Nasionaldetik.com,— Jalan Kebumen – Purworejo Karangnongko (Bts. DIY) senilai Rp 158,143 Miliar sepanjang 17,16 KM. Proyek ini dipertaruhkan sebagai solusi permanen, tetapi justru disambut skeptis karena potensi pengulangan kegagalan kualitas yang sama.
PT. Gita Cipta Sagayasa (KSO) PT. Seecons. Pemilik Proyek: Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II (di bawah BBPJN Warga Kebumen (pedagang, pengguna jalan).
Ruas Jalan Nasional Kebumen-Purworejo, Jawa Tengah, dengan titik macet yang diprediksi di kawasan padat seperti Gombong, Wero, dan Sruweng.
17 November 2025. Target Selesai: 540 hari kalender (berarti sekitar Mei 2027). Konteks Kritik: Setelah rusaknya pekerjaan sebelumnya di ruas Guyangan Ngidul sampai Petanahan.
Kekhawatiran utama warga: Trauma mendalam terhadap kualitas pekerjaan penyedia jasa yang sama di masa lalu. Mereka khawatir Rp 158 Miliar akan menjadi “monumen pemborosan anggaran” yang kembali ambles atau rusak dini, gagal menahan beban truk dan cuaca ekstrem.
Proyek ini akan dilaksanakan selama 540 hari, diikuti masa pemeliharaan 365 hari. Pelaksanaan ini berpotensi memicu kemacetan parah yang menuntut manajemen lalu lintas yang serius dan pengawasan ekstra ketat dari Konsultan Supervisi (PT. Gita Cipta Sagayasa) untuk menjamin mutu material dan spesifikasi.
Mengapa Kontraktor dengan Track Record Buruk Dipilih Lagi?
Dana sebesar Rp 158 Miliar untuk 17,16 KM jalan nasional—setara dengan Rp 9,2 Miliar per kilometer—semestinya menjamin mutu jalan tahan banting yang berumur panjang. Namun, proyek ini telah dinodai oleh track record buruk pelaksananya.
PT. Karya Adi Kencana, sebagai penyedia jasa yang sama, dikritik langsung oleh warga Kebumen karena dianggap bertanggung jawab atas kerusakan parah di ruas Guyangan Ngidul hingga Petanahan. Pertanyaannya, mengapa Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II (BBPJN Jateng-DIY) kembali memenangkan kontraktor yang kinerjanya dikeluhkan masyarakat?

Apakah proses tender paket Rp 158 Miliar ini sudah mempertimbangkan past performance (kinerja masa lalu) kontraktor secara komprehensif, khususnya keluhan masyarakat yang menunjuk langsung pada kualitas pekerjaan sebelumnya?
Konsultan Supervisi, PT. Gita Cipta Sagayasa (KSO) PT. Seecons, kini memegang taruhan terbesar. Mereka tidak hanya bertugas mengawasi teknis, tetapi juga mengembalikan kepercayaan publik yang sudah terkikis. Label “Supervisi” tidak boleh menjadi formalitas; itu adalah garansi kualitas.
Dengan biaya per kilometer yang fantastis, BBPJN harus secara transparan mengumumkan spesifikasi teknis dan metode pengujian material yang akan menjamin jalan ini tidak akan “ambles, pecah, atau bergelombang” sebelum masa pemeliharaan 365 hari berakhir.
Proyek ini bukan sekadar pembangunan jalan, tetapi ujian kredibilitas lembaga negara dalam mengelola uang rakyat. Masyarakat Kebumen-Purworejo kini menunggu, apakah dana Rp 158 Miliar akan melahirkan infrastruktur yang kokoh, atau hanya mengulang sejarah pahit pemborosan anggaran.
Apakah Anda ingin saya mencari respons resmi dari BBPJN terkait kritik ini, atau informasi mengenai evaluasi tender proyek tersebut?
Tim Redaksi Prima







































