Nasionaldetik.com,— 10 Mei 2026 Kamboja dan Myanmar terkenal sebagai surganya judol. Cuma, surganya sering digerebek pemerintah. Mereka kabur, dan kaburnya banyak ke negara kita. Tidak kurang 321 WNA ditangkap karena jadi operator judol. Coba kalau tak ditangkap, negeri kita ini tambah lagi status baru, surga judol. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Indonesia hampir naik kasta jadi markas baru judi online internasional Asia Tenggara. Lokasinya bukan di pulau terpencil atau bunker rahasia ala film mafia, tapi di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Cuma beberapa kilometer dari Istana Merdeka. Dekat pusat kekuasaan negara.
Di lokasi itu, 321 WNA mengoperasikan 75 situs judi online internasional dari satu gedung di jantung ibu kota. Mereka datang bukan untuk menikmati rendang, sate, atau healing di Bali. Mereka datang membawa misi modern, memastikan rakyat Asia Tenggara tetap rajin kalah slot sambil berharap scatter hitam turun seperti wahyu.
Yang bikin ngakak sekaligus miris, mereka masuk memakai visa wisata. Visa Wisata, wak. Sementara turis lain sibuk foto di Monas, rombongan ini check-in ke kantor dan kerja shift depan komputer. “Wonderful Indonesia” pelan-pelan berubah jadi “Wonderful Betting Operation.”
Komposisi para WNA ini sudah seperti miniatur ASEAN edisi gelap. Tiongkok jadi jumlah terbanyak, berperan sebagai operator inti dan teknisi IT. Kalau server judol tetap stabil 24 jam, kemungkinan ada tangan dingin mereka di balik monitor. Vietnam banyak direkrut jadi customer service, melayani pemain Asia Tenggara dengan keramahan yang sayangnya dipakai untuk menenangkan orang habis kalah slot. Myanmar sebagian adalah eks pekerja dari basis judol lama yang digempur aparat di sana. Laos masuk sebagai tenaga administrasi. Sementara Thailand disebut ikut bermain sebagai perekrut dan penghubung jaringan. Malaysia jumlahnya lebih kecil, tapi tetap ada yang terlibat. Yang paling senior? Tentu saja Kamboja, para veteran kasino digital Asia Tenggara yang sudah kenyang pengalaman mengelola “pabrik slot” di Phnom Penh sebelum digerebek aparat.
Begitu Kamboja dan Myanmar mulai panas karena penindakan, Indonesia diduga terlihat seperti tanah harapan baru. Internet cepat, gedung tersedia, dan pengawasan yang kadang seperti satpam komplek habis ronda subuh. Akhirnya mereka pindah ke sini sambil membawa ratusan pekerja lintas negara. Indonesia bukan sekadar tempat transit. Republik ini hampir berubah jadi kantor pusat baru industri judol regional.
Saat penggerebekan dilakukan, aparat menemukan puluhan komputer, data transaksi lintas negara, hingga sistem operasional rapi seperti kantor startup unicorn. Bedanya kalau startup bakar duit investor, yang ini bakar duit rakyat kecil yang berharap hidup berubah lewat spin receh. Uang haramnya diduga muter lebih cepat dari kipas angin kos-kosan yang bunyinya kayak pesawat mau lepas landas.
Dari 321 orang, sebanyak 275 sudah ditetapkan tersangka. Sisanya masih menjalani pemeriksaan imigrasi. Tapi publik bukan cuma heran pada jumlah tersangka. Yang bikin rakyat melongo adalah pertanyaan sederhana, bagaimana mungkin ratusan WNA bisa tinggal, bekerja ilegal, dan menjalankan bisnis haram di gedung premium Jakarta Barat tanpa ada yang curiga?
Ini bukan tiga backpacker nyasar cari hostel murah. Ini 321 orang. Kalau mereka turun bareng ke warteg saja, ibu warteg pasti mikir ada syuting film perang Asia. Tapi anehnya, operasi sebesar ini bisa berjalan cukup lama sampai akhirnya digerebek. Di titik ini, teori rakyat mulai bekerja lebih cepat dari sinyal WiFi kantor pemerintahan. Bisik-bisik soal “backing” beterbangan di warung kopi sampai grup WA keluarga.
Lalu datang bagian paling absurd, distribusi tersangka. 150 orang dipindahkan ke Rudenim, 150 ke Ditjen Imigrasi, dan 21 ke Kantor Imigrasi Jakarta Barat. Cara pembagiannya lebih mirip distribusi bansos dari penanganan sindikat internasional. Tinggal kurang kupon antrean dan tulisan, “Satu keluarga maksimal satu operator judol.”
Ironinya benar-benar menampar. Negeri yang tiap hari pidato soal moral dan perang melawan judi ternyata sempat kecolongan markas kasino digital internasional dekat pusat kekuasaan negara. Garuda tampaknya bukan kalah kuat. Mungkin cuma terlalu sibuk seremoni, sementara naga judol sudah keburu pasang WiFi dan buka cabang.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Tim Redaksi







































