aktivisme sosial.
Lintasan hidup Supriyono alias Mas Botok merekam potret nyata dinamika demokrasi di tingkat lokal hingga nasional.
Dari sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa, ia membuktikan bahwa kegelisahan warga biasa, apabila disuarakan dengan konsistensi, mampu menembus pagar-pagar gedung parlemen dan menggema di ruang publik.
Hidup Pati! Hidup Mas Botok!!
***





























