Menjaga Muktamar NU Dalam Irsyad Ulama, Persatuan dan Kemandirian Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:10 WIB

5039 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta, nasionaldetik.com

Nahdlatul Ulama sedang memasuki fase penting yang akan menentukan arah jam’iyyah, marwah ulama, dan mutu khidmah kepada umat, bangsa, serta dunia. Muktamar sebagai permusyawaratan tertinggi harus menjadi ruang membaca tantangan zaman, mengevaluasi organisasi, memperbarui persaudaraan, dan menetapkan arah perjuangan berdasarkan kemaslahatan, dengan hikmah, ilmu, serta tanggung jawab sejarah sebagai pijakan.
Munculnya sejumlah kandidat merupakan dinamika organisasi yang sah. Namun, kompetisi tanpa nilai bersama dapat menajamkan perbedaan, menyuburkan hoaks dan prasangka, serta menyeret jamaah dan struktur NU ke dalam spiral permusuhan. Muktamar tidak boleh direduksi menjadi perebutan kepemimpinan; amanat utamanya ialah menjaga persatuan, memperkuat kelembagaan, dan melahirkan keputusan yang menjawab persoalan internal NU, penguatan Aswaja, kehidupan kebangsaan, serta perubahan tata dunia.
Dalam keadaan ini, para kiai sepuh berkedudukan penting sebagai penjaga kebijaksanaan dan keseimbangan jam’iyyah. Rasulullah saw. bersabda, البركة مع أكابركم, ‘keberkahan bersama orang-orang tua dan para pembesar kalian,’ sebagaimana dinukil Ibn Hibban dan al-Hakim. Al-Munawi menjelaskan bahwa mereka matang oleh ilmu dan pengalaman sehingga pandangan serta petunjuknya layak dijadikan pedoman.
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menegaskan, فأدلة الطريق هم العلماء الذين هم ورثة الأنبياء, ‘para penunjuk jalan adalah ulama, pewaris para nabi.’ Karena itu, kehadiran kiai sepuh dalam muktamar bukan untuk formalitas, tetapi sebagai sumber irsyad untuk membantu peserta membedakan kepentingan sesaat dari kemaslahatan jam’iyyah dan jamaah.
Atas dasar itu, Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35 menyerukan seluruh kekuatan NU menahan diri, menghentikan politik saling meniadakan, dan mengembalikan muktamar kepada khittah permusyawaratan ulama, 20/7/26.

Muktamar harus menjadi jalan islah, penguatan kelembagaan, dan penyatuan Langkah, dalam menjawab tantangan ke depan. Forum menyampaikan tiga tuntutan pokok untuk menjaga marwah muktamar dan masa depan NU.

1. Kiai Sepuh Nusantara Turun Gunung Memberikan Irsyad
Forum memohon dengan takzim agar para kiai sepuh dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua berkenan turun gunung, hadir bersama, dan memberikan kearifan, irsyad, serta panduan sejak persiapan, selama persidangan, hingga setelah muktamar. Pengalaman, keluasan ilmu, ketajaman batin, dan jarak dari kepentingan praktis merupakan modal moral untuk menjaga muktamar dalam koridor akhlak, ilmu, dan kemaslahatan.
Para kiai sepuh diharapkan merumuskan pedoman moral, memediasi ketegangan antarkelompok, mengingatkan para kandidat, serta memastikan keputusan organisasi lahir dari akhlak, ilmu, dan hikmah. Tanpa keterlibatan aktif mereka, kontestasi dikhawatirkan mengeras, memecah persaudaraan, dan menimbulkan spiral permusuhan hingga ke wilayah, cabang, dan jamaah. Turun gunungnya para kiai sepuh menjadi ikhtiar agar perbedaan pilihan tidak berubah menjadi keretakan jam’iyyah.

2. Pertemuan Kandidat untuk Ittihadul-Qulub dan Platform Bersama
Forum menyerukan seluruh kandidat yang telah muncul segera bertemu secara terbuka, setara, dan penuh persaudaraan untuk membangun ittihadul-qulub (kesatuan hati), ittihadul-afham wal-afkar (kesatuan pemahaman dan gagasan), serta ittihadul-harakah (kesatuan gerak). Pertemuan harus melahirkan platform bersama mengenai pembenahan tata kelola, supremasi ulama, kemandirian ekonomi, integrasi pendidikan NU, kaderisasi, pelayanan jamaah, advokasi kebijakan publik, penguatan masyarakat sipil, diplomasi keadilan, dan pembelaan terhadap Palestina.
Platform tersebut menjadi akad moral yang dijalankan siapa pun penerima mandat. Dengan demikian, muktamar melampaui logika kalah-menang: pemenang memimpin pelaksanaan agenda, sedangkan kandidat lain tetap menjadi kekuatan kolektif NU. Kepemimpinan berikutnya harus rekonsiliatif, merangkul seluruh unsur jam’iyyah, menutup politik balas dendam, dan berkomitmen melakukan pembenahan menyeluruh.

*3. Meneguhkan Kemandirian dan Kedaulatan Muktamar*Forum mendesak Muktamar NU Ke-35 menegaskan kemandirian NU dalam menentukan arah perjuangan berdasarkan ideologi Aswaja, hikmah, ilmu, Qonun Asasi, Khittah, dan pengalaman sejarah jam’iyyah. NU memiliki tradisi keilmuan, mekanisme permusyawaratan, dan otoritas ulama untuk menentukan kepemimpinannya secara merdeka serta bertanggung jawab.
Karena itu, Forum menolak intervensi otoritas struktural, kekuatan politik, permainan uang, dan jaringan kekuasaan dari luar NU yang memengaruhi pencalonan, pilihan muktamirin, atau keputusan persidangan. Relasi NU dengan negara serta kekuatan sosial-politik harus konstruktif, kritis, bermartabat, berbasis kemitraan strategis, dan tetap menjaga jarak yang sehat.
Kemandirian muktamar harus dijamin melalui tata kelola transparan, pendanaan yang dapat dipertanggungjawabkan, kebebasan suara muktamirin, pencegahan transaksi politik, dan pengawasan bersama terhadap intervensi. Muktamar yang merdeka, berintegritas, serta dipandu ulama akan melahirkan kepemimpinan berlegitimasi moral, mampu mengemban amanat jamaah, dan menjawab tantangan zaman saat ini dan ke depan.

*Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35*
_Menjaga Hikmah, Merawat Persatuan, Meneguhkan Kemandirian NU_

Nur Choliq Ridwan
Koordinator.

Red.

Berita Terkait

Brigif 4 Marinir/BS Gelar Media Gathering 2026, Perkuat Sinergi dan Fungsi Kontrol Sosial
Rapat Koordinasi Persiapan Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) HUT Ke-81 RI Kecamatan Ploso
SPAB Warnai Sangratada Pramuka MPLS di SMA Negeri 2 Kota Kediri, Kepala Sekolah: Bentuk Generasi Tangguh
Menagih Janji atau Memperpanjang Kuasa? Menimbang Kembali Niat Gus Yahya Maju di Muktamar NU ke-35
Di Tengah Pesimisme Publik, Anak Muda Menolak Menyerah pada Masa Depan Indonesia
Armed Jember, Ormas MADAS, dan Media Online Jejak-Indonesia.id Perkuat Sinergitas Lewat Ngopi Bareng di Patrang
Pernyataan Oknum Wartawan Soal UKW Tuai Sorotan, Ahli Tegaskan Sertifikat Bukan Syarat Legal Menjadi Wartawan
ASDP Bakauheni Resmi Soft Launching Sterilisasi Pelabuhan, Terapkan Sistem Layanan Modern

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:50 WIB

Brigif 4 Marinir/BS Gelar Media Gathering 2026, Perkuat Sinergi dan Fungsi Kontrol Sosial

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:49 WIB

SPAB Warnai Sangratada Pramuka MPLS di SMA Negeri 2 Kota Kediri, Kepala Sekolah: Bentuk Generasi Tangguh

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:14 WIB

Menagih Janji atau Memperpanjang Kuasa? Menimbang Kembali Niat Gus Yahya Maju di Muktamar NU ke-35

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:10 WIB

Menjaga Muktamar NU Dalam Irsyad Ulama, Persatuan dan Kemandirian Forum Pengawal Muktamar NU Ke-35

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:05 WIB

Di Tengah Pesimisme Publik, Anak Muda Menolak Menyerah pada Masa Depan Indonesia

Senin, 20 Juli 2026 - 19:33 WIB

Armed Jember, Ormas MADAS, dan Media Online Jejak-Indonesia.id Perkuat Sinergitas Lewat Ngopi Bareng di Patrang

Senin, 20 Juli 2026 - 19:04 WIB

Pernyataan Oknum Wartawan Soal UKW Tuai Sorotan, Ahli Tegaskan Sertifikat Bukan Syarat Legal Menjadi Wartawan

Senin, 20 Juli 2026 - 16:27 WIB

ASDP Bakauheni Resmi Soft Launching Sterilisasi Pelabuhan, Terapkan Sistem Layanan Modern

Berita Terbaru