Labuhanbatu Utara Siaga! Dinas di Labura Diguncang Dugaan Pungutan Liar TKS Diancam Kontrak Diputus Jika Tak Setor RP10 Juta.

NUR KENNAN BR TARIGAN

- Redaksi

Jumat, 17 Oktober 2025 - 11:14 WIB

50138 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Labuhanbatu Utara,Nasionaldetik.com

— Sebuah skandal dugaan pungutan liar (pungli) yang melibatkan pemerasan terhadap Tenaga Kerja Sukarela (TKS) mencuat dan mengguncang salah satu dinas di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura). Puluhan TKS di dinas tersebut diduga menjadi korban tekanan sistematis untuk membayar sejumlah uang besar demi perpanjangan kontrak kerja mereka.

​Dugaan praktik kotor ini terkuak setelah salah seorang TKS yang keberatan mengungkapkan rincian pemerasan yang mereka alami. Sumber anonim tersebut menyatakan bahwa untuk dapat melanjutkan pekerjaan dan memperpanjang kontrak, setiap TKS diwajibkan menyetor uang senilai Rp10 juta.

​“Kami disuruh bayar Rp10 juta agar kontrak kami diperpanjang. Kalau tidak, ya tidak diperpanjang,” ungkap TKS tersebut, membenarkan adanya tekanan langsung yang mengancam mata pencaharian mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Informasi ini, menurut sumber, disampaikan langsung oleh oknum pejabat dinas saat seluruh TKS dikumpulkan.

“Tanggal 26 kemarin kami dikumpulkan. Di situ sekjen menyampaikan, kalau tidak bayar, kontrak tidak diperpanjang,” imbuhnya, menyebutkan jumlah TKS yang hadir dalam pertemuan tersebut mencapai hampir 30 orang.

​Mendapat informasi terkait dugaan transaksi penyetoran, tim media dan mahasiswa segera mendatangi kantor dinas terkait untuk melakukan verifikasi. Di lokasi, tim media mendapati beberapa TKS berada di ruangan bendahara, sebuah pemandangan yang menguatkan dugaan bahwa mereka tengah melakukan transaksi pembayaran yang diminta.

​Sontak, kehadiran tim media di lokasi memicu reaksi cepat: para TKS tersebut langsung membubarkan diri dari ruangan, semakin memperkuat indikasi adanya aktivitas yang berusaha ditutupi.

​Saat dimintai konfirmasi, pejabat berwenang di dinas tersebut memilih untuk berkelit dan membantah keras praktik pungli tersebut. “Gak ada pak, saya gak tahu, saya baru disini sekitar satu bulan,” ujarnya, sebuah jawaban yang dinilai publik sebagai upaya menghindari tanggung jawab.

​Dugaan pemerasan terhadap TKS, yang notabene adalah kelompok pekerja rentan memicu reaksi keras dari berbagai pihak.

​Salah satunya Gunawan, Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Peduli Demokrasi Sumatera Utara, mengecam keras praktik ini. “Ini adalah tindakan yang sangat memalukan dan menciderai semangat reformasi birokrasi. Kami menuntut agar aparat penegak hukum segera bertindak cepat dan transparan untuk mengungkap kasus ini, Menurut saya, ini merupakan tindakan pungli dengan menyalahi pangkat dan jabatan yang memperkaya kelompok ” tegasnya.

​Senada dengan itu, Pemerhati publik Bambang Prilidianto, S.Pd, mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan investigasi mendalam. “Dugaan pungli ini harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Jika terbukti, pelaku harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku,” tegas Bambang, menekankan perlunya penindakan tanpa pandang bulu.
​Praktik pungli, jika terbukti, adalah pengkhianatan terhadap prinsip tata kelola pemerintahan yang bersih dan secara serius mencoreng citra birokrasi Labura. Publik kini menunggu ketegasan pihak berwenang untuk segera mengungkap fakta sebenarnya dan mengambil tindakan hukum yang diperlukan demi tegaknya keadilan bagi para TKS.

Kasus ini sekarang menuntut reaksi cepat dari Inspektorat Daerah dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk melindungi para TKS yang diduga menjadi korban dan mengusut tuntas keterlibatan oknum pejabat. Kami akan terus memantau perkembangan penyidikan.

(Rizal/Tim)

Berita Terkait

Jeritan Hati Warga Lumban Hariara: Diabaikan Kepala Desa, Menaruh Asa pada Ketegasan Bupati Labura
Tuding Camat ‘Sutradara’ Pelantikan Kadus, Kades Sialang Taji Diduga Tabrak UU Desa dan Manipulasi Seleksi.
Dugaan Penyelewengan Dana BOS di SMPN 2 Kualuh Hulu: Anggaran Mengucur, Sarpras Hancur.
Misteri Aliran Dana BOS di SDN 114344 Suka Rame Terbongkar.
Diduga Lamban, Humas Kejari Labuhanbatu Tak Kunjung Jawab Surat Laporan Dugaan Korupsi Selama 3 Bulan
Ironi di Balik Kaca Mata Birokrasi: Menagih Hak, Melupakan Kewajiban
Ironi Sekolah Unggulan: Tumpukan Sampah Busuk Kepung Gerbang MAN 2 Labura, DLH Membisu
Dugaan Penyelewengan Dana BOS di 44 SD Negeri Kualuh Selatan Mencuat, Sejumlah Wartawan Layangkan Surat Klarifikasi ke Disdik Labura

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:21 WIB

OBJEK PBB P2 DIDUGA KUAT MASUK KAWASAN HUTAN, BAPENDA LAMBAR : “KAMI TIDAK TAHU!”

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:14 WIB

JIKA INDONESIA INGIN MAJU, BELAJARLAH DARI NEGARA YANG SUDAH MAJU, PESAN KIAI IMAM JAZULI MELEPAS 300 SANTRI KE CHINA

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:10 WIB

Pemuda dan Mahasiswa Dorong Transparansi dan Akuntabilitas Program MBG Melalui Diskusi Publik di Banten

Selasa, 2 Juni 2026 - 22:06 WIB

Kemenduk Bangga/BKKBN Banten Peringati Satu Tahun Program TAMASYA

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:55 WIB

Sertipikat Tanah Hilang? Berikut Panduan Cara Mengurusnya

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:51 WIB

Jadi Simbol Nilai Luhur, Kementerian ATR/BPN Laksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:46 WIB

Kodim 0206/Dairi Rampungkan Rehabilitasi Jembatan Gantung di Pakpak Bharat

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:43 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Babinsa Bantu Pascapanen Jagung Milik Petani di Pakpak Bharat

Berita Terbaru