EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 19 September 2026 - 10:14 WIB

50104 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TEGAL — Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) akan menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) DPC PA GMNI se-Eks Karesidenan Pekalongan pada Minggu, 20 September 2026, bertempat di Hotel SunQta Guci.

Konfercab PA GMNI Se-Eks Karesidenan Pekalongan: Merawat Api Marhaenisme, Meneguhkan Peran Alumni di Tengah Perubahan ZamanAgenda tersebut menjadi ruang konsolidasi sekaligus refleksi bagi para alumni GMNI di wilayah eks Karesidenan Pekalongan untuk mempertautkan kembali gagasan, pengalaman, dan semangat perjuangan yang telah diwariskan dari perjalanan panjang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.
Konfercab bukan sekadar forum pergantian atau penataan kepengurusan. Lebih jauh, forum tersebut dapat menjadi momentum untuk membaca kembali identitas ideologis, sejarah perjuangan, serta relevansi nilai-nilai GMNI dan PA GMNI terhadap persoalan kebangsaan hari ini.
Dari Marhaenisme hingga Perjalanan Panjang GMNI
Secara historis, GMNI lahir melalui proses peleburan tiga organisasi mahasiswa yang memiliki akar pemikiran Marhaenisme, yakni Gerakan Mahasiswa Marhaen di Yogyakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka di Surabaya, dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia di Jakarta.
Kelahiran GMNI kemudian ditetapkan pada 23 Maret 1954 di Surabaya melalui Kongres I. Sejak awal, nasionalisme dan Marhaenisme menjadi bagian penting dari identitas perjuangannya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Marhaenisme dalam tradisi GMNI bukan sekadar istilah sejarah. Ia ditempatkan sebagai cara pandang untuk membaca persoalan ketidakadilan dan keberpihakan terhadap rakyat kecil atau kaum Marhaen. Karena itu, perjalanan GMNI dari masa ke masa tidak dapat dilepaskan dari gagasan mengenai kedaulatan rakyat, keadilan sosial, nasionalisme, serta cita-cita Indonesia yang berdaulat.
Dalam perkembangannya, GMNI melewati berbagai fase sejarah bangsa. Dari masa awal kemerdekaan, dinamika Demokrasi Terpimpin, perubahan politik nasional, masa Orde Baru, hingga Reformasi dan era demokrasi kontemporer, organisasi tersebut terus berhadapan dengan perubahan zaman dan tantangan baru.

Dari Kampus ke Ruang Pengabdian
Salah satu karakter penting dalam tradisi GMNI adalah hubungan antara pemikiran dan tindakan.
Semangat itu kemudian menemukan rumusan yang kuat dalam tradisi PA GMNI melalui motto:
“Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang.”
Rumusan tersebut menggambarkan dua sisi yang tidak seharusnya dipisahkan: perjuangan membutuhkan pemikiran, sementara pemikiran memperoleh makna ketika diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Dalam perjalanan alumni, semangat tersebut tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan bangku perguruan tinggi. PA GMNI sendiri menjelaskan bahwa alumni tetap membawa tugas ideologis dan semangat pengabdian melalui ruang kehidupan yang lebih luas.

Sejarah organisasi alumni kemudian berkembang dari Forum Komunikasi Alumni GMNI (FKA GMNI) pada era 1990-an hingga lahirnya Persatuan Alumni GMNI sebagai organisasi kemasyarakatan pada Kongres I tahun 2006. Dalam momentum tersebut, PA GMNI menetapkan Pancasila 1 Juni 1945 sebagai dasar, Marhaenisme ajaran Bung Karno sebagai asas, serta semboyan Pejuang Pemikir–Pemikir Pejuang sebagai motto perjuangan.

Membaca Kembali Trisakti di Tengah Perubahan Zaman
Dalam perjalanan berikutnya, gagasan Trisakti juga menjadi salah satu elemen penting dalam tradisi pemikiran PA GMNI.
Tiga prinsip tersebut—berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan—menawarkan kerangka untuk melihat persoalan bangsa secara lebih luas.
Karena itu, ketika zaman berubah dari era konvensional menuju era digital, tantangan yang dihadapi pun ikut berubah.
Persoalan kedaulatan hari ini tidak hanya berbicara mengenai wilayah dan politik, tetapi juga menyentuh teknologi, data, sumber daya strategis dan kemampuan bangsa menentukan arah pembangunan.
Begitu pula dengan kemandirian ekonomi yang tidak hanya berkaitan dengan produksi nasional, tetapi juga bagaimana masyarakat, UMKM, petani, nelayan, pekerja, dan kelompok ekonomi rakyat memperoleh ruang yang adil dalam struktur perekonomian.
Sementara kepribadian dalam kebudayaan menjadi semakin penting ketika arus informasi global bergerak begitu cepat dan batas budaya semakin terbuka.
Konfercab dan Tantangan Alumni di Daerah
Dalam konteks itulah, Konfercab DPC PA GMNI se-Eks Karesidenan Pekalongan memiliki relevansi tersendiri.
Wilayah eks Karesidenan Pekalongan memiliki karakter sosial, ekonomi dan kebudayaan yang beragam. Di dalamnya terdapat masyarakat perkotaan, pedesaan, pelaku UMKM, petani, pekerja, akademisi, birokrat, aktivis, serta berbagai kelompok masyarakat yang menghadapi persoalan masing-masing.
Forum alumni diharapkan tidak hanya menjadi ruang nostalgia terhadap masa lalu organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman generasi lama dengan kebutuhan generasi baru.
Api perjuangan tidak harus dinyalakan dengan cara yang sama seperti masa lalu. Yang perlu dijaga adalah nilai dan orientasinya, sementara cara perjuangannya harus mampu menjawab zamannya.
Di sinilah makna Pejuang Pemikir–Pemikir Pejuang menemukan konteks aktualnya.
Alumni GMNI tidak hanya dituntut mengingat sejarah, tetapi juga mampu menjadikan sejarah sebagai bahan refleksi untuk membaca masa depan.
Menjaga Ideologi, Membuka Ruang Dialog
PA GMNI dalam rumusan organisasinya menempatkan organisasi sebagai wadah yang bersifat intelektual, kekeluargaan, independen dan terbuka, sekaligus menghormati status, kedudukan, fungsi dan aspirasi politik para anggotanya.
PAGMNI
Prinsip tersebut menjadi penting dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan pandangan tidak semestinya menghilangkan persaudaraan, sementara kesamaan ideologi tidak harus menghapus ruang dialog.
Justru di tengah masyarakat yang semakin kompleks, organisasi alumni dituntut mampu menjadi ruang pertukaran gagasan yang sehat, produktif dan konstruktif.
Konfercab dengan demikian dapat dimaknai sebagai titik temu antara sejarah, kaderisasi, pengalaman dan masa depan organisasi.
Dari Guci untuk Pekalongan Raya
Pelaksanaan Konfercab di kawasan Guci juga membawa simbol tersendiri. Dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan, para alumni dapat mengambil jarak sejenak untuk melihat perjalanan organisasi secara lebih jernih.
Dari sejarah GMNI yang lahir pada 1954, melewati berbagai perubahan politik dan sosial, hingga perjalanan PA GMNI yang membangun konsolidasi alumni sejak dekade 1990-an dan kemudian membentuk organisasi secara formal pada 2006, terdapat satu benang merah: perjuangan membutuhkan kesinambungan antargenerasi.
PAGMNI
Maka Konfercab DPC PA GMNI se-Eks Karesidenan Pekalongan bukan hanya tentang siapa yang memimpin organisasi ke depan.
Lebih dari itu, forum tersebut merupakan pertanyaan bersama:
Masihkah nilai-nilai Marhaenisme mampu dibumikan dalam persoalan rakyat hari ini?
Mampukah alumni tetap menjadi “pejuang pemikir” sekaligus “pemikir pejuang” di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan politik?
Dan yang paling penting, bagaimana semangat kebangsaan yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata bagi masyarakat?
Sebab pada akhirnya, sejarah sebuah gerakan tidak hanya diukur dari panjangnya perjalanan, tetapi dari seberapa jauh gagasannya tetap hidup dan memberikan manfaat bagi rakyat.
Konfercab PA GMNI se-Eks Karesidenan Pekalongan di Guci menjadi salah satu ruang untuk menjawab pertanyaan tersebut—merawat warisan sejarah, mempertemukan gagasan, dan menatap masa depan dengan semangat kebangsaan yang tetap berpijak pada rakyat.
Catatan: informasi waktu dan lokasi kegiatan di atas mengikuti poster yang Anda kirim; sumber sejarah GMNI dan PA GMNI diperiksa dari sumber organisasi dan rujukan kebudayaan yang tersedia.

Berita Terkait

Dukung Usaha Warga Binaan, Serka Rochani Sambangi Pelaku Bengkel Mobil
Babinsa Koramil 22/Slogohimo Hadiri Musyawarah Penyusunan RKP Desa TA 2027
Bukan Cuma Drill Biasa, TNI Tembus Tanah 60 Meter Demi Atasi Warga Majalengka dari Kekeringan
Polresta Malang Kota Raih Kompolnas Awards 2026, Terbaik Nasional Kategori Polres Kelompok C
*100 Prajurit TNI AD Ikuti Safety Campaign, Pesan Danrem: Siap Diri, Siap Kendaraan*
Koramil 07/JH Gelar Patroli Kolaboratif: Sisir Objek Vital hingga Imbau Warga Waspada Bencana
IWO Indonesia DPW Jakarta Raya Audiensi ke Dispora DKI, Jajaki Kemitraan Kepemudaan dan Olahraga
Jembatan Garuda Mulai Dibangun, Prajurit Tangguh Kodim 0206/Dairi Hadir Bersama Warga

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 11:16 WIB

Dukung Usaha Warga Binaan, Serka Rochani Sambangi Pelaku Bengkel Mobil

Sabtu, 19 September 2026 - 11:10 WIB

Babinsa Koramil 22/Slogohimo Hadiri Musyawarah Penyusunan RKP Desa TA 2027

Jumat, 18 September 2026 - 23:40 WIB

Bukan Cuma Drill Biasa, TNI Tembus Tanah 60 Meter Demi Atasi Warga Majalengka dari Kekeringan

Jumat, 18 September 2026 - 23:00 WIB

Polresta Malang Kota Raih Kompolnas Awards 2026, Terbaik Nasional Kategori Polres Kelompok C

Jumat, 18 September 2026 - 22:53 WIB

*100 Prajurit TNI AD Ikuti Safety Campaign, Pesan Danrem: Siap Diri, Siap Kendaraan*

Jumat, 18 September 2026 - 22:42 WIB

Koramil 07/JH Gelar Patroli Kolaboratif: Sisir Objek Vital hingga Imbau Warga Waspada Bencana

Jumat, 18 September 2026 - 21:41 WIB

IWO Indonesia DPW Jakarta Raya Audiensi ke Dispora DKI, Jajaki Kemitraan Kepemudaan dan Olahraga

Jumat, 18 September 2026 - 21:23 WIB

Jembatan Garuda Mulai Dibangun, Prajurit Tangguh Kodim 0206/Dairi Hadir Bersama Warga

Berita Terbaru