Penulis opini: Ir. Edi Supriadi dan aktivis
Nasionaldetik.com,– 18 Januari 2026 Di bawah rindangnya pepohonan lereng Perhutani, suasana asri Sumbermanjing Wetan (Sumawe) mendadak riuh oleh gelak tawa. Bukan sekadar guyonan kosong, tawa yang pecah di sebuah warung kopi legendaris bernama Warkop Dagelan itu merupakan satir tajam terhadap kondisi sosial yang sedang terjadi di wilayah Malang Selatan.
Sebuah diskusi santai namun kritis mengenai fenomena sosial di Sumawe yang disebut oleh para aktivis sebagai “Dagelan” (lelucon). Istilah ini muncul untuk menggambarkan ketidakkonsistenan atau kejanggalan situasi di lapangan yang dianggap lucu sekaligus ironis, layaknya aksi badut di lampu merah Kota Malang.
Pertemuan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci informasi, di antaranya:
Pimpinan Redaksi nasionaldetik.com.
Kabiro Malang nasionaldetik.com.
Aktivis masyarakat (inisial D ,T dll dan rekan-rekan lainnya).
Masyarakat lokal dan pemilik warung yang turut merasakan keresahan yang sama.
Diskusi berlangsung di Warkop Dagelan, sebuah tempat ikonik yang terletak di dekat kawasan hutan Perhutani, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang. Tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana isu-isu kerakyatan diperdebatkan di tengah udara asri Malang Selatan.
Momen ini terjadi di tengah suasana santai saat para jurnalis dan aktivis melakukan pemantauan wilayah, menikmati secangkir kopi dan rokok untuk mencairkan suasana sebelum membedah isu yang lebih serius.
Sumawe yang selama ini tampak tenang seakan “terdiam,” ternyata menyimpan banyak dinamika yang dianggap janggal oleh para pengamat. Sindiran tentang “tidak membawa sound system” menjadi simbol kritik terhadap fenomena keramaian atau kebijakan yang seringkali dianggap tidak menyentuh substansi masalah utama di masyarakat.
Diskusi mengalir dengan gaya Malangan yang blak-blakan. Kritik disampaikan melalui analogi-analogi jenaka, mulai dari perbandingan dengan badut jalanan hingga sindiran halus tentang kebisingan tanpa isi.
Tawa pecah bukan karena senang, melainkan sebagai bentuk perlawanan simbolis terhadap kondisi yang dianggap “lucu” tapi sebenarnya memprihatinkan.
“Sumawe tidak sedang diam. Ia hanya sedang menyaksikan sebuah panggung dagelan yang lakonnya seringkali membuat kita bingung: harus tertawa atau merasa iba.”
Tim investigasi







































