Nasionaldetik.com,— 05 Juli 2026 Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perubahan sosial, politik, dan kehidupan keagamaan masyarakat. Dalam situasi tersebut, kepemimpinan PBNU dinilai membutuhkan sosok yang tidak hanya mampu menjalankan fungsi organisasi, tetapi juga menghadirkan keteduhan, menjaga keseimbangan, dan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan politik maupun kelompok.
Direktur Media Tawasuth, Wahyu Al-Fajri, menilai kondisi NU saat ini membutuhkan pemimpin yang memiliki kematangan jiwa, kedalaman ilmu, dan keteguhan dalam memegang prinsip.
Menurutnya, keteduhan seorang pemimpin tidak dapat dimaknai sebagai sikap pasif atau menghindari persoalan. Keteduhan justru harus menjadi dasar bagi lahirnya kebijaksanaan, ketegasan, dan keberanian moral dalam mengambil keputusan.
“NU membutuhkan sosok pemimpin yang teduh. Keteduhan sejati lahir dari kematangan jiwa dan kedalaman ilmu. Dari keteduhan itu tumbuh keteguhan prinsip yang tidak mudah goyah oleh tekanan, kebijaksanaan yang tidak dikendalikan oleh kepentingan sesaat, serta keberanian untuk mendahulukan kemaslahatan umat,” ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, sepanjang sejarahnya NU telah mewarisi prinsip moderasi, keseimbangan, sertaketeguhan dalam menegakkan keadilan. Nilai-nilai tersebut,menurutnya, bukan sekadar slogan organisasi. Prinsip tersebut telah menjadi cara pandang NU dalam menghadapi berbagai perubahan, mulai dari masa kolonial, kemerdekaan, Orde Baru, hingga era Reformasi.
“Para pendiri NU tidak hanya mewariskan sebuah organisasi, tetapi juga metode dalam membaca dan menghadapi realitas”. Wahyu juga menyoroti pentingnya konsep jalan tengah dalam tradisi NU. Menurutnya, jalan tengah bukan berarti tidak memiliki sikap atau menghindari ketegasan.
Sebaliknya, jalan tengah menuntut keberanian untuk tidak mudah terseret ke dalam pertentangan kepentingan, tekanan kelompok, maupun polarisasi politik.
“Jalan tengah bukan kompromi terhadap kebenaran. Jalan tengah adalah keberanian untuk tetap jernih di tengah kebisingan, tidak terseret ke kanan maupun ke kiri, serta menyelesaikan persoalan melalui musyawarah yang berakar pada nilai-nilai keulamaan,” ujarnya.
Dalam konteks kepemimpinan PBNU mendatang, Wahyu menilai KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin memiliki kapasitas untuk menghadirkan karakter kepemimpinan tersebut.
“Dalam pandangan kami, Gus Kikin memiliki pengalaman, kedalaman tradisi pesantren, serta kemampuan merangkul berbagai kalangan. Karena itu, beliau layak dipertimbangkan sebagai salah satu figur untuk memimpin Nahdlatul Ulama pada periode mendatang,” kata Wahyu.
Selain kepemimpinan yang teduh dan moderat, ia menekankan pentingnya keberanian PBNU untuk kembali meneguhkan Khittah NU 1926.
Menurut Wahyu, Khittah 1926 bukan sekadar romantisme terhadap sejarah, melainkan kompas organisasi yang menegaskan NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah atau organisasi sosial-keagamaan yang berkhidmat kepada masyarakat.
Khittah tersebut juga menjadi pengingat agar kepentingan politik praktis tidak menggeser fungsi utama NU dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan umat.
“Kembali ke Khittah bukan berarti NU menjauh dari persoalan kebangsaan. NU tetap memiliki tanggung jawab besar terhadap bangsa. Namun, keterlibatan tersebut harus dijalankan berdasarkan nilai keulamaan dan kemaslahatan umat, bukan menjadikan organisasi sebagai instrumen kepentingan politik praktis,” jelasnya.
Ia menilai kembali kepada Khittah bukanlah suatu kemunduran. Langkah tersebut justru diperlukan agar NU memiliki arah yang jelas dalam menentukan sikap dan menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, kepemimpinan PBNU ke depan diharapkan lahir dari figur yang memadukan kedalaman keilmuan, keteladanan akhlak, kemampuan merangkul perbedaan, serta komitmen untuk memperkuat pelayanan kepada umat.
“NU tidak boleh hanya terlihat di panggung-panggung kekuasaan. NU harus semakin nyata hadir di pesantren, desa, lembaga pendidikan, ruang ekonomi masyarakat, dan berbagai tempat pengabdian yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan warga,” katanya.
Wahyu menambahkan, kekuatan NU tidak hanya ditentukan oleh kedekatannya dengan pusat kekuasaan, tetapi terutama oleh soliditas organisasi, kemandirian jamaah, serta konsistensinya dalam melayani masyarakat.
“NU yang teduh adalah NU yang kuat dari dalam. Kekuatan itulah yang akan menjadikan NU tetap mampu menjadi penyejuk di tengah perpecahan, perekat ketika bangsa menghadapi ancaman keretakan, serta menghadirkan rahmat yang nyata bagi masyarakat dan semesta alam,” pungkas Wahyu.
Tim Redaksi

























