Nasionaldetik.com,– 06 Februari 2026 Ketika rakyat dipaksa bertaruh nyawa menyelamatkan sumber penghidupan mereka, pemimpin daerah justru menunjukkan sikap apatis. Jebolnya Bendungan Lewi Gablok di Desa Cibadak dan Desa Sukarasa menjadi bukti nyata kegagalan Pemerintah Kabupaten Bogor dalam memelihara infrastruktur vital rakyat.
Berikut adalah fakta lapangan
Bupati Bogor menjadi sorotan utama karena dianggap “molor” dan abai terhadap keselamatan warga. Sementara itu, Ali Sopyan (Relawan Rambo Nusantara) bersama ratusan petani di Kecamatan Tanjungsari kini harus berjibaku secara swadaya melakukan perbaikan darurat.
Terjadi kehancuran total pada struktur Bendungan Lewi Gablok. Bendungan yang sudah dalam kondisi lapuk (tepok) dan tidak layak pakai ini akhirnya rata diterjang banjir. Dampaknya fatal: 150 hektar lahan pertanian terancam gagal panen total karena hilangnya pasokan air irigasi.
Bencana infrastruktur ini melanda dua desa strategis, yakni Desa Cibadak dan Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Jebolnya bendungan terjadi menyusul intensitas hujan tinggi yang menghantam bangunan bendungan yang memang sudah tidak terawat selama bertahun-tahun. Hingga saat ini, belum ada bantuan alat berat atau personel resmi dari pemerintah daerah di lokasi.
Karena pembiaran. Bendungan dibiarkan dalam kondisi rapuh tanpa ada upaya rehabilitasi permanen dari Dinas terkait. Pemerintah daerah dianggap lebih mementingkan proyek seremonial daripada urusan perut rakyat dan ketahanan pangan di wilayah pelosok Bogor.
Rakyat terpaksa bergotong royong secara manual memasang cerucuk (patok kayu) seadanya—sebuah pemandangan ironis di tengah anggaran daerah yang besar. Warga kini melayangkan mosi tidak percaya kepada Bupati Bogor dan mendesak Gubernur Jawa Barat serta Dedi Mulyadi (KDM) untuk segera turun tangan mengambil alih perbaikan secara permanen.
“Rakyat tidak butuh janji atau kunjungan formalitas. Kami butuh air mengalir ke sawah kami. Jika Bupati tetap diam, jangan salahkan jika rakyat menganggap pemerintah sudah mati di Tanjungsari.”
Tim Redaksi Prima







































