Dugaan di Balik Jual-Beli Lahan Transmigrasi Longkib,Mulai Terungkap SiapaMapiah Tanah

KABIRO SUBULUSSALAM

- Redaksi

Minggu, 12 April 2026 - 17:46 WIB

5049 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subulussalam Detik Nasional.com. Polemik kepemilikan lahan transmigrasi di Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam, memasuki babak baru. Konflik yang melibatkan Ketua Apkasindo Aceh, Netap Ginting, dengan masyarakat Desa Lae Saga dan Desa Bangun Sari kini mengarah pada dugaan praktik mafia tanah.

Persoalan yang sebelumnya sebatas saling klaim lahan, kini berkembang menjadi serangkaian laporan hukum. Warga telah melaporkan dugaan tindak pidana seperti pencurian dan penganiayaan ke aparat penegak hukum di Polres Subulussalam. Di sisi lain, gugatan perdata terkait keabsahan akta jual-beli lahan transmigrasi juga tengah bergulir dan semakin memanas.

Terbaru, Netap Ginting sendiri kini tengah diproses hukum atas laporan dugaan penganiayaan yang dilayangkan oleh warga transmigrasi berinisial Mirja. Namun, di tengah proses tersebut, muncul pengakuan yang membuka tabir baru dalam konflik ini.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan langsung kepada warga dan terekam dalam video berdurasi sekitar dua menit, Netap Ginting mengungkap bahwa praktik jual-beli lahan transmigrasi yang dipersoalkan diduga melibatkan seorang oknum Kepala Desa Lae Saga. Ia menyebut, transaksi tersebut terjadi saat yang bersangkutan belum menjabat sebagai kepala desa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Yang menjual lahan masyarakat tani transmigrasi kepada pihak-pihak tertentu adalah oknum Kepala Desa Lae Saga, saat itu belum menjabat,” ujar Netap Ginting.

Pengakuan tersebut sontak memicu reaksi keras dari masyarakat. Warga menilai, jika benar terjadi, praktik tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap aturan yang berlaku dan merugikan masyarakat transmigrasi.
Regulasi Larangan Jual-Beli Lahan Transmigrasi
Pemerintah secara tegas melarang praktik jual-beli lahan transmigrasi, terutama dalam masa pembinaan. Hal ini diatur dalam sejumlah regulasi, di antaranya:
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Ketransmigrasian
Pasal 32 menyebutkan bahwa tanah yang diberikan kepada transmigran merupakan hak pakai atau hak milik dengan persyaratan tertentu, dan tidak dapat dialihkan secara bebas tanpa memenuhi ketentuan.

Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Ketransmigrasian
Dalam aturan ini ditegaskan bahwa transmigran dilarang memindahtangankan lahan kepada pihak lain sebelum jangka waktu tertentu (masa pembinaan) serta tanpa izin pemerintah.
Peraturan Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi
Mengatur bahwa lahan transmigrasi merupakan bagian dari program pemerintah yang diperuntukkan bagi peningkatan kesejahteraan transmigran, sehingga tidak boleh diperjualbelikan secara bebas apalagi kepada pihak di luar peserta transmigrasi.
Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat berimplikasi hukum, termasuk pembatalan hak atas tanah hingga potensi sanksi pidana jika ditemukan unsur penipuan, pemalsuan dokumen, atau praktik mafia tanah.
Sementara itu, pihak Dinas Transmigrasi Kota Subulussalam kembali menegaskan bahwa wilayah Lae Saga dan Bangun Sari merupakan kawasan transmigrasi yang berada dalam pengawasan negara.

“Jual-beli di lahan transmigrasi tidak diperbolehkan, apalagi di kawasan seperti Lae Saga dan Bangun Sari yang merupakan areal hak kawasan transmigrasi,” ujar Iskandar,S.P.i perwakilan dinas transmigrasi menjelaskan.

Desakan Usut Dugaan Mafia Tanah
Dengan munculnya pengakuan dari Netap Ginting, masyarakat kini mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas pihak-pihak yang diduga terlibat. Dugaan keterlibatan oknum aparatur desa memperkuat indikasi adanya praktik mafia tanah yang terstruktur.

Warga berharap penegakan hukum tidak tebang pilih dan mampu mengungkap aktor intelektual di balik penerbitan akta jual-beli lahan transmigrasi tersebut.
Kasus ini diperkirakan akan terus berkembang, seiring proses hukum yang masih berjalan baik di ranah pidana maupun perdata. Masyarakat menaruh harapan besar agar kejelasan hukum segera terwujud demi melindungi hak-hak transmigran yang sah.(*).

Berita Terkait

APBDes Teladan Baru Disahkan, Rapat Sempat Memanas soal Dana BUMDes. “BPG akan terus mempersoalkan anggaran BUMDes tahun 2025. Sampai saat ini masih diaudit
Percepat Sertipikasi Tanah Wakaf, Menteri ATR/Kepala BPN Serahkan 33 Sertipikat untuk Rumah Ibadah di Sulawesi Tengah
Geopolitik Global Tidak Stabil, Menteri ATR/Kepala BPN Batasi Alih Fungsi Lahan Sawah demi Ketahanan Pangan
Portal Swadaya Warga Lae Saga Kembali Dirusak, Warga Desak Pelaku Ditangkap
Terbongkar ,Ketua Apkasindo Aceh Terseret Sengketa 50 Hektar Lahan Di Longkip Subulussalam
Portal Kebun Warga Lae Saga Dirusak Berulang, Polisi Diminta Segera Tangkap Pelaku
Portal Kebun Warga Lae Saga Dirusak 4 Kali, Polisi Didesak Tangkap Pelaku
Wali Kota HRB, Mungkin Butuh “Abu Nawas” yang Tak Pernah Diundang

Berita Terkait

Minggu, 12 April 2026 - 18:54 WIB

Komitmen Polsek Bosar Maligas Tak Pernah Padam: Mahasiswa Pengedar Sabu Dibekuk Dini Hari, Jaringan Batu Bara Dibidik

Sabtu, 11 April 2026 - 19:25 WIB

PNIB Kritisi Penyegelan Rumah Ibadah di Tangerang, Siapapun Tidak Bisa Menghukum Perbedaan Keyakinan

Sabtu, 11 April 2026 - 15:40 WIB

Langkah Awal Menuju Harapan Baru di Desa Sukorejo

Sabtu, 11 April 2026 - 09:38 WIB

TNI Kenalkan Dunia Militer ke Anak-Anak, Edukasi Kebangsaan Sejak Dini di Trenggalek

Sabtu, 11 April 2026 - 07:03 WIB

WOOOW.. !! KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dalam Operasi Tangkap Tangan

Sabtu, 11 April 2026 - 06:27 WIB

BPK Temukan Pemgaman Hukum Aset pada Pemkab Sumenep Tidak Tertib

Sabtu, 11 April 2026 - 06:19 WIB

KELALAIAN KEAMANAN? RUMAH WARGA DI RINGIN KEMBAR DI BOBOL SAAT PENGHUNI SALAT SUBUH

Jumat, 10 April 2026 - 13:02 WIB

Sinergi Tanpa Batas: Anggota Koramil 0810/06 Kertosono dan Warga Tuntaskan Pemasangan Paving di Desa Lawak

Berita Terbaru