Oleh : H. Abdul Muiz Syaerozie
Nasionaldetik.com,— 05 Juli 2026
Penetapan Cirebon sebagai tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-36 memiliki nilai historis, strategis, dan sosiologis yang sangat kuat. Muktamar bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan, tetapi momentum konsolidasi jam’iyyah, penguatan khidmah kepada umat, serta peneguhan kembali peran NU dalam kehidupan kebangsaan. Karena itu, pemilihan lokasi penyelenggaraan seyogianya mempertimbangkan akar sejarah, kesiapan daerah, dan nilai simbolik yang mampu memperkuat persatuan warga Nahdliyyin. Dalam konteks tersebut, Cirebon merupakan pilihan yang sangat layak.
Dari perspektif sejarah, Cirebon memiliki kontribusi besar dalam perjalanan Islam Nusantara, lahir dan berkembangnya tradisi pesantren, serta perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kawasan ini menjadi salah satu pusat dakwah para wali yang kemudian melahirkan jaringan ulama dan pesantren yang berpengaruh di Pulau Jawa. Peran ulama Cirebon dalam mendukung perjuangan bangsa dan memperkuat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah menjadi bagian penting dari mata rantai sejarah yang turut mengokohkan lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama.
Selain itu, Cirebon dikenal sebagai salah satu daerah dengan konsentrasi pesantren tertua di Indonesia. Di antaranya terdapat Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin yang telah berusia lebih dari tiga abad, Pondok Pesantren Buntet yang juga telah mencapai usia sekitar tiga abad, serta Pondok Pesantren Kempek dan Pondok Pesantren Gedongan yang memiliki kontribusi besar dalam mencetak ulama dan kader-kader NU. Keberadaan pesantren-pesantren tersebut menunjukkan bahwa Cirebon merupakan salah satu episentrum pendidikan Islam tradisional yang tetap hidup dan berkembang hingga saat ini. Oleh karena itu, jika Cirebon ditunjuk sebagai tuan rumah Muktamar NU, maka di tiga atau empat pesantren tua itulah pusat kegaiatan muktamar dilaksanakan. Belum lagi kehadiran ratusan pesantren-pesantren besar lainnya, yang memiliki jumlah santri ribuan, kendatipun masih sangat berusia muda, tentu akan semakin mempermudah Nadhliyyin ikut meramaikan Muktamar NU.
Dalam situasi internal PBNU yang belakangan diwarnai berbagai dinamika, Cirebon juga dapat dipandang sebagai daerah yang relatif netral dan mampu menjadi ruang pertemuan bagi seluruh elemen Nahdlatul Ulama. Suasana yang kondusif dan kultur masyarakat yang terbuka menjadi modal penting untuk menghadirkan Muktamar yang lebih sejuk, penuh musyawarah, serta berorientasi pada persatuan organisasi. Muktamar di Cirebon diharapkan menjadi momentum rekonsiliasi dan penguatan ukhuwah jam’iyyah di tengah berbagai perbedaan pandangan yang berkembang.
Dari sisi kesiapan penyelenggaraan, Cirebon memiliki infrastruktur yang memadai. Akses transportasi didukung oleh keberadaan bandara di wilayah sekitar, jaringan kereta api yang menghubungkan berbagai kota besar di Pulau Jawa, jalan tol Trans Jawa, serta ketersediaan ratusan hotel dan berbagai fasilitas penunjang lainnya. Kondisi ini memberikan kemudahan bagi peserta, tamu, dan penggembira Muktamar dari seluruh Indonesia untuk hadir dengan nyaman dan efisien.
Keunggulan lain Cirebon adalah letaknya yang relatif dekat dengan Jakarta sebagai ibu kota negara, sehingga memudahkan koordinasi berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, lembaga negara, maupun tamu-tamu penting yang akan menghadiri Muktamar.
Di samping itu, jumlah warga Nahdliyyin di wilayah Cirebon Raya sangat besar dan memiliki tradisi keagamaan yang kuat, sehingga mampu menjadi kekuatan sosial dalam menyukseskan penyelenggaraan Muktamar secara tertib, aman, dan penuh kekeluargaan.
Tidak kalah penting, Cirebon juga dikelilingi berbagai destinasi wisata unggulan di wilayah Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para Nahdliyyin yang hadir di luar peserta resmi Muktamar, yang dalam tradisi NU sering disebut sebagai “rombongan liar”, yakni warga NU yang datang atas inisiatif sendiri untuk meramaikan Muktamar. Kehadiran mereka akan memberikan dampak positif bagi geliat ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi wisata dan budaya Cirebon Raya kepada warga Nahdliyyin dari berbagai penjuru Nusantara. Dengan seluruh keunggulan tersebut, Cirebon layak dipertimbangkan sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-36.
Penulis adalah Khodim Pondok pesantren Babakan Ciwaringin, Alumni Pondok Pesantren Lirboyo
Tim Redaksi

























