Nasionaldetik.com, – Suasana khusyuk dan haru pelepasan ratusan calon jemaah umrah di Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang pada Minggu (30/8/2026) dini hari berubah menjadi kericuhan massal. Rencana pemberangkatan sekitar 200 jemaah yang dikelola oleh PT Annisa Ahmada Travelindo (ITS Grup) berantakan setelah pihak penyelenggara secara sepihak menyatakan hanya 40 jemaah yang dapat diterbangkan pada hari itu.
Kericuhan memuncak sekitar pukul 02.30 WIB usai tokoh lokal, Mbah Bolong, mengumpulkan jemaah di dalam ruang utama masjid. Bukannya mendapat arahan teknis menuju Bandara Juanda, para jemaah justru dikejutkan dengan kabar pembatalan massal secara mendadak tanpa pembagian kloter yang jelas sejak awal.
Dugaan Transparansi Keuangan dan Pungutan Pungli Kenaikan Avtur
Keterangan dari salah satu keluarga jemaah, Widi, mengungkap indikasi mismanagement serius dan dugaan penggelapan dana. Dalam ketegangan tersebut, perwakilan travel sempat melontarkan pengakuan mengejutkan bahwa dana jemaah telah habis, sementara dokumen vital berupa visa belum berada di tangan calon jemaah.
Tak hanya itu, jemaah mengaku dipungut biaya tambahan secara sepihak sebesar Rp5 juta per orang dari total biaya rata-rata Rp33 juta, dengan klaim penyesuaian harga bahan bakar pesawat (avtur).
“Logikanya, kalau memang ada pembagian kloter 40 orang, harus diinformasikan jauh hari, bukan pas H-1 jam keberangkatan. Bahkan di lapangan, visa belum dipegang jemaah dengan alasan dibagikan di bandara. Suasana langsung ricuh, Mbah Bolong juga dengan nada tinggi meminta pertanggungjawaban pihak Muslimat yang ikut membawa jemaah,” tegas Widi saat dikonfirmasi.
Dampak dari kekacauan di Jombang ini membuat jemaah yang sudah terlanjur tiba di Bandara Juanda menolak diterbangkan karena ketiadaan pendamping resmi dan ketidakpastian akomodasi selama berada di Tanah Suci.
Koper Diturunkan Otobus akibat Travel Menunggak Pembayaran
Kekacauan tidak berhenti pada urusan dokumen penerbangan. Sebanyak 5 hingga 6 armada bus yang disewa untuk mengangkut jemaah dari Jombang menuju Surabaya secara mendadak menurunkan seluruh koper jemaah dari bagasi secara sepihak.
Pihak penyedia jasa transportasi menolak melayani pemberangkatan karena operasional armada belum dilunasi oleh PT Annisa Ahmada Travelindo. Kru bus merasa turut menjadi korban penipuan atas ketidakjelasan komitmen pembayaran dari pihak manajemen travel.
Guna menghindari tindakan amuk massa yang makin memanas, pengurus travel langsung diamankan dan dibawa ke Polres Jombang untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh.
Klaim Miskomunikasi Aparat dan Janji Keberangkatan Bertahap
Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Magribi Agung Saputra, membenarkan adanya insiden dan proses mediasi antara jemaah dengan manajemen PT Annisa Ahmada Travelindo di Mapolres Jombang. Pihak kepolisian menyatakan masalah tersebut telah diselesaikan dan mengklaim ketegangan terjadi akibat miskomunikasi semata.
“Permasalahan tersebut sudah clear, hanya terjadi miskomunikasi saja antara pihak travel dengan calon jemaah. Pihak travel sudah menyampaikan kalau pemberangkatan dilakukan secara step by step dan mereka mampu memberangkatkan seluruh jemaah,” kata AKP Magribi.
Pasca-mediasi, para jemaah diminta berkumpul kembali di Masjid Moeldoko usai waktu Magrib untuk diberangkatkan menuju transit hotel di Surabaya, sambil menunggu penyelesaian visa dan tiket penerbangan bertahap ke Arab Saudi.
Meski kepolisian menyebut situasi telah terkendali, publik dan keluarga korban mendesak aparat penegak hukum serta Kementerian Agama untuk mengusut tuntas legalitas operasional, kewajaran pungutan biaya tambahan, serta dugaan penyalahgunaan dana jemaah agar kejadian serupa tidak berulang.
Tim Redaksi



























