Nasionaldetik.com,—- 20 Juni 2026 Dinamika jurnalisme di Indonesia hari ini tengah berada di titik nadir akibat degradasi mentalitas para pelakunya. Di tengah derasnya arus informasi, muncul jurang pemisah yang lebar antara jurnalis profesional yang ditempa melalui investigasi dan olah data, dengan oknum yang terjebak dalam zona nyaman sebagai “wartawan *copy-paste*”.
Ali Sopyan, Wakil Ketua Umum Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI), menyoroti fenomena oknum yang menjadikan rilis instansi sebagai sumber tunggal. Menurutnya, mereka yang membusungkan dada soal jam terbang tinggi justru sedang menutupi kelemahan fundamentalnya. “Klaim jam terbang panjang itu hanyalah topeng untuk menutupi ketidakmampuan melakukan investigasi dan keengganan menghadapi kerasnya medan lapangan. Mereka bukan melayani publik, tapi melayani ego sendiri demi status di balik kenyamanan narasi instansi,” tegas Ali Sopyan.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Hermanius Burunaung, Ketua Umum Perkumpulan Pimpinan Redaksi Indonesia Maju (PRIMA). Ia menekankan bahwa integritas seorang jurnalis diuji saat ia mampu menjaga independensi dari segala bentuk titipan kepentingan. “Seorang pemimpin redaksi dan wartawan harus memiliki keberanian untuk turun ke lapangan, bukan sekadar menjadi operator *copy-paste* dari rilis pihak lain,” ujar Hermanius Burunaung.
Lebih jauh, Hermanius Burunaung menyoroti pola perilaku yang menjauhkan oknum-oknum tersebut dari esensi jurnalisme, yakni isolasi diri dan sikap defensif. Tipikal wartawan yang berperan sebagai “humas bayangan” ini sangat enggan bergaul dengan wartawan investigasi. “Mereka terkesan congkak, angkuh, dan sombong. Mereka membangun tembok eksklusivitas palsu untuk menghindari diskusi kritis. Bahkan, untuk menutupi ketidakmampuan mereka beradu data, mereka kerap kali menuding media lain sebagai media abal-abal atau melabeli wartawan yang kritis sebagai wartawan bodrek,” tegas Hermanius Burunaung.
Ali Sopyan menambahkan bahwa perilaku oknum yang membela instansi demi menjaga hubungan pragmatis telah merusak esensi jurnalisme. “Saat ada jurnalis yang mengungkap fakta di lapangan, oknum-oknum yang merasa senior ini justru sering kali membantah atau menyudutkan kerja jurnalisme yang berintegritas. Ini bukan lagi soal perbedaan pendapat, namun tindakan melacurkan pers itu sendiri demi kepentingan pragmatis sesaat,” ujar Ali Sopyan.
Ali Sopyan menutup dengan seruan tegas bagi seluruh insan pers untuk bercermin. “Wartawan bukanlah profesi pengemis rilis atau pembela instansi yang takut akan kebenaran. Anda dituntut untuk menjadi petarung data yang independen, yang berani berdiri di atas fakta, bukan di atas narasi titipan. Saatnya melepaskan diri dari mentalitas ‘sub-humas’ dan kembali ke marwah jurnalisme yang sesungguhnya.”
Redaksi Prima
























