Kilas Sejarah,
Nasionaldetik.com,—-13 Agustus 2026 Serikat Islam adalah organisasi massa modern pertama di Nusantara yang menggabungkan semangat agama, kebangkitan ekonomi, dan pergerakan nasional. Dari bermula Serikat Dagang Islam (1909) hingga berubah menjadi Serikat Islam (1912), tokoh-tokohnya menjadi pelopor menyatukan rakyat melawan penjajahan dan meletakkan pondasi kemerdekaan Indonesia.
TOKOH PUSAT DAN JEJAK PERJUANGANNYA
1. Haji Samanhudi – Perintis Persatuan Ekonomi
Pedagang batik kelahiran Surakarta yang mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI) di Bandung tahun 1909. Ia sadar kemiskinan pribumi bermula dari lemahnya persatuan dagang di hadapan kongsi dagang Belanda dan pedagang asing. Melalui SDI, ia mendorong pedagang pribumi bermitra, saling bantu, dan tidak bergantung pada sistem eksploitasi kolonial. Langkah ini menjadi cikal bakal berdirinya gerakan massa berskala nasional.
2. H.O.S. Tjokroaminoto – Pemersatu Rakyat
Tahun 1912 mengubah SDI menjadi Serikat Islam dengan visi lebih luas: kemajuan sosial, pendidikan, dan politik berlandaskan nilai Islam. Dijuluki “Raja Tanpa Mahkota”, ia mampu menyatukan lebih dari 2 juta anggota lintas suku, pulau, dan lapisan. Ia mengajarkan: “Islam adalah persaudaraan sejati, dan persaudaraan itulah dasar nasionalisme kita”. Di rumahnya di Surabaya, Soekarno muda tinggal dan belajar berpolitik, yang kemudian mewarisi semangat persatuan itu dalam merumuskan Indonesia merdeka. Meski wafat 1934, ajarannya hidup menggerakkan persiapan proklamasi.
3. Haji Agus Salim – Diplomat dan Pemikir
Penyambung visi antar-elemen bangsa, baik agama, sekuler, maupun beretnis. Ia mengartikulasikan perjuangan Serikat Islam dalam wacana internasional, sekaligus menjaga kesatuan internal pergerakan. Terlibat aktif dalam BPUPKI dan PPKI, gagasannya memastikan kemerdekaan menjadi milik seluruh rakyat tanpa mengorbankan keberagaman dan nilai agama.
4. Abdul Muis – Pelawan Melalui Pers dan Tulisan
Ia menggunakan tulisan dan orasi menyoroti ketidakadilan hukum serta diskriminasi kolonial. Terlibat dalam penyusunan petisi dan pernyataan yang membangun kesadaran bahwa nasib seluruh pribumi sama: terbelenggu sampai negara berdiri sendiri.
5. Tokoh Lain
Mas Mansur, Ahmad Hasan, dan Arifin berperan memperkuat pendidikan rakyat, koperasi, serta mendidik kader muda yang kelak duduk di barisan persiapan kemerdekaan.
TOKOH SERIKAT ISLAM JAWA BARAT: JEJAK DARI TASIKMALAYA DAN SEKITARNYA
Wilayah ini menjadi salah satu benteng pergerakan Serikat Islam yang paling kokoh, berkat tokoh-tokoh akar rumput:
📍 Kabupaten & Kota Tasikmalaya
– KH. Abdurrahman: Memimpin cabang Serikat Islam Tasikmalaya; pesantren dan masjid menjadi markas penyebar berita dan latihan kesadaran nasional. Pasca 17 Agustus 1945, ia segera turun mengumumkan kemerdekaan ke desa-desa dan mengajak menjaga ketertiban.
– KH. Ilyas & H. Sanusi: Menggalang petani lewat pesan keadilan ekonomi—menolak sistem bagi hasil yang merugikan dan membangun kebersamaan bekal perjuangan.
– H. Eman Suryaman: Berjasa mengantar kabar proklamasi ke pelosok pedalaman Tasikmalaya yang sulit terjangkau.
📍 Ciamis
– KH. Moh. Sholeh: Memanfaatkan majelis taklim mengajarkan cinta tanah air; mengumpulkan pemuda untuk ikut menjaga kemerdekaan.
– H. Zaenal Alimin: Menjadi penghubung informasi antar-daerah saat komunikasi sulit dilakukan.
📍 Garut
– KH. Hasan Basri: Menggelar rapat akbar sesaat setelah proklamasi, menyerukan rakyat tetap bersatu menjaga hasil perjuangan.
– H. Ruhiyat: Menggerakkan usaha rakyat agar pasokan logistik pejuang tetap terjaga.
PERAN PENUH MENJELANG 17 AGUSTUS 1945
Kader Serikat Islam melanjutkan estafet perjuangan pendahulunya:
✅ Di BPUPKI & PPKI: Gagasan keadilan, kedaulatan rakyat, dan nilai ketuhanan menjadi bagian tak terpisahkan dari dasar negara.
✅ Pengamanan & Dukungan: Menjaga tokoh proklamator, menyembunyikan naskah penting, serta mengamankan lokasi perumusan kemerdekaan.
✅ Penyebaran Kabar: Melalui jaringan masjid, pesantren, dan kader, berita kemerdekaan sampai ke desa-desa lebih cepat dari berita resmi kolonial.
✅ Benteng Pertahanan: Segera setelah proklamasi, ribuan simpatisan bergabung dalam BKR/TKR, Barisan Pelopor, dan menjaga aset negara saat Belanda berusaha kembali berkuasa.
PENUTUP
Sejarah membuktikan: Serikat Islam adalah jembatan yang menghubungkan kesalehan pribadi dengan tanggung jawab bernegara. Tokoh-tokohnya mengajarkan—kemerdekaan bukan sekadar lepas dari penjajah asing, melainkan merdeka dari kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan. Warisan persatuan inilah yang menjadi modal terbesar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Penulis: Gilang
Sumber : berbagai Pustaka Pribadi




























