TARUTUNG, Nasionaldetik.com
— Saat matahari menyinari bumi, termasuk wilayah Indonesia, masyarakat dari berbagai lapisan dan profesi memulai aktivitas sehari-hari. Mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, pedagang, petani, pengemudi ojek daring, tukang becak, pedagang asongan, penjual gorengan, mahasiswa, pelajar, musisi, Pegawai Negeri Sipil (PNS), guru, dosen, Persit, hingga TNI/POLRI berikhtiar mencari karunia dan rezeki dari Allah SWT, Sang Pencipta langit dan bumi.
Bangsa Indonesia dapat menikmati kemerdekaan yang hakiki atas rahmat, rida, dan izin Allah SWT. Kemerdekaan ini diraih melalui jerih payah, peluh keringat, tetesan darah, harta, benda, hingga nyawa yang dikorbankan oleh para pejuang, veteran kusuma bangsa, serta seluruh komponen masyarakat untuk melawan penindasan para penjajah.
Atas anugerah dan rahmat-Nya, penjajahan di bumi Indonesia berakhir. Kemerdekaan tersebut diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Pembacaan teks proklamasi serta pengibaran Bendera Sang Dwi Warna pertama kali dilaksanakan di kediaman Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta—rumah hibah dari sahabat Bung Karno, Faradj bin Said bin Awadh Martak, seorang saudagar kaya keturunan Arab/Yaman.
Sebelumnya, penulisan naskah teks proklamasi dilakukan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda, perwira tinggi Angkatan Laut Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, Bendera Merah Putih dijahit langsung oleh Ibu Fatmawati dengan ukuran 2 × 3 meter.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 kala itu bertepatan dengan bulan suci Ramadan (9 Ramadan 1364 Hijriah). Menjelang detik-detik pembacaan teks proklamasi, Bung Karno mengalami demam tinggi akibat gejala malaria tertiana karena kelelahan. Beliau kemudian diberi obat dan suntikan oleh dokter pribadinya, dr. Soeharto, serta meminum madu Arab/Yaman pemberian Faradj Martak hingga kondisinya pulih dan sanggup membacakan naskah proklamasi.
Kini, dari Sabang sampai Merauke, Sang Dwi Warna telah berkibar di seluruh penjuru Nusantara. Pada hari Senin, 17 Agustus 2026, segenap komponen bangsa memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Sebagai bentuk cinta tanah air, momentum ini diisi dengan berbagai kegiatan positif dan bermanfaat bagi masyarakat, termasuk pelaksanaan Upacara Detik-Detik Proklamasi.
Suasana khidmat juga terasa di Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Seluruh elemen masyarakat menghadiri Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 RI yang dipusatkan di Lapangan Serbaguna Tarutung, Senin (17/8/2026). Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si.
Dalam amanatnya, Bupati Tapanuli Utara menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada jajaran Forkopimda, Kodim 0210/TU, Polres Tapanuli Utara, serta seluruh komponen masyarakat atas sinergi dalam mendukung berbagai program pemerintah pusat dan daerah selama dua tahun terakhir.
Bupati juga menyadari masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan program di bidang pendidikan, kesehatan, maupun penanganan pengangguran. Ke depan, seluruh program akan terus diperbaiki demi kesejahteraan masyarakat.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita bersinergi dan berkoordinasi dalam melanjutkan pembangunan di segala bidang. Dalam menjalankan tugas, kita berkomitmen untuk melayani masyarakat, bukan untuk dilayani. Segenap aparatur Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara siap melayani masyarakat di segala bidang,” tegas Bupati.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun 2026 mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Tema ini mengandung makna mendalam:
Berdaulat: Mewujudkan kedaulatan rakyat dan memperkuat persatuan bangsa.
Adil: Menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat.
Makmur: Menghadirkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi yang merata.
Desain visual angka 81 pada logo resmi melambangkan semangat gotong royong, sinergi antarlapisan masyarakat, dan komitmen untuk bertumbuh bersama, sejalan dengan motto Kabupaten Tapanuli Utara untuk membangun daerah yang maju, berbudaya, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Dandim 0210/TU Letkol Inf Arm Kiky Hardian, S.Sos. mengapresiasi dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas suksesnya penyelenggaraan upacara di Kabupaten Tapanuli Utara serta tiga kabupaten lain di wilayah Kodim 0210/TU, yaitu Humbang Hasundutan (Humbahas), Toba, dan Samosir. Kodim 0210/TU berada di bawah garis komando Korem 023/Kawal Samudera dan Kodam I/Bukit Barisan.
“Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 RI atas izin Allah SWT telah terlaksana dengan baik, aman, tertib, lancar, dan sukses. Bendera Merah Putih telah berkibar, dan kita semua memberikan penghormatan kepadanya. Semoga Indonesia merdeka sepanjang masa di bawah lindungan dan rahmat Allah SWT,” ujar Dandim 0210/TU.
Dandim menambahkan bahwa jajaran Kodim 0210/TU siap mendukung dan mendampingi program Pemerintah Pusat dan Daerah, khususnya program swasembada pangan dan energi yang menjadi fondasi transformasi bangsa di bawah kepemimpinan Presiden RI Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto.
Letkol Arm Kiky Hardian menginstruksikan seluruh prajurit di wilayah Tapanuli Utara, Humbahas, Toba, dan Samosir untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
“Mari kita bersama-sama menjaga nama baik satuan dan selalu berbuat yang terbaik, berani, tulus, dan ikhlas di mana pun berada. Slogan ini sering disampaikan oleh almarhum Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ke-27,” tuturnya.
Almarhum Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo merupakan putra dari Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, tokoh militer dan mantan Komandan RPKAD (sekarang Kopassus) yang berperan penting dalam penumpasan G30S/PKI atas perintah Jenderal Besar (Purn.) Soeharto. Jenderal Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional di Jakarta pada 10 November 2025, yang diterima oleh putri sulungnya, Hj. Siti Hardijanti Hastuti Rukmana (Tutut Soeharto).
Selain itu, almarhum Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo juga merupakan kakak dari almarhumah Ibu Ani Yudhoyono serta ipar dari Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Anugerah Pahlawan Nasional untuk Jenderal Sarwo Edhie Wibowo diwakili oleh cucunya, Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A., yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dalam Kabinet Merah Putih pada 10 November 2025.
Dandim juga membagikan teladan dari sosok jenderal yang tegas dan senantiasa menekankan pengamalan 8 Wajib TNI:
Bersikap ramah tamah terhadap rakyat.
Bersikap sopan santun terhadap rakyat.
Menjunjung tinggi kehormatan wanita.
Menjaga kehormatan di muka umum.
Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya.
Tidak sekali-kali merugikan rakyat.
Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat.
Menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya.
Prinsip tersebut sering diringkas dengan pesan agar prajurit selalu Baik-Baik Dengan Rakyat (BABADER). Sosok jenderal tersebut adalah almarhum Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan RI ke-25 pada Kabinet Kerja (2014–2019) dan KSAD ke-24 (2002–2005).
Menutup pembicaraannya, Dandim mengingatkan pentingnya memahami sejarah perjuangan pahlawan. Perjuangan kemerdekaan tidak lepas dari peran ulama, seperti pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, yang mengeluarkan fatwa bahwa melawan penjajah adalah jihad fi sabilillah.
Teladan lain ditunjukkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dalam memimpin perang gerilya, beliau selalu menggelorakan pekikan takbir “Allahu Akbar!” untuk membakar semangat para prajurit. Meski mengidap penyakit paru-paru yang parah dan harus ditandu, beliau tetap memimpin perlawanan sambil membiasakan berdoa, berzikir, dan tahlilan bersama pasukannya.
Lahir dari keluarga rakyat biasa di Purbalingga dan diangkat anak oleh pamannya yang seorang priyayi, Soedirman tumbuh menjadi sosok yang rajin, aktif dalam kepanduan Muhammadiyah, serta menjadi guru dan kepala sekolah dasar Muhammadiyah di Cilacap. Pada masa pendudukan Jepang (1942), beliau bergabung dengan PETA sebagai Komandan Batalyon di Banyumas.
Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Soedirman mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Banyumas. Pada 12 November 1945, beliau terpilih menjadi Panglima Besar TKR di Yogyakarta pada usia 29 tahun. Kepemimpinannya semakin diakui setelah berhasil memimpin Pertempuran Ambarawa mengusir pasukan Inggris dan Belanda. Beliau wafat pada 29 Januari 1950 di Magelang pada usia 34 tahun.
Dandim menekankan bahwa hikmah dari perjalanan panjang sejarah bangsa adalah pentingnya menjaga kerukunan dalam keberagaman suku, adat, dan budaya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat Ayat 13:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Dandim mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa bersyukur atas nikmat kemerdekaan dan menjaga perilaku agar terhindar dari murka Allah SWT, mengutip dua ayat Al-Qur’an:
Surah Ibrahim Ayat 7:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat keras.'”
Surah Ar-Rum Ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(Nur Kennan Tarigan)
Sumber: Pendim 0210/TU



































