Oleh : Faizuddin FM Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Tembelan
Nasionaldetik.com,—- 27 Mei 2026 Makna utama yang terkandung dalam Idul Adha (Hari Raya Qurban), ketakwaan, keikhlasan, kepedulian sosial, penyucian harta dan simbol pengendalian diri. Ketakwaan dan keikhlasan adalah fondasi moral (akhlak) yang krusial bagi pejabat pemerintahan.
Keduanya mengubah kekuasaan menjadi sebuah amanah pengabdian yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan akuntabilitas, manifestasi kedua nilai tersebut dalam tata kelola pemerintahan yang baik akan menghasilkan pribadi anti-korupsi, Ketakwaan menumbuhkan kesadaran bahwa segala tindakan diawasi oleh Tuhan, sehingga mencegah penyalahgunaan wewenang, suap, dan korupsi. Kedua, terciptanya keadilan sosial, mendorong pejabat untuk berlaku adil dan tidak diskriminatif dalam mengambil kebijakan serta mendistribusikan anggaran.
Ketiga, keikhlasan, jiwa pengabdian tanpa pamrih, bekerja semata-mata untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk mencari pujian, popularitas, atau keuntungan pribadi, menerima jabatan sebagai titipan sementara yang kelak harus dipertanggungjawabkan, sehingga menjauhkan diri dari sifat arogan, berpondasi keikhlasan, membuat pejabat tetap tegar, sabar, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi kritik maupun tekanan publik.
Pejabat yang menggabungkan ketakwaan dan keikhlasan akan melahirkan tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance) dan pelayanan publik yang prima.
Oleh karena itu, para pejabat negara, termasuk presiden yang sedang menjabat wabil khusus Bupati Jombang beserta seluruh OPD, diharapkan membuka hati, pikiran, dan inderanya untuk merenungkan pesan moral yang terkandung dalan Idul Adha.
Dalam menjalankan amanah kepemimpinan, ada prinsip utama yang harus diperhatikan, yaitu, seorang pemimpin harus memberikan petunjuk dan arahan kepada rakyatnya, bukan sekadar kepentingan politik atau kebijakan pribadi, Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab besar dalam menjalankan tugasnya, pertama, menegakkan ibadah sholat dan mendorong rakyatnya untuk melakukan hal yang sama, menunaikan zakat sebagai bentuk kepedulian sosial, bukan sekadar membayar pajak. membuat kebijakan yang adil dan sejahtera bagi rakyat.
melindungi rakyat dari segala bentuk kedzaliman dan tindakan yang merugikan. menyadari bahwa setiap kebijakan dan tindakan akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.
Makna kedua yang terkandung dalam Idul Adha, Kepedulian sosial bagi pejabat pemerintah adalah komitmen moral dan tanggung jawab untuk mengutamakan kesejahteraan Masyarakat, hal ini dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat, pelayanan publik yang inklusif, transparansi anggaran, serta keteladanan hidup sederhana untuk membangun kepercayaan public, penerapan utama kepedulian sosial bagi pejabat publik meliputi.
Pertama, kebijakan pro-Rakyat, merancang dan mengimplementasikan program pengentasan kemiskinan, layanan kesehatan gratis atau bersubsidi, pendidikan merata, dan penyediaan lapangan kerja.
Kedua pelayanan publik yang Setara, memberikan pelayanan prima tanpa diskriminasi, mengutamakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan lansia, serta memangkas birokrasi agar lebih cepat dan efisien.
Ketiga, keteladanan hidup (Integritas), menghindari perilaku pamer kekayaan (flexing) dan memastikan anggaran negara (seperti APBD/APBN) digunakan sepenuhnya untuk pembangunan dan kepentingan masyarakat luas bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Keempat, aksi kemanusiaan langsung, terjun langsung ke lapangan saat terjadi bencana alam atau krisis sosial, serta menginisiasi program bantuan sosial seperti donor darah atau pembagian sembako.
Paling tidak ada dua Kriteria Pemimpin yang Peduli, Akomodatif dan Kolaboratif, menjadikan kritik dan keluhan publik sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja pemerintahan, mengajak sektor swasta dan masyarakat untuk bergotong royong menyelesaikan masalah sosial, seperti kemiskinan dan lingkungan.
Tim Redaksi







































