Nasionaldetik.com,— 22 Mei 2026 Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menyoroti rencana pemerintah yang akan mengimpor 100 ribu tabung Compressed Natural Gas (CNG) dari China sebagai bagian dari program pengganti LPG 3 Kg. Menurutnya, langkah tersebut justru mencederai semangat kemandirian energi nasional di tengah melimpahnya sumber daya energi Indonesia.
Gus Wal menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya energi dan gas bumi. Karena itu, kebijakan impor tabung CNG dari China ataupun negara lainya dinilai sebagai langkah yang tidak tepat apabila pemerintah benar-benar ingin mewujudkan kedaulatan energi dan efisiensi nasional.
Mengacu pada rencana pemerintah terkait impor tabung CNG dari China untuk mendukung transisi LPG ke CNG, Gus Wal menilai kebijakan tersebut berpotensi melahirkan ketergantungan baru terhadap produk luar negeri. Padahal, tujuan utama transisi energi seharusnya bukan sekadar mengganti jenis bahan bakar, tetapi juga membangun rantai industri nasional dari hulu hingga hilir.
“Meski hanya 100 ribu tabung, kebiasaan impor akan membuat bangsa ini manja dan perlahan kehilangan mental kemandirian. Jangan sampai negeri yang kaya ESDM justru hanya menjadi pasar produk asing,” tegas Gus Wal.
Gus Wal juga menilai pemerintah seakan tidak menghargai kemampuan para teknokrat, insinyur, akademisi, guru besar, hingga profesor dari kampus-kampus dalam negeri, khususnya di bidang pertambangan, perminyakan, dan manufaktur. Menurut Gus Wal, Indonesia sangat mampu memproduksi sendiri tabung CNG apabila diberikan ruang, kepercayaan, dan keberpihakan kebijakan.
“Ngapain harus impor dari China ataupun negara lain? Indonesia punya SDM unggul, punya bahan baku, punya ahli teknik, bahkan punya pengalaman panjang di sektor migas. Kalau hanya untuk membuat tabung gas CNG, anak bangsa lebih dari mampu jika dipercaya,” ujarnya.
PNIB menilai bahwa apabila tujuan penggantian LPG ke CNG benar-benar demi efisiensi harga dan kedaulatan energi, maka seluruh prosesnya semestinya menggunakan hasil karya anak bangsa dari nol hingga produksi akhir. Langkah tersebut tidak hanya berdampak pada penguatan industri nasional, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan, memperkuat riset teknologi dalam negeri, dan meningkatkan kepercayaan terhadap kemampuan nasional.
Selain itu, Gus Wal menegaskan bahwa kemandirian energi merupakan pesan strategis kepada dunia internasional bahwa Indonesia bukan bangsa yang hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu mengolah kekayaan alamnya sendiri untuk kesejahteraan rakyat.
“Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan energi. Kedaulatan energi adalah harga mati. Negeri sebesar Indonesia jangan terus-menerus bergantung pada impor, sementara kekayaan alam dan kemampuan SDM kita luar biasa besar,” pungkasnya.
Tim Redaksi







































