Kiai Imam Jazuli dan Ketua MPR Ahmad Muzani Serukan Transformasi Pesantren di Indonesia

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:16 WIB

5018 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Nasionaldetik.com,— 28 Juli 2026
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa transformasi pesantren bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman.

Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-12 yang digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon (24/7/2026).

Workshop yang digagas KH Imam Jazuli tersebut merupakan bagian dari program besar untuk membekali 5.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia, sebuah forum strategis yang mempertemukan para pengasuh pesantren untuk memperkuat sinergi dalam membangun transformasi pendidikan Islam yang adaptif, berkualitas, dan berdaya saing.

“Kami menyambut baik langkah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia ini. Mudah-mudahan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, pesantren-pesantren akan menjadi rujukan bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia yang membanggakan,” kata Ahmad Muzani dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, workshop yang diikuti 308 pengasuh pesantren dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera itu menjadi ikhtiar penting agar pesantren mampu membaca perubahan zaman yang dipengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi.

“Karena itu, pondok pesantren juga harus menyesuaikan berbagai macam kemajuan, perubahan, inovasi, dan transformasi menjadi sebuah keharusan,” tegasnya.

Pesantren Harus Melahirkan Solusi bagi Masyarakat
Pesantren telah lama menjadi pilar penting dalam membentuk karakter, akhlak, serta semangat kebangsaan.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, pesantren dituntut tidak hanya menjaga nilai-nilai keislaman yang luhur, tetapi juga mampu berinovasi dalam tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

Ahmad Muzani menilai Pesantren Bina Insan Mulia telah menunjukkan contoh nyata bagaimana transformasi dapat dilakukan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Karena itu, ia mengajak para kiai mempelajari model pengelolaan pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Pesantren BIMA ini adalah contoh bagaimana perubahan-perubahan itu dilakukan. Karena itu cara berpikir bagaimana perubahan itu dilakukan akan dibedah dalam workshop hari ini,” ujarnya.

Di hadapan para pengasuh pesantren yang membina antara 100 hingga 3.000 santri, Ketua MPR menekankan bahwa lulusan pesantren harus mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan kiai untuk mengajarkan ilmu agama, tetapi juga tempat bertanya mengenai persoalan kehidupan, mulai dari pertanian, peternakan hingga peluang usaha.

“Setelah lulus pesantren, para santri harus menjadi solusi atas problem kehidupan di masyarakat, bukan sebatas ngajar ngaji saja,” katanya.

Ia juga mengajak pesantren memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana belajar, berinovasi, berwirausaha, sekaligus membuka peluang ekonomi.

“Dari handphone seseorang bisa mendapatkan solusi, promosi, inspirasi, dan transaksi. Handphone harus dijadikan sumber rezeki dan inspirasi,” tambahnya.

Kiai Imam Jazuli: Pesantren Harus Mencetak Pemimpin Bangsa
Dalam sambutannya, KH Imam Jazuli menegaskan bahwa transformasi pesantren merupakan investasi besar bagi masa depan Indonesia.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah peserta didik usia SD hingga SMA yang memilih pendidikan pesantren masih relatif kecil, yakni sekitar 3–5 persen dari total 53,9 juta pelajar nasional.

“Lewat kegiatan ini saya mengajak para pengasuh pesantren untuk menciptakan daya tarik yang kuat bagi generasi Indonesia untuk masuk pesantren,” ujarnya.

Kiai Imam menilai pesantren harus mulai berlomba menghasilkan lulusan yang mampu mengisi posisi-posisi strategis dalam pembangunan nasional.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak alumni pesantren yang menjadi pemimpin birokrasi, profesional, akademisi, maupun pengambil kebijakan.

“Lulusan pesantren yang jadi kiai, ustaz, atau dai sudah terlalu banyak. Sementara di bidang lain yang sangat dibutuhkan Indonesia justru masih sangat sedikit. Ke depan pesantren harus melahirkan banyak pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini” katanya.

Ia bahkan mengaku sering menanyakan kepada para menteri mengenai jumlah alumni pesantren yang menduduki jabatan eselon I dan II di kementerian.

“Jawabannya sedikit sekali. Saya pernah diminta mencarikan pejabat yang pernah mondok untuk sejumlah posisi strategis di BUMN, saya kesulitan. Kalau mencari calon komisaris banyak,” ujarnya yang disambut tawa peserta.

Transformasi Total untuk Masa Depan Indonesia
Kiai Imam menegaskan bahwa masyarakat pesantren tidak cukup hanya mengkritik berbagai persoalan bangsa, tetapi juga harus menghadirkan solusi melalui penciptaan sumber daya manusia unggul.

“Solusi yang perlu kita tempuh adalah melakukan transformasi total. Takut istri itu tidak apa-apa bagi para kiai, tapi yang penting jangan sampai takut melakukan perubahan transformasi,” ucapnya disambut gelak tawa peserta.

Ia menjelaskan, materi workshop tidak hanya berisi motivasi, tetapi juga strategi praktis, rencana aksi, serta pendampingan implementasi transformasi pesantren.

Kiai Imam turut membagikan pengalaman Pesantren Bina Insan Mulia dalam mengantarkan santri memperoleh beasiswa dan kerja sama pendidikan di 16 negara, serta keberhasilan alumninya menembus berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Selain itu, ia mengungkapkan rencana menggelar workshop lanjutan bagi para dermawan dan pejabat yang ingin membangun pesantren modern dan berdaya saing.

Target 5.000 Pengasuh Pesantren Hampir Tercapai
Ketua panitia, Ubaydillah Anwar, mengatakan seluruh kebutuhan peserta workshop, mulai dari transportasi, akomodasi hotel, konsumsi hingga layanan antar-jemput bandara, ditanggung sepenuhnya oleh Imjaz Foundation.

Menurutnya, program yang berlangsung sejak Juni itu telah mencapai sekitar 80 persen dari target 5.000 pengasuh pesantren.

“Sisanya tinggal wilayah Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur,” ujar Ubaydillah.

Workshop berlangsung selama 14 jam, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ditutup dengan pengijazahan Dalailul Khairat oleh KH Imam Jazuli, kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Tim Redaksi

Berita Terkait

Kiai Imam Jazuli dan Ketua MPR Ahmad Muzani Serukan Transformasi Pesantren di Indonesia

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:49 WIB

SENYAP 08 BANTEN Minta Aparat Polres Tangsel, yang diduga melakukan Peredaran & Penyalahgunaan Narkoba  diberhentikan dari Dinas Kepolisian.

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:25 WIB

Garam Beryodium Jadi Garda Terdepan Cegah Stunting dan Kematian Ibu, Kalibakung Perkuat Edukasi Kesehatan Masyarakat

Senin, 27 Juli 2026 - 19:59 WIB

25 Daerah Terdampak Kemarau, Jateng Sudah Salurkan 6,8 Juta Liter Air Bersih

Senin, 27 Juli 2026 - 19:32 WIB

Dua Jenazah Misterius Belum Teridentifikasi, RSUD Bob Bazar Buka Konfirmasi Hingga 3 Agustus

Senin, 27 Juli 2026 - 19:20 WIB

Polisi Antar Langsung Motor Curian ke Warung Korban, Pedagang Buah di Candipuro Tersenyum Lega

Senin, 27 Juli 2026 - 12:22 WIB

Dr.Purwanto Yudhonagoro deklarasikan Barisan Relawan Cinta Tanah Air,Siap kawal program pemerintah

Senin, 27 Juli 2026 - 09:29 WIB

PPTQ As-sahil Gelar Seminar : Menjadi Santri Masa Depan, Menyatukan Ilmu, Nasionalisme, Relasi, dan Jiwa Kepemimpinan

Senin, 27 Juli 2026 - 09:16 WIB

Lomba Burung Berkicau Piala Bupati Cup Semarakkan HUT ke-19 Kabupaten Pesawaran

Berita Terbaru