Nasionaldetik.com, —- Merangin, 3 September 2026 – Pengadaan seragam SMPN 4 Merangin tahun 2026 kembali jadi sorotan. Usai H. Chaidir dari Toko Pratama mengakui menggunakan sistem konveksi, kini fokus pemburuan mengarah ke dua rekanan lain yang ikut dalam proyek tersebut.
Terdeteksi adanya dua rekanan lain selain H. Chaidir. Keduanya berdomisili di Kelurahan Pasar Bawah, Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin. Berdasarkan informasi yang dihimpun, seluruh bahan seragam dari rekanan di Pasar Bawah dikerjakan dengan sistem jahit.
Adapun identitas kedua rekanan tersebut belum diketahui. Hingga berita ini diterbitkan, keduanya masih dalam proses konfirmasi.
Keluhan wali murid muncul saat pengambilan seragam di Toko Pratama pada Senin, 25 Agustus 2026. Sebelumnya, pada 24 Agustus 2026, Buktipetunjuk.id juga memberitakan keluhan serupa. Konfirmasi kepada H. Chaidir dilakukan pada Kamis, 28 Agustus 2026.
Seragam yang dijanjikan sekolah menggunakan sistem tailor atau “jahit sesuai ukuran”, nyatanya dikerjakan dengan sistem konveksi massal. Akibatnya, ratusan siswa tidak mendapatkan seragam yang pas di badan dan harus menunggu hingga satu bulan untuk mendapatkan ukuran yang tersedia.
“Kami langsung disuruh cari yang pas dari tumpukan baju. Karena tak ada yang cocok, kami diminta pulang dan menunggu sebulan,” kata salah seorang wali murid.
Upaya konfirmasi kepada Ragil Tri Minerva, S.Pd., Kepala SMPN 4 Merangin, telah dilakukan sejak awal Agustus 2026. Namun hingga kini belum ada jawaban.
Pemilik Toko Pratama, H. Chaidir, membenarkan pihaknya menggunakan sistem konveksi.
“Kito sistem konveksi, bukan tailor. Tailor yo main potong sikok-sikok. Kalau konveksi sekali potong berapo, misalnyo 15 sekali potong. Terkait perbedaan tidak ado, perbedaannyo di metode sajo,” jelas H. Chaidir saat dihubungi pukul 13.31 WIB, Kamis (28/8/2026).
Ia juga menjelaskan pembagian pekerjaan. “Sayo hanyo ngambil pakaian Pramukanyo sajo. Sebagian kami kerjakan, sebagian dilempar ke penjahit lain. Sistem konveksi pas lah. Tidak ado yang salah,” tambahnya.
H. Chaidir juga menyebut tetap menjahit, hanya saja menggunakan standar ukuran S, M, L, XL, XXL dan angka 14, 16, 18. “Kalau tidak tahu ukurannya bagaimana bisa kami jahit?” katanya.
Seorang ahli penjahit tailor menilai sistem konveksi dengan ukuran standar tersebut tidak dapat menjamin seragam pas di badan siswa. Berbeda dengan sistem tailor yang diukur berdasarkan lingkar dada, panjang badan, dan panjang lengan satu per satu.
Saat ditanya mengenai keuntungan jika pengerjaan tailor dilakukan dengan sistem konveksi, ia menjawab, “Ya, sangat besar untungnya.”
Hingga berita ini diterbitkan, pelacakan terhadap identitas dua rekanan di Pasar Bawah, jumlah siswa terdampak, dan total nilai pengadaan seragam di SMPN 4 Merangin tahun 2026 masih dilakukan.
Upaya konfirmasi kepada Kepala Sekolah SMPN 4 Merangin, Ragil Tri Minerva, S.Pd., melalui telepon pada Senin, 31 Agustus 2026, juga belum mendapat jawaban.
Reporter: Gondo Irawan





























