Nasionaldetik.com – Jakarta. 17 Juli 2026 – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mempercepat transformasi layanan kepelabuhanan melalui implementasi program sterilisasi pelabuhan sebagai langkah membangun sistem penyeberangan yang lebih aman, tertib, modern, dan terintegrasi.
Sebagai tahapan akhir sebelum implementasi, ASDP menggelar sosialisasi intensif di enam pelabuhan utama, yakni Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk, Kayangan, dan Lembar. Program sterilisasi dijadwalkan mulai diterapkan melalui soft launching pada Senin, 20 Juli 2026.
Program ini merupakan bagian dari transformasi operasional ASDP dalam memperkuat pengelolaan kawasan pelabuhan sebagai objek vital transportasi nasional. Berbagai teknologi diterapkan, mulai dari registrasi digital, Face Recognition (FR), pengendalian akses berbasis zonasi, hingga One Gate System, guna menciptakan tata kelola pelabuhan yang lebih aman, transparan, dan akuntabel.
Direktur Operasional dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Rio Lasse, mengatakan sterilisasi pelabuhan bukan hanya sebatas pengaturan akses, tetapi merupakan perubahan menyeluruh dalam sistem operasional pelabuhan.
“Sterilisasi pelabuhan bukan sekadar pengaturan akses, tetapi transformasi menyeluruh dalam cara kita mengelola operasional. Kami ingin memastikan setiap orang, kendaraan, dan aktivitas di kawasan pelabuhan dapat teridentifikasi, terverifikasi, dan termonitor dengan baik,” ujar Rio.
Menurutnya, penerapan teknologi digital tersebut akan memperkuat keamanan objek vital sekaligus meningkatkan keandalan operasional dan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa.
Penataan Kawasan Pelabuhan
Di Pelabuhan Merak, ASDP bersama regulator, aparat keamanan, dan pemangku kepentingan lainnya terus mengintensifkan patroli gabungan, sosialisasi sterilisasi, serta penataan kawasan pelabuhan agar hanya pihak yang berkepentingan yang dapat memasuki area operasional.
Penataan juga menyasar pedagang asongan melalui pendataan ulang, penempatan lokasi berjualan, pemberian identitas resmi, hingga penataan kawasan sekitar Masjid Keramat. Selain itu, penerapan One Gate System diperkuat dengan pemasangan CCTV, pagar pembatas, rambu-rambu, penerangan, dan pos pengawasan.
Sementara di Pelabuhan Bakauheni, persiapan difokuskan pada penyelesaian infrastruktur pendukung, pemasangan rambu dan media sosialisasi, pendataan akses berbasis Face Recognition, penataan jalur kendaraan, serta penguatan sistem pengawasan terpadu melalui CCTV dan vehicle monitoring.
Koordinasi juga terus dilakukan bersama regulator, operator kapal, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan implementasi berjalan efektif dan konsisten.
Bangun Budaya Keselamatan
Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menegaskan bahwa sosialisasi menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman bersama sebelum kebijakan diterapkan secara penuh.
Menurutnya, sterilisasi pelabuhan bukan untuk membatasi aktivitas masyarakat, melainkan membangun budaya baru yang mengedepankan keselamatan, keamanan, kedisiplinan, dan pelayanan prima.
“Dengan kolaborasi regulator, operator kapal, aparat keamanan, dan seluruh mitra kerja, kami optimistis implementasi sterilisasi akan menjadi fondasi terciptanya pelabuhan penyeberangan yang semakin modern, efisien, dan berstandar internasional demi mendukung konektivitas nasional,” kata Windy.
Implementasi sterilisasi pelabuhan mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2021 tentang Zonasi Kawasan Pelabuhan Penyeberangan, serta berbagai regulasi terkait pengamanan objek vital transportasi.
Melalui program ini, ASDP berharap dapat menghadirkan layanan penyeberangan yang semakin aman, tertib, efisien, dan berstandar internasional bagi seluruh pengguna jasa. (*/Ism)

























