oleh Imam Baehaqi
Nasionaldetik.com,,— 05 Juli 2026
Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tinggal menghitung hari, tepatnya 1-5 Agustus depan disepakati akan digelar. Walaupun lokasi Muktamar belum ditentukan, tapi dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU semakin menghangat. Di antara sejumlah nama yang muncul, KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam menjadi salah satu figur yang menarik perhatian. Selain berasal dari trah pendiri NU, ia juga dikenal sebagai kiai muda yang aktif menyampaikan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan sosial, kebangsaan, dan kehidupan warga nahdliyin.
Secara genealogis, Gus Salam merupakan cucu dari KH Bisri Syansuri, salah seorang muassis (pendiri) NU sekaligus Rais Aam PBNU yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah organisasi. Latar belakang tersebut memberinya legitimasi historis sekaligus tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan para ulama pendiri NU.
Namun, modal utama Gus Salam bukan semata-mata faktor keturunan. Ia dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, yang aktif menyampaikan pandangan mengenai persoalan umat, tata kelola organisasi, hingga berbagai kebijakan publik yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat kecil.
Di tengah situasi ketika sebagian elite organisasi keagamaan dinilai lebih berhati-hati atau memilih diam terhadap berbagai persoalan sosial, Gus Salam justru tampil dengan keberanian menyampaikan kritik. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa NU tidak boleh kehilangan fungsi moralnya sebagai penyeimbang kekuasaan. Menurut pandangannya, organisasi sebesar NU harus tetap berpihak kepada masyarakat yang lemah, memperjuangkan keadilan sosial, serta menyampaikan kritik apabila terdapat kebijakan yang dinilai merugikan rakyat. Pandangan tersebut sekaligus menegaskan cita-citanya untuk mengembalikan NU sebagai kekuatan civil society yang independen, kritis, dan tetap menjaga jarak yang proporsional dengan kekuasaan.
Kepekaan sosial menjadi salah satu karakter yang melekat pada sosok Gus Salam. Berbagai pernyataannya menunjukkan perhatian terhadap kondisi petani, nelayan, pelaku usaha kecil, masyarakat desa, hingga kelompok-kelompok yang menghadapi kesulitan akibat berbagai kebijakan publik. Sikap tersebut dipandang sebagian kalangan sebagai bentuk keberpihakan terhadap kaum mustadh’afin yang sejak awal menjadi salah satu ruh perjuangan para ulama NU.
Selain kritis, Gus Salam juga dikenal memiliki cara berpikir yang progresif. Baginya, kemajuan NU tidak cukup hanya dengan memperkuat tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga harus diiringi kemampuan membaca perubahan zaman, memperkuat pendidikan, ekonomi umat, tata kelola organisasi, serta memperluas partisipasi generasi muda dalam kepemimpinan.
Dalam konteks organisasi, Gus Salam juga beberapa kali mengingatkan pentingnya menjaga independensi pelaksanaan Muktamar NU agar benar-benar menjadi forum permusyawaratan warga Nahdliyin tanpa intervensi kepentingan politik praktis. Menurutnya, proses demokrasi organisasi yang sehat akan menentukan kualitas kepemimpinan NU lima tahun ke depan.
Dari sisi administratif, Gus Salam juga telah diberitakan memenuhi persyaratan sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU sebagaimana ketentuan kaderisasi yang diatur dalam peraturan organisasi. Hal ini membuat namanya semakin diperhitungkan dalam bursa kepemimpinan PBNU.
Tentu saja, penilaian bahwa Gus Salam merupakan figur paling tepat memimpin PBNU merupakan ranah opini dan pilihan politik para muktamirin. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa keberaniannya menyampaikan kritik, kepeduliannya terhadap persoalan masyarakat, latar belakang pesantren yang kuat, serta garis keturunan sebagai cucu KH Bisri Syansuri menjadikannya salah satu tokoh muda yang memberi warna tersendiri dalam kontestasi Muktamar NU 2026.
Ke depan, tantangan terbesar NU bukan hanya menjaga tradisi keilmuan dan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa NU tetap menjadi penjaga moral bangsa, pembela rakyat kecil, sekaligus kekuatan masyarakat sipil (civil society) yang mampu menyuarakan keadilan di tengah perubahan zaman. Gagasan inilah yang menjadi salah satu narasi utama yang dibawa Gus Salam dalam perjalanan menuju Muktamar NU ke-35.
Tim Redaksi

























