PNIB : Deforestasi di Papua Adalah Bentuk Intoleransi Kepada Alam, Tolak Neo VOC, Kekayaan SDA untuk kesejahteraan rakyat dan kemakmuran Bangsa Harga Mati! 

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:16 WIB

5033 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Surabaya, 30 Mei 2026,Nasionaldetik.com – Pembabatan hutan (Deforestasi) untuk kepentingan industri sudah terjadi secara masive dan terorganisir. Gambaran nyata bisa kita saksikan dalam film ‘Pesta Babi’ yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Tanah Papua sedang dijadikan target penguasaan industri perkebunan berskala Internasional. Dengan berdalih program swasembada pangan, hutan di Papua selatan dijadikan lahan perkebunan seluas lebih dari 1 juta hektar.

Ketua Umum PNIB, ormas kebhinekaan, lintas Agama, anti intoleransi dan Khilafah radikalisme Terorisne, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) menyampaikan penolakannya dalam sebuah wawancara bersama awak media.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Deforestasi itu bentuk intolerasi kepada alam, budaya dan tradisi. Warga papua yang hidup dalam kearifan lokal bersama harmonisasi alam kehilangan hutan yang menjadi rumah mereka. Dibabat habis untuk kepentingan industri tanpa memperhatikan masa depan warga, adat, tradisi dan budaya adalah arogansi nyata yang dilegalkan oleh para oknum penguasa yang bekerja sama dengan oligarki” ungkap Gus Wal.

Kondisi tanah Papua yang sedang digunduli hutannya menjadi pembicaraan yang ramai di publik. Kebijakan industrialisasi di tanah adat tidak hanya di tanah Papua, tapi bisa terjadi dimana saja demi menuruti kepentingan konglomerat bisnis.

“Hari ini Papua besok bisa di Sulawesi, lusa bisa saja tanah adat suku di Nusa Tenggara atau Maluku. Kepentingan bisnis tidak peduli tempat dan waktu. Dimana ada tanah kosong mereka tinggal tunjuk untuk dijadikan lokasi industri. Ini yang harus kita pikirkan bersama untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, tanah adat, budaya dan tradisi saat dihabisi oleh industri yang dholim terhadap masa depan warga” imbuh Gus Wal.

Kegelisahan Gus Wal dan PNIB menjadi keresahan yang sama dengan masyarakat adat lainnya. Menurutnya, penguasa hanya akan kalah dengan persatuan dan kesatuan rakyat.

“Kita yang sedang terancam intoleransi industri sudah waktunya bersatu. Jangan pernah mau dipecah belah dengan iming-iming materi, namun akhirnya tidak punya lagi jati diri di tanah sendiri. Penguasa hanya segelintir orang yang memiliki pangkat dan jabatan. Kita ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan bahkan ratusan juta jumlahnya apabila bersatu akan menjadi sebuah kekuatan atas dasar nasib yang sama” lanjutnya.

Konglomerat industri menurut Gus Wal adalah jargon kapitalis dan kolonialis asing yang harus dilawan.

“Para pendiri bangsa berhasil menumpas kongsi dagang VOC yang menjadikan kita negara jajahan. Hari ini mereka datang lagi dalam bentuk lain. Jangan sampai kita dijajah kepentingan dagang lagi, Kekayaan SDA Indonesia untuk kesejahteraan rakyat dan kemakmuran bangsa adalah harga mati, Indonesia Not For Sale, Dan Indonesia Menolak Khilafah Radikalisme Terorisme Sampai Kiamat” pungkas Gus Wal.

Penulis : Tim PRIA

Editor : Admin

Berita Terkait

Abdul Aziz,.S.H Kritik PJ Kepala Desa Sumber, Soroti Infrastruktur dan Transparansi Dana Desa*
Diduga Berawal dari Saling Ejek di Kedai Kopi, Dua Warga Pardomuan Akhirnya Berdamai Setelah Dimediasi Tiga Pilar Desa
Satres Narkoba Polres Labuhanbatu Amankan Pemilik Pil Ekstasi Saat Razia THM di Rantau Selatan
Pelarian ke Hutan Kandas, Paman Cabul di Kendal Berhasil Diringkus Polisi
Ahli Fungsi Lahan Terjadi di Merasi Tugumulyo
Gubernur Jambi Serahkan Bantuan Hewan Qurban kepada PWNU Jambi
PNIB : Momentum Idul Adha Refleksikan Pengorbanan untuk Toleransi, Kepedulian dan Persatuan Seluruh Umat Beragama
Momentum Idul Adha, SDN Talok 02 Wujudkan Pendidikan Karakter Melalui Qurban

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:34 WIB

Kurang dari 24 Jam, Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan yang Tewaskan Perempuan di Bakauheni

Sabtu, 30 Mei 2026 - 16:51 WIB

RESAH WARGA! BENDAHARA DESA YANG JUGA KETUA KUD MINA JAYA DIAMANKAN POLISI KARENA NARKOBA: CONTOH BURUK DARI PENJABAT AMANAH

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:50 WIB

Semangat Siswa SD Sarintonu Ikuti Latihan PBB Bersama Babinsa Koramil 04/Tigalingga

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:41 WIB

Warga Bertanya Soal Bantuan Sosial di Warung Kopi, Jawaban Babinsa Ini Jadi Perhatian

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:31 WIB

Melalui Komsos, Babinsa Koramil 07/Salak Dengarkan Aspirasi Petani dan Pemuda Desa Salak I

Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:36 WIB

Korban Pengeroyokan Jalur 2 Tugu Gajah Jalani BAP, LBH Pesenggiri: Pelaku Harus Segera Diadili

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:45 WIB

Alasan PP Tata Kelola SDA Dipertanyakan, Penurunan Capai Rp 1050 Per Kg, Petani Rugi Besar

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:41 WIB

Harga TBS Diturunkan Sepihak PKS, Jauh di Bawah Harga Acuan! Petani Swadaya Menjerit Minta Bupati Ahmad Yuzar Turun Tangan

Berita Terbaru