“Menakar Kriteria Calon Nahkoda Ideal PBNU.” Oleh : Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), Pengasuh Pesantren Ora Aji Yogyakarta.

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 18 Juli 2026 - 07:55 WIB

5093 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta, nasionaldetik.com

Menakhodai Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua bukan lagi soal menjaga tradisi kematian, kelahiran dengan selametan, tahlilan, atau sekadar memobilisasi massa saat Pemilu. NU hari ini adalah raksasa yang sedang berdiri di persimpangan jalan peradaban digital dan globalisasi ekonomi.

Siapa yang pantas memimpin jemaah sebesar ini? Jawabannya jelas: ia haruslah sosok yang memiliki jangkar lokal yang kuat namun punya sayap yang mampu mengepak hingga ke level global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menjalankan NU di abad baru membutuhkan nakhoda dengan spesifikasi khusus. Enam kriteria ini bukan sekadar pelengkap resume, melainkan syarat mutlak demi keselamatan organisasi:

Satu; harus Pengasuh Pesantren. NU pada hakikatnya adalah pesantren besar. Roh, kultur, dan denyut nadi NU ada di sana. Menunjuk ketua umum yang bukan pengasuh pesantren sama saja dengan memisahkan anak dari ibu kandungnya. Pemimpin harus paham betul bahasa santri dan bahasa kiai.

Dua; punya akar literasi agama yang kokoh. Penguasaan kitab turats (klasik) dan muashir (kontemporer) adalah harga mati. Mengapa? Agar NU tidak kehilangan kompas keislamannya di tengah gempuran ideologi transnasional maupun liberalisme ekstrem. Ia harus fasih membaca kitab kuning, sekaligus tangkas membedah isu-isu modern.

Tiga; Punya visi misi yang jelas dan terukur. NU tidak boleh lagi berjalan dengan manajemen “mengalir saja”. Tanpa peta jalan yang presisi, NU hanya akan menjadi penonton peradaban, bukan penggerak. Pemimpin baru harus tahu persis NU mau dibawa ke mana dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.

Empat; Sudah alesai secara ekonomi. Ini poin krusial. Ketua Umum PBNU harus sudah makmur secara pribadi. Jika perutnya masih lapar, atau bisnisnya masih bergantung pada proyek pemerintah, NU akan rapuh sebagai kekuatan civil society. Ia akan mudah tergoda konflik kepentingan dan ditarik-tarik oleh syahwat politik praktis.

Lima. Punya kecakapan diplomatik di tingkat global. Dunia sedang menyusut menjadi sebuah desa global. Isu Islamofobia, perdamaian dunia, dan perubahan iklim membutuhkan peran NU. Pemimpin NU wajib memiliki kemampuan lobi internasional dan fasih berkomunikasi di panggung dunia agar suara Islam Nusantara didengar global.

Emam; Paham manajerial modern. Mengelola aset NU—dari sekolah, rumah sakit, hingga dana umat—tidak bisa lagi memakai manajemen tradisional. Butuh sentuhan korporasi yang transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi mutlak. NU harus dikelola secara profesional, bukan sekadar pelengkap hobi organisasi.

Mengapa Kiai Imam Jazuli? Saat radar kita arahkan ke medan sirkulasi kepemimpinan, muncullah nama-nama beken. Ada Gus Kikin yang membawa karisma besar dari PP Tebuireng. Ada Gus Rozin, figur muda yang matang di Mathali’ul Falah Kajen.

Ada pula Gus Yusuf, singa panggung yang mengasuh pesantren API Tegalrejo. Lalu Gus Salam pengasuh pesantren Denanyar yang selama ini vokal dan kritis pada model kepemimpinan NU hari ini. Mereka semua adalah kader terbaik, mutiara-mutiara NU yang luar biasa.

Di luar nama-nama itu ada Ra Azaim Pengasuh Pesantren Situbondo, Prof Nasarudin, Menteri Agama RI, ada Gus Zulfa, mubaligh yang terkenal pembuat syair Arab, Gus Fahrur Pengasuh PP Annur Malang, dan tentu saja calon petahana Gus Yahya. Ini bukti NU tidak pernah kekurangan kader terbaiknya.

Namun, jika kita membedah keenam kriteria di atas dengan pisau analisis yang objektif dan dingin, nama Kiai Imam Jazuli—pengasuh sekaligus pendiri Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon—terlihat menonjol secara unik.

Mengapa beliau? Mari kita bedah rekam jejaknya. Secara kapasitas keilmuan, beliau adalah kombinasi langka. Ia mengecap pendidikan salafiah murni di Pondok Pesantren Lirboyo, episentrum keilmuan kitab kuning tanah air. Tidak berhenti di situ, ia terbang ke Mesir dan menyelesaikan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Jembatan keilmuan timur tengah dan salafiah nusantara sudah selesai di dirinya. Ditambah lagi dengan wawasan regionalnya saat menempuh pendidikan bidang politik, pertahanan dan strategi di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Malaya Malaysia.

Yang paling membedakan Kiai Imam Jazuli dengan kandidat lain adalah kemandirian finansial dan kemampuan manajerialnya yang revolusioner. Beliau bukan sekadar menerima warisan pesantren, melainkan mendirikan pesantren dari nol.

Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon yang ia rintis tumbuh menjadi institusi pendidikan modern yang mandiri secara finansial tanpa ketergantungan pada ekosistem politik formal. Konsep tata kelola ekonominya matang, manajemennya lari kencang, dan visinya melompat ke depan. Ini membuktikan bahwa ia sudah selesai dengan urusan domestik ekonominya.

NU abad kedua tidak lagi butuh ketua umum yang baru mau belajar memimpin organisasi besar. NU butuh sosok yang sudah terbukti mampu membangun sistem, mandiri secara ekonomi, alim secara keilmuan, dan lincah dalam pergaulan global.

Melihat tantangan zaman yang kian pragmatis dan kompleks, profil seperti Kiai Imam Jazuli memberikan harapan baru bagi masa depan PBNU yang mandiri, kokoh, dan berwibawa di mata dunia. Amin yarabbal alamin.

Red.

Berita Terkait

Beri Jamdan ke Prajurit, Dandim Majalengka Minta Babinsa Bina Calon Prajurit TNI AD Tanpa Pungli
Fidiel Castro Minta Dugaan Keterlibatan K3S, MKKS, dan Disdikbud Diusut Transparan
PPWI Ogan Ilir Sambangi Polda Sumsel, Fidiel Castro: Kebenaran Harus Diungkap, Jangan Biarkan Fitnah Berlarut!
Tak Henti-hentinya Satgas TMMD 130 Kodim 0209/Labuhanbatu, Berjibaku kejar Sasaran Pisik.
Kunjungan DPD IWO-I Deli Serdang di Sambut Oleh Ketua OKK DPP IWO-I Bersama DPW IWO-I DKI Jakarta
Sambut HUT ke-75 Humas Polri, Polres Inhil Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan Muhammadiyah
PCNU KOTA JAMBI MENERIMA BANTUAN MASKER DARI BPBD KOTA JAMBI UNTUK APEL HARI SANTRI NASIONAL 2026*
53 Pelajar Kabupaten Kediri Bawa Misi Kenalkan Seni dan Budaya di Kraton Yogyakarta

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 01:32 WIB

Terima Kunjungan Hinca Panjaitan, Kejari Karo Bahas Isu Strategis dan Penguatan Pelayanan Hukum

Selasa, 20 Oktober 2026 - 01:24 WIB

Tingkatkan Akuntabilitas dan Kinerja Organisasi, Kejari Karo Hadiri Evaluasi SAKIP Virtual 2026

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:29 WIB

Dari Desa Untuk Negeri, Satgas TMMD Kodim 0206/Dairi Berjuang Membuka Akses Sibongkaras

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:58 WIB

HINCA PANJAITAN ZIARAH KE MAKAM BOLANG PENAWAR DAN SERAP ASPIRASI GANTI RUGI LAHAN DI DESA KANDIBATA, LANJUT BAHAS KEARIFAN LOKAL DI KEJARI KARO

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:50 WIB

Tim Cobra Polres Karo Ungkap Kasus Pencurian, Residivis Diamankan di Kabanjahe

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Jelang Hari Jadi Humas Polri ke-75, Si Humas Polres Karo Gelar Bakti Sosial di Masjid Husnul Khotimah

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:29 WIB

Polres Karo Kembali melaksanakan Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD), Dua Pria Diamankan Bersama Sabu di Bintang Meriah

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:24 WIB

Wakapolres Karo Pimpin Apel Pagi, Tekankan Tanggung Jawab Pelaksanaan Program Quick Wins Kapolri

Berita Terbaru