Nasionaldetik.com,— 14 Januari 2026 Pembangunan lima ruas trotoar di Kabupaten Merangin, Jambi, tahun 2025, yang menelan anggaran lebih dari Rp 2 miliar, kini menghadapi sorotan tajam terkait dugaan kegagalan mutu. Proyek yang tersebar di beberapa jalan utama ini dilaporkan tidak memenuhi spesifikasi dan standar kualitas yang seharusnya.
Beberapa masalah serius mengemuka, termasuk keterlambatan pengerjaan yang signifikan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, khususnya curah hujan tinggi, berpotensi merusak material dan mengganggu proses pengerjaan yang sensitif terhadap air. Selain itu, mutu material yang meragukan dan dugaan kelalaian dalam pengawasan juga menjadi titik krusial dalam evaluasi proyek ini.
Kegagalan mutu ini diduga melibatkan tiga pihak utama. Pertama, pelaksana proyek (kontraktor) dinilai melakukan kesalahan mendasar. Proyek yang dimulai tidak sesuai jadwal kontrak, memaksa pengerjaan dikebut pada periode kritis menjelang batas waktu penyelesaian (“injury time”), yang berpotensi mengorbankan kualitas. Penggunaan beton ready mix yang belum mencapai umur optimal (28 hari) dan kualitas yang sulit dipenuhi vendor lokal (seperti mutu VC 20) dapat mempengaruhi kekuatan trotoar. Pemasangan batu alam yang tidak sesuai standar, seperti tidak digerinda pada bagian bawahnya dan pemasangan yang tidak siku, juga berkontribusi pada potensi penurunan kekuatan dan estetika.
Kedua, pihak pengawas juga diduga melakukan kelalaian. Seharusnya memastikan proyek berjalan sesuai rencana dan spesifikasi, pengawas diduga gagal memantau secara optimal dan mengoreksi penyimpangan. Ketidaktegasan dalam menegur keterlambatan jadwal dan minimnya ketelitian dalam memeriksa kualitas material menjadi catatan penting. Terakhir, pemerintah sebagai pemberi anggaran turut disorot. Dugaan kurangnya selektivitas dalam proses lelang atau penunjukan kontraktor, serta lemahnya sistem pengawasan dari instansi terkait, dinilai membuka celah terjadinya kegagalan mutu ini. Ketiga pihak ini diduga berkontribusi pada hasil pekerjaan yang di bawah standar, berisiko mengurangi daya tahan dan kekuatan trotoar yang dibangun.
Rama Sanjaya dari LSM Sapurata mendesak pihak terkait untuk memberikan klarifikasi resmi mengenai dugaan ini. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap proyek yang dibiayai anggaran publik benar-benar memprioritaskan mutu dan kualitas terbaik, bukan hanya sekadar mengejar tenggat waktu penyelesaian.
(Bersambung)
Reporter: Gondo Irawan







































