Nasionaldetik.com,— 20 MARET 2026Di tengah gema takbir yang memenuhi angkasa, Pimpinan Redaksi Nasionaldetik.com, Ir. Edi Supriadi, menyampaikan pesan tajam terkait esensi Idulfitri 1447 H. Hari kemenangan ini tidak boleh hanya menjadi kedok formalitas untuk saling memaafkan, sementara praktik-praktik yang merugikan rakyat tetap berjalan tanpa evaluasi.
Pimpinan Redaksi Nasionaldetik.com, Ir. Edi Supriadi, mewakili seluruh elemen redaksi dan kontrol sosial masyarakat.
Menyerukan refleksi mendalam atas nilai kejujuran dan amanah di hari yang fitri, bukan sekadar perayaan simbolis.
Pesan ini ditujukan secara luas, terutama bagi para pemangku kebijakan dan pelaksana anggaran di berbagai daerah yang sedang dalam pantauan tajam media.
Bertepatan dengan perayaan Idulfitri 1 Syawal 1447 H (Maret 2026).
Karena maraknya fenomena “pencucian dosa” tahunan di mana seremoni maaf-memaafkan sering kali tidak diikuti dengan pertobatan atas kebijakan yang salah sasaran atau dugaan penyelewengan aset negara.
Mengajak masyarakat dan pejabat publik untuk kembali ke “fitrah” yang sesungguhnya—yakni integritas yang bersih tanpa noda kepentingan pribadi atau kelompok.
“Kembali ke Fitrah” seharusnya bukan sekadar jargon di atas kartu ucapan. Pimpinan Redaksi Nasionaldetik.com, Ir. Edi Supriadi, menegaskan bahwa Idulfitri 1447 H adalah momentum krusial untuk membersihkan diri dari segala bentuk ‘kotoran’ moral, termasuk pengkhianatan terhadap amanah publik.
“Kami sekeluarga dan segenap tim redaksi memohon maaf atas segala khilaf. Namun, dalam konteks bernegara dan mengelola hak rakyat, permohonan maaf lahir batin tidak semestinya menghapus tuntutan akan transparansi dan pertanggungjawaban,” ujar Edi.
Ia menekankan bahwa ibadah Ramadan yang baru saja berlalu seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang takut akan dosa “memakan” hak orang lain. Rilis ini menjadi pengingat keras bahwa mata media akan tetap tajam mengawasi setelah hari raya usai. Jika setelah Idulfitri praktik-praktik curang masih berlanjut, maka esensi ‘fitrah’ tersebut hanyalah sebuah kepalsuan di balik etalase retak kehidupan berbangsa.
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum.
Minal ‘Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Hormat Kami,
Tim Redaksi Investigasi
Nasionaldetik.com







































