“Menakar Kriteria Calon Nahkoda Ideal PBNU.” Oleh : Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), Pengasuh Pesantren Ora Aji Yogyakarta.

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 18 Juli 2026 - 07:55 WIB

5077 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta, nasionaldetik.com

Menakhodai Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua bukan lagi soal menjaga tradisi kematian, kelahiran dengan selametan, tahlilan, atau sekadar memobilisasi massa saat Pemilu. NU hari ini adalah raksasa yang sedang berdiri di persimpangan jalan peradaban digital dan globalisasi ekonomi.

Siapa yang pantas memimpin jemaah sebesar ini? Jawabannya jelas: ia haruslah sosok yang memiliki jangkar lokal yang kuat namun punya sayap yang mampu mengepak hingga ke level global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menjalankan NU di abad baru membutuhkan nakhoda dengan spesifikasi khusus. Enam kriteria ini bukan sekadar pelengkap resume, melainkan syarat mutlak demi keselamatan organisasi:

Satu; harus Pengasuh Pesantren. NU pada hakikatnya adalah pesantren besar. Roh, kultur, dan denyut nadi NU ada di sana. Menunjuk ketua umum yang bukan pengasuh pesantren sama saja dengan memisahkan anak dari ibu kandungnya. Pemimpin harus paham betul bahasa santri dan bahasa kiai.

Dua; punya akar literasi agama yang kokoh. Penguasaan kitab turats (klasik) dan muashir (kontemporer) adalah harga mati. Mengapa? Agar NU tidak kehilangan kompas keislamannya di tengah gempuran ideologi transnasional maupun liberalisme ekstrem. Ia harus fasih membaca kitab kuning, sekaligus tangkas membedah isu-isu modern.

Tiga; Punya visi misi yang jelas dan terukur. NU tidak boleh lagi berjalan dengan manajemen “mengalir saja”. Tanpa peta jalan yang presisi, NU hanya akan menjadi penonton peradaban, bukan penggerak. Pemimpin baru harus tahu persis NU mau dibawa ke mana dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.

Empat; Sudah alesai secara ekonomi. Ini poin krusial. Ketua Umum PBNU harus sudah makmur secara pribadi. Jika perutnya masih lapar, atau bisnisnya masih bergantung pada proyek pemerintah, NU akan rapuh sebagai kekuatan civil society. Ia akan mudah tergoda konflik kepentingan dan ditarik-tarik oleh syahwat politik praktis.

Lima. Punya kecakapan diplomatik di tingkat global. Dunia sedang menyusut menjadi sebuah desa global. Isu Islamofobia, perdamaian dunia, dan perubahan iklim membutuhkan peran NU. Pemimpin NU wajib memiliki kemampuan lobi internasional dan fasih berkomunikasi di panggung dunia agar suara Islam Nusantara didengar global.

Emam; Paham manajerial modern. Mengelola aset NU—dari sekolah, rumah sakit, hingga dana umat—tidak bisa lagi memakai manajemen tradisional. Butuh sentuhan korporasi yang transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi mutlak. NU harus dikelola secara profesional, bukan sekadar pelengkap hobi organisasi.

Mengapa Kiai Imam Jazuli? Saat radar kita arahkan ke medan sirkulasi kepemimpinan, muncullah nama-nama beken. Ada Gus Kikin yang membawa karisma besar dari PP Tebuireng. Ada Gus Rozin, figur muda yang matang di Mathali’ul Falah Kajen.

Ada pula Gus Yusuf, singa panggung yang mengasuh pesantren API Tegalrejo. Lalu Gus Salam pengasuh pesantren Denanyar yang selama ini vokal dan kritis pada model kepemimpinan NU hari ini. Mereka semua adalah kader terbaik, mutiara-mutiara NU yang luar biasa.

Di luar nama-nama itu ada Ra Azaim Pengasuh Pesantren Situbondo, Prof Nasarudin, Menteri Agama RI, ada Gus Zulfa, mubaligh yang terkenal pembuat syair Arab, Gus Fahrur Pengasuh PP Annur Malang, dan tentu saja calon petahana Gus Yahya. Ini bukti NU tidak pernah kekurangan kader terbaiknya.

Namun, jika kita membedah keenam kriteria di atas dengan pisau analisis yang objektif dan dingin, nama Kiai Imam Jazuli—pengasuh sekaligus pendiri Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon—terlihat menonjol secara unik.

Mengapa beliau? Mari kita bedah rekam jejaknya. Secara kapasitas keilmuan, beliau adalah kombinasi langka. Ia mengecap pendidikan salafiah murni di Pondok Pesantren Lirboyo, episentrum keilmuan kitab kuning tanah air. Tidak berhenti di situ, ia terbang ke Mesir dan menyelesaikan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Jembatan keilmuan timur tengah dan salafiah nusantara sudah selesai di dirinya. Ditambah lagi dengan wawasan regionalnya saat menempuh pendidikan bidang politik, pertahanan dan strategi di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Malaya Malaysia.

Yang paling membedakan Kiai Imam Jazuli dengan kandidat lain adalah kemandirian finansial dan kemampuan manajerialnya yang revolusioner. Beliau bukan sekadar menerima warisan pesantren, melainkan mendirikan pesantren dari nol.

Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon yang ia rintis tumbuh menjadi institusi pendidikan modern yang mandiri secara finansial tanpa ketergantungan pada ekosistem politik formal. Konsep tata kelola ekonominya matang, manajemennya lari kencang, dan visinya melompat ke depan. Ini membuktikan bahwa ia sudah selesai dengan urusan domestik ekonominya.

NU abad kedua tidak lagi butuh ketua umum yang baru mau belajar memimpin organisasi besar. NU butuh sosok yang sudah terbukti mampu membangun sistem, mandiri secara ekonomi, alim secara keilmuan, dan lincah dalam pergaulan global.

Melihat tantangan zaman yang kian pragmatis dan kompleks, profil seperti Kiai Imam Jazuli memberikan harapan baru bagi masa depan PBNU yang mandiri, kokoh, dan berwibawa di mata dunia. Amin yarabbal alamin.

Red.

Berita Terkait

Antisipasi Karhutla, Koramil 421-03/Pnh Bersama Satpol PP dan Warga Intensifkan Patroli
16 Tim Voli Berebut Piala Bupati Cup Wilayah I 2026 di Gedung Harta
Rekening Supriyono alias Botok Ditunda, Penegakan Hukum atau Pembatasan Aspirasi AMPB?
Diduga Curi Volume, Proyek Hotmix Rp14 Miliar Lebih Ruas Simpang Kuripan – Kota Agung Disorot LPAKN RI PROJAMIN Tanggamus
HMNI Jawa Tengah Dikukuhkan, Perkuat Organisasi dan Perjuangkan Kesejahteraan Nelayan
Polda Lampung Ingatkan Orang Tua Awasi Anak, Waspadai Narkoba, Pinjol hingga Ajakan Huru-hara
Yonif 9 Marinir Brigif 4 Mar/BS Gelar Bedah Rumah Ibu Suryati di Desa Paya
Kehadiran Habib Rizieq di Malang Mendapat Penolakan Rakyat, PNIB : Jangan Bikin Gaduh Jatim dan Indonesia, Kami Akan Tolak dan Lawan Sampai Kiamat

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 22:51 WIB

Pimred Ir. Edi Supriadi Tuntut Penegakan Etika Pers: Oknum Media Diduga Tebar Informasi Bohong tanpa Prinsip 5W+1H

Rabu, 2 September 2026 - 22:44 WIB

Stunting, ODGJ hingga Rabies Jadi Sorotan, Pelda Supriyadi Dorong Sinergi Lintas Sektor

Rabu, 2 September 2026 - 21:55 WIB

Patroli ke Desa Binaan, Babinsa Tigalingga Turun Tangan Bantu Warga Pasang Pagar Sekolah

Rabu, 2 September 2026 - 21:48 WIB

Perkuat Deteksi Dini, TNI-Polri Jalin Komunikasi Bersama Mitra Karib di Parongil

Rabu, 2 September 2026 - 21:35 WIB

Pasis Dikreg Seskoad LXVIII Sosialisasikan Pencegahan Karhutla Bersama UAS

Rabu, 2 September 2026 - 21:20 WIB

*Turun ke Titik Kritis Singkawang, Dansesko TNI Pantau Aksi Pasis Dikreg LVI dan Dorong Kolaborasi Antar-Lembaga Atasi Karhutla*

Rabu, 2 September 2026 - 21:04 WIB

*Terjun ke Karang Bintang, Tim Mabes TNI Edukasi Warga Dampak Kesehatan Ekonomi Karhutla*

Rabu, 2 September 2026 - 20:18 WIB

MENJAGA INTEGRITAS DARI GERBANG SELEKSI, WASDAL SPERSAL HADIR DI KODAERAL I ‎

Berita Terbaru