KETIKA AIR HUJAN MENCARI SUNGAI Oleh : Muhamad Kundarto

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Minggu, 8 Maret 2026 - 09:55 WIB

5093 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta, nasionaldetik.com

Fenomena “tak biasa” terjadi akhir-akhir ini, yang oleh masyarakat juga disebut sebagai BANJIR. Definisi umum banjir adalah meluapnya air sungai karena besaran limpasan (runoff) akibat curah hujan berlebih, baik di kawasan hulu dan kadang ditambah hujan yang terjadi di sekitar badan sungai. Sedangkan fenomena “tak biasa” ini terjadi hujan ekstrem di kawasan perbukitan atau lereng gunung, lalu air limpasan “menerjang” menuju badan sungai di bawahnya.

Kata “menerjang” untuk menggambarkan besarnya volume (debit air) yang mengalir melewati area permukiman, lahan pertanian dan lainnya. Terjangan air dalam volume besar ini terjadi di dataran tinggi Dieng (sekitar 2000 m dpl), perbukitan Boja Kendal (sekitar 400 m dpl), Desa Tejorejo Kendal (sekitar 30 m dpl) dan Kota Weleri Kendal (sekitar 10 m dpl). Terjangan air bisa berupa aliran deras dalam beberapa jam atau membentuk genangan yang kurang dari sehari sudah surut. Tapi kehadirannya sangat mengganggu dan bisa bersifat merusak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktor penyebab memang diawali dari curah hujan ekstrem, biasanya lebih dari 50 mm/hari pada saat kejadian. Bahkan ada yang di atas 150 mm/hari. Adapun faktor pembesarnya adalah alih fungsi lahan dari vegetasi tahunan yang rapat (hujan, kebun, kebun campuran) menjadi lahan pertanian tanaman semusim (sayuran, jagung, dll) dan penambangan tanah urug atau pasir yang terjadi di kawasan perbukitan bagian atas.

Solusi ilmiah dan sederhana permasalahan ini adalah menambah tutupan vegetasi tahunan (reboisasi, rehabilitasi) dan tetap mempertahankan vegetasi tahunan yang masih ada. Namun solusi ini menjadi tidak sederhana apabila melihat status hutan rusak tadi dikelola oleh negara c.q. perhutani secara dejure, namun secara defacto banyak ditanami oleh masyarakat untuk tanaman semusim. Kejadian ini diduga bermula dari masa transisi setelah penebangan tanaman pokok, karena status hutan produksi, lalu akan ditanami kembali butuh perapatan tajuk 4-5 tahun. Jeda waktu ini kadang mempersilahkan masyarakat setempat untuk memanfaatkan sela-sela tanaman dengan budidaya tanaman semusim. Nah, prakteknya tidak selalu mulus. Kenyamanan menanam tanaman semusim bisa diikuti dengan penolakan keberadaan tanaman tahunan, sehingga dilakukan aksi sedemikian rupa agar tanaman tahunan tidak tumbuh dengan baik atau bahkan mati. Di sini masalah birokrasi kewenangan berbenturan dengan masalah sosial ekonomi masyarakat. Disarankan, status hutan produksi pada kawasan lereng yang curam dan berpotensi berdampak ke banjir bisa diubah menjadi hutan konservasi yang tidak boleh ada penebangan lagi.

Masalah alih fungsi akibat penambangan tanah dan pasir di kawasan perbukitan juga tidak sederhana yang dilihat. Dinas terkait atau aparat tidak bisa serta merta bertindak. Terkadang dihalangi oleh status kewenangan dan adanya perlindungan dari kelas preman sampai oknum-oknum yang mengamankan di setiap jalur. Sehingga kegiatan ini menjadi sangat sistemik dan sulit diurai solusinya mulai darimana. Masyarakat hanya bisa menonton tanpa menyentuh dan ‘menikmati’ ketika terjadi dampak bencana, berupa aliran limpasan berlumpur yang memenuhi badan jalanan umum dan menggenangi kawasan permukiman padat atau kota di bawahnya. Fenomena ini butuh “kekuatan langit” atau kekuasaan yang lebih besar di tingkat provinsi dan pusat untuk melaksanakan penegakan aturan sesuai hukum yang berlaku. Adapun solusi ilmiahnya sangat mudah seperti di atas, yaitu peningkatan tutupan vegetasi tahunan di kawasan perbukitan dan penerapan aturan penambangan sesuai dokumen AMDAL, termasuk upaya revegetasi pada lahan bekas tambang.

Mrs.

Berita Terkait

Modus Isi Ulang Gas Portable Pakai LPG Subsidi 3 Kg Terbongkar, Seorang Pemuda Diamankan Polres Tulungagung
Cegah Kriminalitas, Polisi Intensifkan Patroli Dialogis di Sejumlah Titik di Kendal
SD N Pamulihan & SMK Nurul Huda Gugat LSM Trinusa ke PN Kalianda, Ferdy Saputra : Itu Intimidasi, Kami Siap Hadapi
Sumber Air Dekat Mempermudah Satgas TMMD Reg ke-128 Kodim 0725/Sragen
DPC LSM Trinusa Laporkan Dua Sekolah di Lampung Selatan ke Kejaksaan Negeri Atas Dugaan Korupsi Dana BOS 2021-2025
Pemkab Kediri Intensifkan Sosialisasi Perda KTR, Wujudkan Lingkungan Sehat dan Nyaman Bebas Asap Rokok
DPC Projamin Kabupaten Melawi Merasa Prihatin Atas Kejadian di Kecamatan Sayan.
Simulasi Sispamkota Digelar di Kendal, Polisi Siap Amankan Aksi May Day 2026

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 00:00 WIB

Tanam Ganja di Rawa Hingga Rumah, Petani di Naman Teran Dibekuk Polisi

Kamis, 30 April 2026 - 23:27 WIB

Hangat dan Penuh Haru, Kapolres Karo Rayakan Ulang Tahun Personel Sekaligus Lepas Purna Bakti

Kamis, 30 April 2026 - 23:20 WIB

Sentuhan Kemanusiaan di Lereng Berastagi, Kapolres Karo Sambangi Lansia Yayasan Cinta Kasih Rafael

Kamis, 30 April 2026 - 23:11 WIB

Polres Karo Tingkatkan Patroli Malam, Antisipasi Tawuran dan Kejahatan Jalanan

Kamis, 30 April 2026 - 14:29 WIB

Matangkan Program Pertanahan 2026, Rapat GTRA Karo Prioritaskan Relokasi Siosar Tahap III sebanyak 892 Bidang

Kamis, 30 April 2026 - 14:18 WIB

Pemkab Karo Galakkan Germas Melalui Senam Sehat Dan Cek Kesehatan Gratis

Rabu, 29 April 2026 - 22:19 WIB

“Rutan Kabanjahe Gelar Penyematan Tanda Kenaikan Pangkat Pegawai dan Penyerahan Hadiah Pekan Olahraga Hari Bhakti Pemasyarakatan”

Rabu, 29 April 2026 - 21:51 WIB

Rakyat Karo Bersuara Apresiasi Polres Karo, Dorong Pemberantasan Narkoba dan Judi Lebih Maksimal

Berita Terbaru

ACEH BARAT DAYA

Tingkatkan Sanitasi Desa, Satgas TMMD Mulai Semenisasi Balok MCK

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:06 WIB