Nasionaldetik.com,— Tragedi kemanusiaan diduga kembali mencoreng pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Lebih dari 500 santri di Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi paket makanan dari program tersebut.
Kasus ini memicu keluhan medis massal serta kritik pedas dari insan pers nasional yang menilai kelalaian pelaksanaan program ini sudah membahayakan nyawa anak bangsa.
Dugaan keracunan makanan massal yang menimpa ratusan santri setelah menyantap paket MBG. Korban mengalami gejala mual, muntah, pusing, sakit perut, diare, hingga lemas.
Lebih dari 500 santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah (data Dinkes Sidoarjo mencatat setidaknya 293 santri dirawat di delapan rumah sakit, sementara laporan lain menyebut korban bergejala mencapai lebih dari 400 hingga 500 orang). Ir. Edi Supriadi, Pimpinan Redaksi Nasionaldetik.com, yang menyoroti tajam insiden ini.
Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Korban dilarikan ke delapan rumah sakit di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.Kamis, 3 September 2026.
Diduga akibat buruknya kontrol kualitas (quality control) dan kelalaian penyedia jasa dalam menjaga kebersihan serta kelayakan nutrisi/pangan paket makanan MBG.
Ratusan santri mendadak mengeluhkan sakit perut massal pascakonsumsi. Kondisi darurat ini membuat fasilitas medis kewalahan menangani ratusan korban yang harus mendapatkan perawatan intensif secara bersamaan.
Pernyataan Tegas Pemred Nasionaldetik.com
Menanggapi insiden memprihatinkan ini, Pimpinan Redaksi Nasionaldetik.com, Ir. Edi Supriadi, menyuarakan desakan keras agar seluruh program MBG maupun SPPG segera dihentikan secara total sebelum jatuh korban jiwa.
“Jangan membunuh anak cucu kita dengan cara apa pun! Kualitas makanan yang buruk dan kelalaian fatal ini adalah bentuk kejahatan atas nama program. Semua program MBG dan SPPG ini harus segera ditutup total daripada generasi muda kita mati sia-sia!” tegas Ir. Edi Supriadi.
Ia menekankan bahwa keberhasilan suatu program pemerintah tidak boleh diukur dari sekadar bagi-bagi makanan, melainkan keselamatan dan kesehatan penerimanya. Kelalaian yang berulang menunjukkan adanya kelayakan operasional serta pengawasan vendor yang bobrok dan harus diusut tuntas hingga ke ranah hukum.
Tim Redaksi






























