Nasionaldetik.com, – Keluhan buruknya pelayanan kesehatan di fasilitas publik kembali mencuat. Kali ini giliran RSMP (Rumah Sakit Mitra Plumbon Cirebon) menjadi sorotan publik setelah sebuah keluarga pasien mengaku sangat kecewa diperlakukan tidak adil dan ditelantarkan selama berjam-jam.
Kisah pilu ini dialami oleh keluarga pasien yang sedang dalam masa pemulihan pasca stroke saat berobat di Poli Penyakit Dalam, Sabtu (18/04/2026) lalu dengan dokter penanggung jawab dr. Bungsu.
Sistem Antrean Online Bohongi Masyarakat?
Saat ditemui awak media, keluarga pasien menceritakan bahwa mereka sudah sangat disiplin mengikuti prosedur. Pendaftaran dilakukan secara online H-2 hari sebelumnya dengan estimasi waktu pelayanan pemeriksaan awal (nurse) tertulis jelas pukul 08.51 WIB.
“Kami datang tepat waktu pukul 09.00 WIB. Proses pemeriksaan awal berjalan lancar dan selesai sekitar pukul 09.10 WIB. Kami pikir tinggal sebentar lagi akan dipanggil dokter, ternyata itu adalah awal dari penderitaan kami,” ujar perwakilan keluarga dengan nada kecewa.
Setelah selesai dengan perawat, antrean tiba-tiba berhenti total. Selama satu jam pertama, tidak ada satu pun nama yang dipanggil. Awalnya keluarga mengira dokter ada keperluan mendesak, namun fakta di lapangan jauh lebih mengejutkan.
Dokter Bagi Waktu Dua Ruangan, Pasien BPJS Jadi Korban
Setelah dilakukan konfirmasi ke sejumlah petugas, terungkap fakta bahwa dokter yang bertugas saat itu sedang membagi waktu melayani pasien di dua ruangan berbeda secara bersamaan, yaitu ruang Eksekutif dan ruang BPJS.
“Kami kecewa berat. Kalau memang jadwal dokter sudah pindah ke ruangan lain atau jamnya sudah habis, kenapa sistem masih membuka antrean dan memberikan jadwal jam segitu? Seharusnya tidak ada pendaftaran lagi di jam tersebut,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jadwal dokter di ruangan Eksekutif selesai pada pukul 11.00 WIB. Namun ironisnya, meski waktu sudah lewat, tidak ada tanda-tanda pasien di Poli Penyakit Dalam (BPJS) akan segera dilayani.
Kondisi Pasien Stroke Diuji Kesabaran
Yang membuat kejadian ini semakin tidak manusiawi adalah kondisi pasien yang notabene sedang dalam pemulihan pasca stroke. Menunggu hampir 3 jam lamanya tanpa adanya kepastian waktu atau informasi jelas sangat menyiksa fisik dan mental.
“Pasien kan lagi pemulihan stroke, kalau sehat saja menunggu 3 jam pasti lelah, apalagi orang sakit. Tidak ada konfirmasi sama sekali, kami dibiarkan bingung menunggu tanpa arah,” keluhnya.
Akibat kondisi pasien yang sudah tidak kuat menahan lelah, akhirnya pukul 11.30 WIB keluarga memutuskan untuk membatalkan pemeriksaan dan pulang ke rumah TANPA mendapatkan layanan medis sama sekali.
SERUAN KEPADA GUBERNUR JAWA BARAT, BAPAK DEDI MULYADI
Melihat fakta ini, masyarakat mempertanyakan keras kinerja dan pengawasan Dinas Kesehatan.
“DIMANA KEWIBAWAAN PENGAWASAN? KENAPA TERASA SANGAT TUMPUL?”
Keluarga korban dan masyarakat luas berharap Bapak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dapat mendengar keluhan ini dan segera turun tangan menindaklanjuti.
1. Mohon ditanyakan ke Dinas Kesehatan, bagaimana aturan pembagian jadwal dokter bisa berantakan seperti ini?
2. Mengapa pasien BPJS yang rutin membayar iuran harus diperlakukan sebagai “anak tiri” dan dipersulit aksesnya?
3. Evaluasi sistem antrean online agar tidak lagi menipu masyarakat dengan jadwal yang tidak realistis.
Kami berharap kasus di RSMP dan RS Mitra Plumbon yang juga sempat menuai protes ini menjadi perhatian serius. Jangan biarkan pelayanan kesehatan yang buruk terus terjadi di Jawa Barat.
Tim Redaksi







































