Nasionaldetik.com – Merangin 30 Agustus 2026. Baru satu rekanan yang mengakui menggunakan sistem konveksi dalam pengadaan seragam SMPN 4 Merangin. Hingga berita ini diterbitkan, nasionaldetik.com masih memburu rekanan lainnya untuk memastikan apakah sistem yang digunakan sama atau berbeda dengan yang dilakukan H. Chaidir.
Dikutip dari Buktipetunjuk.id, 24 Agustus 2026.
Sejumlah wali murid calon siswa SMPN 4 Merangin mengeluhkan pengadaan seragam sekolah. Seragam yang dijanjikan menggunakan sistem tailor atau “jahit sesuai ukuran”, nyatanya dikerjakan dengan sistem konveksi massal.
Akibatnya, banyak siswa tidak mendapatkan seragam yang pas di badan dan harus menunggu hingga 1 bulan untuk mendapatkan ukuran yang tersedia.
Keluhan itu muncul saat pengambilan seragam di Toko Pratama, rekanan yang ditunjuk sekolah, pada Senin, 25 Agustus 2026.
Alih-alih diukur satu per satu, siswa justru diminta memilih sendiri dari tumpukan seragam jadi yang tersedia di toko.
“Kami langsung disuruh cari yang pas dari tumpukan baju. Karena tak ada yang cocok, kami diminta pulang dan menunggu sebulan,” kata salah seorang wali murid.
Upaya konfirmasi kepada Ragil Tri Minerva, S.Pd., Kepala SMPN 4 Merangin, telah dilakukan nasionaldetik.com sejak awal Agustus 2026.
Pada 8 Agustus 2026, saat dikonfirmasi via WhatsApp, Ragil hanya menjawab: “Bang, maaf bang lg di jln dari Kerinci.”
Saat dihubungi kembali via telepon pada 9 dan 10 Agustus 2026, Ragil juga tidak menjawab.
Setelah upaya ke pihak sekolah, nasionaldetik.com kemudian mengkonfirmasi kepada pemilik rekanan pada Kamis, 28 Agustus 2026.
Pemilik Toko Pratama, H. Chaidir, membenarkan pihaknya menggunakan sistem konveksi, bukan tailor satuan.
“Kito sistem konveksi, bukan tailor. Tailor yo main potong sikok-sikok. Kalau konveksi sekali potong berapo, misalnyo 15 sekali potong. Terkait perbedaan tidak ado, perbedaannyo di metode sajo,” jelas H. Chaidir saat dihubungi pukul 13.31 WIB.
Ia juga menjelaskan pembagian pekerjaan. “Sayo hanyo ngambil pakaian Pramukanyo sajo. Sebagian kami kerjakan, sebagian dilempar ke penjahit lain. Sistem konveksi pas lah. Tidak ado yang salah,” tambahnya.
Sebelumnya pada 24 Agustus 2026, H. Chaidir juga menyampaikan hal senada ke Buktipetunjuk.id. “Tetap dijahit kok. Hanya saja kami pakai standar angka dan huruf. Kalau tidak tahu ukurannya bagaimana bisa kami jahit?” katanya.
Wali murid menilai sistem konveksi dengan ukuran standar S, M, L, XL, XXL dan angka 14, 16, 18 tidak dapat menjamin seragam pas di badan siswa. Berbeda dengan sistem tailor yang diukur lingkar dada, panjang badan, dan panjang lengan satu per satu.
Hingga berita ini diterbitkan, nasionaldetik.com masih berupaya mencari tahu siapa saja penjahit lain di luar H. Chaidir, serta berapa jumlah siswa yang terdampak dan total nilai pengadaan seragam di SMPN 4 Merangin tahun ini.
Reporter: Gondo Irawan





























