_Catatan kecil Pasca Muktamar_
Oleh : Faizuddin FM
(Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Tembelang)
Nasionaldetik.com,— 05 September 2026 Jabatan duniawi dalam organisasi hanyalah titipan sementara. Ia bukan ukuran sejati kehormatan seseorang. Ketika seseorang terlalu kemengeng (terlalu berambisi, haus pengakuan), atau terikat hatinya pada jabatan, maka jabatan yang seharusnya menjadi amanah justru dapat berubah menjadi beban moral dan sumber kerusakan hubungan dengan sesama.
Jangan sampai jabatan membuat manusia lupa bahwa dirinya hanyalah seorang hamba, jabatan dapat melahirkan kelalaian dan memenjarakan hati. Ketika seseorang mengejar kedudukan demi pengakuan manusia, hatinya akan terpenjara oleh penilaian manusia. Ia akan sibuk mempertahankan citra, mencari legitimasi, dan takut kehilangan posisi. Padahal, pemimpin yang matang tidak lahir dari kegaduhan mengejar jabatan, melainkan dari proses panjang, keteladanan, pengabdian, dan ketulusan yang tidak selalu dipamerkan.
Jangan Jadikan Jabatan sebagai Berhala Baru, kedudukan bisa menjadi berhala baru ketika hati terlalu bergantung kepadanya. Ambisi mempertahankan jabatan dapat berubah menjadi syahwat politik dan syahwat kekuasaan, bahkan di dalam organisasi keagamaan sekalipun.
Ketika seseorang sudah terlalu kemengeng dengan jabatannya, ia bisa kehilangan kemampuan untuk menerima kritik, sulit melepaskan posisi, dan pada akhirnya tergoda mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara, bahkan dengan mengorbankan nilai-nilai kebenaran dan persaudaraan.
Maqam Tajrid dan Maqam Kasab. Dalam kehidupan spiritual, kita mengenal maqam tajrid dan maqam kasab. Jika Allah memberikan amanah berupa jabatan, terimalah dengan rendah hati dan tunaikan sebagai bentuk ibadah dan pengabdian, tetapi jika jabatan itu tidak diberikan, jangan mengejar-ngejarnya sampai mengorbankan kehormatan, persaudaraan, dan ketenangan hati.
Tetaplah berbuat baik dari posisi mana pun, sebab nilai pengabdian seseorang tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan. Ada orang yang tidak memiliki jabatan, tetapi manfaatnya luar biasa, ada pula orang yang memiliki jabatan tinggi, tetapi tidak mampu memberikan keteladanan. Setiap jabatan organisasi memiliki masa bakti. Ada waktunya datang, ada waktunya pergi.
Orang yang sejak awal menjadikan jabatan sebagai tujuan hidup akan sulit ketika masa kekuasaannya berakhir. Ia dapat mengalami Post power syndrome, kekosongan, kehilangan arah, bahkan merasa kehilangan jati diri ketika tidak lagi memiliki posisi, sebaliknya, orang yang sejak awal menganggap jabatan hanya sebagai alat untuk berkhidmat, akan tetap tenang ketika amanah itu dilepaskan, yang ia cari adalah ridha Allah dan kemanfaatan bagi umat.
Maka, siapa pun yang berada di lingkungan PBNU, janganlah terlalu kemengeng terhadap jabatan, jangan jadikan kursi sebagai ukuran kehormatan, jangan jadikan posisi sebagai sumber kesombongan, jangan jadikan kekuasaan sebagai tujuan perjuangan. Jabatan hanyalah alat untuk mengukur tanggung jawab dan ladang amal, bukan penentu harga diri seseorang di hadapan manusia.
Ketika mendapat jabatan, berkhidmatlah, ketika kehilangan jabatan, tetaplah berkhidmat, ketika tidak mendapat jabatan, tetaplah berbuat baik, sebab orang yang benar-benar mengabdi kepada umat tidak akan kehilangan jalan untuk berkhidmat hanya karena kehilangan jabatan. PBNU membutuhkan orang-orang yang siap mengabdi, bukan orang-orang yang kemengeng berkuasa.
Jabatan untuk berkhidmat, bukan untuk berkuasa.
Tim Redaksi





























