Nasionaldetik.com,— 23 Juli 2026 Program Makanan Bergizi (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto bertujuan memberikan asupan gizi seimbang setiap hari bagi anak sekolah. Namun, realitas yang terjadi di Kabupaten Malang jauh dari harapan: makanan yang disajikan tidak berbeda dengan menu sehari-hari di rumah, dinilai tidak memenuhi standar yang ditetapkan, dan memicu keraguan orang tua terhadap kualitas serta tujuannya.
Pihak yang merasakan kejanggalan tersebut adalah para wali murid di Kecamatan Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka secara terbuka menuntut adanya audit transparan dan menyeluruh untuk membongkar fakta di balik penyajian makanan program ini.
Masalah ini terungkap secara nyata di wilayah Kecamatan Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur—salah satu lokasi pelaksanaan program yang seharusnya menjadi contoh peningkatan kualitas gizi pelajar.
Keluhan dan sorotan tajam wali murid muncul belakangan ini seiring berjalannya program, ketika mereka menyadari tidak ada perubahan kualitas menu yang layak, bergizi, dan bervariasi seperti janji program.
Hal ini terjadi karena dugaan ketidaksesuaian antara standar operasional yang dijanjikan dengan implementasi di lapangan. Wali murid mencurigai adanya kelalaian dalam pengawasan, atau bahkan penyimpangan yang membuat gizi anak tidak menjadi prioritas utama. Mereka menegaskan: jika hanya menyajikan makanan biasa, program ini kehilangan makna dan tujuannya.
pelaksanaannya, makanan yang dibagikan kepada siswa tidak memiliki nilai tambah gizi yang jelas dan sama dengan menu harian yang biasa dikonsumsi di rumah—jauh dari definisi gizi seimbang yang diharapkan. Situasi ini memancing reaksi keras orang tua yang menuntut pengecekan audit secara independen demi menjaga hak dan kesehatan anak-anak mereka.
“Program mulia demi masa depan anak, jangan sampai menjadi panggung sandiwara yang merugikan. Di Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, janji gizi seimbang berubah menjadi menu hambar tanpa nilai tambah. Wali murid bersuara lantang: Audit sekarang juga! Jangan biarkan asupan harapan berubah menjadi sekadar makan siang biasa yang melalaikan tanggung jawab negara.”
Tim Investigasi Redaksi
























