KH KRT Abdul Chalim : Sebagai Dzurriyah Walisongo, Gus Gudfan Simbol Pemersatu dan Sosok yang Layak Menakhodai PBNU

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:53 WIB

5082 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasionsldetik.com – Banyuwangi, 16 Juli 2026 Memasuki abad kedua berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), tantangan zaman yang dihadapi jam’iyah tidak lagi sederhana. NU membutuhkan nakhoda yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga memiliki jangkar spiritual yang menghujam dalam ke bumi Nusantara. Di titik krusial inilah, seruan untuk menghadirkan pemimpin dari kalangan Dzurriyah Walisongo menemukan relevansi tertingginya, terang KH KRT Abdul Chalim Al – Khowwas yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren An – Nurul Qodiri Genteng Banyuwangi sekaligus Panutan dan sesepuh Pagar Nusa.

Kyai Chalim, menguraikan pendapat dan wejanganya tentang H Gudfan Arif Ghofur (Gus Gudfan) yang saat ini mengemban amanah sebagai Bendahara Umum PBNU yang dinilai sangat pantas untuk menakhodai PBNU. Kyai Chalim mendedarkan secara rinci dan detail terkait alasanya mendukung Gus Gudfan.

*​1. Legitimasi Spiritual dan Keberkahan Nasab (Sanad)*

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Dalam tradisi pesantren, sanad (mata rantai) keilmuan dan perjuangan adalah segalanya. Walisongo bukan sekadar tokoh sejarah; mereka adalah arsitek utama peradaban Islam yang ramah, moderat, dan membumi di Nusantara—fondasi yang kelak diadopsi utuh oleh _Hadratussyaikh_ KH. Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU.

_​”Memimpin NU bukan sekadar mengelola organisasi kemasyarakatan, melainkan mengawal mandat langit. Pemimpin dari Dzurriyah Walisongo membawa berkah genetika perjuangan yang mewarisi karamah, ketulusan, dan riyadhoh para wali.”_

Legitimasi spiritual Gus Gudfan tidak tumbuh dari ruang hampa. Beliau adalah putra dari Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur ulama kharismatik sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Dari garis nasab dan khidmah pesantren ini, mengalir darah dan sanad perjuangan langsung dari Raden Qasim (Sunan Drajat), salah satu pilar utama Walisongo.

_​”Mengalirkan darah Sunan Drajat berarti mewarisi dua karakter utama: keteguhan spiritual dalam menjaga syariat, dan keluwesan strategi dalam memberdayakan ekonomi umat.”_

​Di bawah asuhan dan garis keturunan penyebar Islam Nusantara inilah, Gus Gudfan dibentuk menjadi pribadi yang tidak hanya memahami teks-teks klasik pesantren, tetapi juga menghayati bagaimana Walisongo berdakwah dengan merangkul, bukan memukul; membangun, bukan meruntuhkan.

*​2. Poros Tengah: Titik Temu Kultural dan Struktural*

Walisongo berhasil mengislamkan Jawa dan Nusantara tanpa pertumpahan darah karena mereka menggunakan pendekatan dakwah kultural: merangkul adat, menyempurnakan tradisi, dan menolak konfrontasi radikal. Prinsip _Tawasuth_ (moderat), _Tawazun_ (seimbang), _I’tidal_ (tegak lurus), dan _Tasamuh_ (toleran) yang menjadi pilar NU adalah manifestasi langsung dari manhaj dakwah Walisongo.

​Di tengah dinamika bursa Ketum PBNU yang kerap memunculkan ketegangan antar-faksi politik dan tarikan kepentingan. PBNU membutuhkan figur penyembuh, sebuah jangkar yang bisa diterima oleh semua pihak, sosok Dzurriyah Walisongo (Gus Gudfan) hadir sebagai Poros Tengah yang _Transenden_.

​Nasab Walisongo melintasi sekat-sekat geografis dan politik kontemporer. Baik kubu struktural maupun kultural, blok timur maupun barat, semuanya menaruh hormat yang tinggi kepada dzurriyah para wali. Kehadirannya sebagai Bendahara PBNU saat ini, beliau memiliki kedekatan struktural dengan jalannya roda organisasi. Namun, sebagai dzurriyah Walisongo dan representasi pesantren, beliau memegang erat restu kultural dari para kiai sepuh. Posisinya yang bersih dari polarisasi politik masa lalu menjadikannya sebagai ruang rekonsiliasi yang aman bagi seluruh elemen Nahdliyin. Gus Gudfan adalah titik temu yang menyejukkan.

*3. Manifestasi Dakwah Ekonomi Walisongo Abad Kedua*

​Salah satu ajaran terkenal dari Sunan Drajat (leluhur Gus Gudfan) adalah filosofi:

_”Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe”_(Berilah tongkat pada orang buta, berilah makan pada orang yang lapar). Ini adalah cetak biru dakwah sosial-ekonomi.

​Filosofi luhur Walisongo inilah yang kini diterjemahkan secara modern oleh Gus Gudfan. Latar belakangnya sebagai profesional dan pengusaha sukses di sektor riil menjadi bukti bahwa ia adalah dzurriyah yang sukses melakukan kontekstualisasi zaman.

​Di bawah nakhoda Gus Gudfan, Poros Tengah ini akan membawa PBNU fokus pada:

– *Kemandirian Ekonomi Warga*: Membangun ekosistem bisnis Nahdliyin yang mandiri dan lepas dari ketergantungan eksternal.

– *Digitalisasi dan Modernisasi Organisasi*: Mengelola PBNU dengan manajemen korporasi yang transparan, bersih, dan akuntabel tanpa kehilangan ruh pesantren.

– *Pemberdayaan Pesantren Akar Rumput*: Menghidupkan kembali fungsi pesantren sebagai pusat peradaban ekonomi daerah.

*​4. Menjawab Tantangan Global dengan Akar Lokal*

​Menghadirkan Dzurriyah Walisongo memimpin PBNU bukanlah langkah mundur ke masa lalu, melainkan strategi melompat ke masa depan tanpa kehilangan pijakan bumi. Indonesia hari ini digadang-gadang menjadi pusat peradaban Islam dunia melalui konsep Islam Wasathiyah.

​Siapa yang lebih pantas merepresentasikan wajah Islam Nusantara yang damai itu di panggung internasional selain keturunan dari para pendirinya sendiri? Dengan kombinasi wawasan modern dan karisma spiritual Wali, sosok ini layak membawa PBNU menembus batas dunia global dengan tetap memegang teguh identitas lokal.

*Waktunya Pulang ke Sanad Perjuangan*

​Memilih pemimpin dari Dzurriyah Walisongo untuk PBNU adalah sebuah ikhtiar untuk “*pulang*” ke akar sejarah. Ini adalah momentum bagi PBNU untuk merefresh kembali niat khidmah, membersihkan organisasi dari residu kepentingan jangka pendek, dan melangkah ke abad kedua dengan restu spiritual yang kokoh.

Sudah saatnya PBNU melangkah maju ke masa depan yang modern dan mandiri, dengan tetap membawa berkah dan berdiri tegak sebagai poros tengah yang merangkul semua faksi. Membawa kapal besar NU berlayar di samudera zaman dengan selamat, berkah, dan bermartabat, Pungkas Kyai Chalim. ( Red )

 

Berita Terkait

Fidiel Castro Minta Dugaan Keterlibatan K3S, MKKS, dan Disdikbud Diusut Transparan
PPWI Ogan Ilir Sambangi Polda Sumsel, Fidiel Castro: Kebenaran Harus Diungkap, Jangan Biarkan Fitnah Berlarut!
Tak Henti-hentinya Satgas TMMD 130 Kodim 0209/Labuhanbatu, Berjibaku kejar Sasaran Pisik.
Kunjungan DPD IWO-I Deli Serdang di Sambut Oleh Ketua OKK DPP IWO-I Bersama DPW IWO-I DKI Jakarta
Sambut HUT ke-75 Humas Polri, Polres Inhil Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan Muhammadiyah
PCNU KOTA JAMBI MENERIMA BANTUAN MASKER DARI BPBD KOTA JAMBI UNTUK APEL HARI SANTRI NASIONAL 2026*
53 Pelajar Kabupaten Kediri Bawa Misi Kenalkan Seni dan Budaya di Kraton Yogyakarta
Sedekah Oksigen Tanam Kebaikan, Merawat Kehidupan, Menghadirkan Kesejukan Untuk Kencong

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:49 WIB

“Menabrak UU dan Yurisprudensi MK, Pelolosan Jaya S. Monong di Pilkada Gunung Mas 2018 Resmi Dilaporkan ke APH”

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:54 WIB

Apel Pagi Satgas TMMD ke-130 Kodim 0206/Dairi, Kesiapan Personel Jadi Kunci Tuntaskan Sasaran Pembangunan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:40 WIB

Satu Barisan, Satu Tujuan! Satgas TMMD ke-130 Kodim 0206/Dairi Siap Tuntaskan Sasaran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:35 WIB

Gempur Lima Rumah Sekaligus! Satgas TMMD ke-130 Kodim 0206/Dairi Percepat Pembangunan RTLH di Sibongkaras

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:23 WIB

Satgas TMMD ke-130 Kodim 0206/Dairi Percepat Pembangunan Lima RTLH di Sibongkaras

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:17 WIB

Kodim 0206/Dairi Bangun Lima Rumah Warga Melalui Program TMMD Reguler ke-130

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:56 WIB

Medan Terjal Tak Surutkan Semangat! Satgas TMMD ke-130 Kodim 0206/Dairi Buka Jalan 1.000 Meter Menuju Sibongkaras

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:50 WIB

Tak Kenal Lelah di Medan Berat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0206/Dairi Berjuang Buka Jalan 1.000 Meter

Berita Terbaru