WARUREJA, Kabupaten Tegal — 8 September 2026 — Semangat melestarikan bahasa dan budaya daerah turut ditunjukkan oleh Marsya Kayla Dwi Asih, siswi SDN Talok 02, yang ikut bersaing dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 jenjang Sekolah Dasar Kabupaten Tegal.
Marsya Kayla Dwi Asih mengikuti cabang lomba berpidato atau sesorah, sebuah kategori yang menuntut kemampuan berbahasa, penguasaan materi, artikulasi, ekspresi, keberanian tampil, serta kemampuan menyampaikan pesan kepada para pendengar.
Keikutsertaan Marsya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar SDN Talok 02. Di tengah persaingan dengan peserta dari berbagai sekolah dasar di Kabupaten Tegal, Marsya tampil membawa nama sekolah sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya daerah.
Mengasah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa
Lomba sesorah tidak hanya menguji kemampuan seorang peserta dalam menghafalkan teks pidato. Lebih jauh, peserta dituntut mampu memahami isi pesan yang disampaikan dan membawakannya secara komunikatif.
Bagi Marsya, keikutsertaan dalam FTBI 2026 menjadi pengalaman penting untuk mengasah mental, keberanian, kemampuan berbicara di depan umum, serta kecintaan terhadap bahasa daerah.
Panggung festival menjadi ruang pembelajaran yang memberikan pengalaman berbeda dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Marsya mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya sekaligus belajar menghadapi atmosfer kompetisi secara langsung.
Membawa Semangat SDN Talok 02
Keikutsertaan Marsya Kayla Dwi Asih juga menjadi bagian dari komitmen SDN Talok 02 dalam memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka, termasuk dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan kebudayaan.
Dukungan dari guru dan keluarga menjadi energi tersendiri bagi Marsya dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi. Persiapan yang dilakukan bukan semata-mata untuk mengejar prestasi, tetapi juga sebagai proses membangun karakter siswa agar lebih percaya diri, disiplin, dan berani tampil.
Melestarikan Bahasa Ibu melalui Generasi Muda
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 mengandung pesan penting bahwa pelestarian bahasa daerah harus melibatkan generasi muda secara langsung.
Melalui lomba pidato/sesorah, bahasa daerah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dipraktikkan sebagai sarana komunikasi, ekspresi, dan penyampaian nilai-nilai budaya.
Keikutsertaan Marsya Kayla Dwi Asih dari SDN Talok 02 menjadi contoh nyata bahwa upaya menjaga bahasa ibu dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Keberaniannya berdiri di atas panggung dan menyampaikan sesorah merupakan bagian dari proses regenerasi budaya yang patut diapresiasi.
Bagi SDN Talok 02, kemenangan bukan hanya tentang meraih juara. Keberanian Marsya membawa nama sekolah, berkompetisi, dan tampil dengan penuh percaya diri merupakan sebuah prestasi tersendiri.
Dari panggung FTBI 2026, Marsya Kayla Dwi Asih membawa pesan sederhana namun bermakna: bahasa ibu harus terus hidup, dikenalkan, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.



























