Nasionaldetik.com,— 05 Juli 2026
Jabatan komisaris BUMN kembali menuai sorotan tajam publik. Beberapa sosok yang menduduki kursi wakil pemerintah di perusahaan plat merah disinyalir sebagai hadiah kue kekuasaan daripada pengawasan kinerja perusahaan.
Sosok kontroversi dan tidak kompeten di bidangnya mendapat kritik dari ormas kebhinakaan, anti khilafah, intoleransi, terorisme dan khilafah Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB). Ketua umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) menyatakan pengangkatan sosok Novel Bamukmin menjadi Komisaris Hotel Garuda Natour adalah kecerobohan.
“Novel Bamukmin pentolan FPI dan khilafah tidak layak diberi jabatan komisaris. Apa jadinya orang yang tidak setia pada NKRI dipercaya menjadi pejabat perusahaan Negara? Publik tidak lupa Novel dulu berteriak lantang mengkafir-kafirkan orang. Menganggap kita negara Thogut hingga berupaya mengkhilafahkan Indonesia” tegas Gus Wal.
Negara dengan segala potensi sumber dayanya menurut Gus Wal adalah milik mereka yang mencintai Republik ini. Kesetiaan kepada negara adalah harga mati untuk mengukur integritas kepada bangsa.
“Segala sumber daya bangsa ini milik kita yang setia NKRI. Mereka yang menolak Pancasila tidak berhak mendapatkan kebaikan dari negara. Jabatan komisaris BUMN menjadi hadiah kue pemenang Pemilu benar adanya, tapi itu tidak berlaku bagi mereka kelompok sarabpatigenah benalu bangsa” imbuh Gus Wal.
PNIB menghimbau Pemerintah mengkaji ulang penempatan pejabat BUMN tidak asal comot tanpa memperhitungkan dampak ke depannya. Menurut Gus Wal sosok Novel Bamukmin harus segera dibatalkan jabatannya jika ingin kondisi kerukunan hidup beragama, berbangsa dan bernegara tetap kondusif.
“Copot Novel sebagai Komisaris yang sebelumnya sudah melukai dan memecah belah kerukunan hidup beragama, berbangsa dan bernegara, . Kelompok khilafah dan terorisme akan semakin sulit ditumpas jika para pengasongnya diberi gaji dan jabatan oleh negara. Mereka yang mendapat support logistik dari orang-orang semacam Novel Bamukmin. Dia hanya pura-pura mendukung pemerintah, namun punya agenda tersembunyi mendukung gerakan disintegrasi bangsa dengan terorisme dan khilafahnya” ujarnya.
Rekam jejak Novel Bamukmin dan FPI menurut Gus Wal tidak bisa dihapus begitu saja. PNIB tidak pernah surut melakukan perlawanan pada kelompok 212 yang pernah membahayakan negara.
“Kami PNIB akan konsisten menolak kelompok pengusung politik identitas, intoleransi dan terorisme. Meskipun mereka kini menjelma menjadi pejabat negara, kami tidak akan surut menolak. Mereka bukan pejabat yang harus dihormati karena penuh kepura-puraan.
Bagi PNIB keutuhan bangsa ini lebih penting daripada urusan jabatan, baik hari ini atau ke depannya. Kita tidak pernah berpikir berhenti berjuang, karena sedetik kita berhenti maka kita sudah terjajah lagi” pungkas Gus Wal.
Tim Redaksi

























