GAYO LUES – Plafon ruang perawatan bayi di Rumah Sakit Umum Muhammad Ali Kasim (RSUMAK) Kabupaten Gayo Lues ambruk pada Selasa sore, 28 Oktober 2026, saat hujan lebat mengguyur wilayah Blangkejeren dan sekitarnya. Peristiwa yang terjadi di jam layanan aktif itu terekam dalam video amatir yang kini viral di media sosial.
Video ambruknya plafon tersebut beredar dari akun Facebook bernama Lita melalui tautan https://www.facebook.com/reel/2308320379741119. Dalam rekaman yang diambil sore ini, terlihat jelas panel plafon PVC di ruang bayi jebol dan berserakan di lantai kayu. Rangka besi hollow menggantung terbuka menganga tepat di atas sejumlah inkubator bayi dan alat infant warmer.
“Ya Allah ruang bayi RS Ali Kasim semoga saudara2 kita yg ad d sana semua d lindungi ya Allah,” tulis akun Lita dalam keterangan videonya yang dikutip Selasa sore.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, plafon ambruk diduga setelah atap bocor dan tidak mampu menahan rembesan air hujan lebat sore tadi. Beruntung tidak ada korban jiwa. Seluruh bayi yang sedang dirawat di ruang tersebut langsung dievakuasi petugas medis dan dipindahkan ke ruang perawatan Level I untuk memastikan keselamatan dan kelanjutan perawatan.
Langkah cepat evakuasi tersebut patut diapresiasi, namun tidak menghapus persoalan utama: bagaimana mungkin plafon di ruang paling steril dan vital seperti ruang bayi di sebuah rumah sakit umum daerah bisa ambruk hanya karena hujan lebat?
Ruang bayi bukan ruang biasa. Di dalamnya dirawat pasien dengan imunitas paling rendah, dengan kebutuhan sterilitas, suhu, dan keamanan paling tinggi. Ambruknya plafon sore ini bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan ancaman keselamatan serius. Serpihan material, debu plafon, dan instalasi lampu yang ikut menggantung berpotensi menimbulkan luka, infeksi, hingga korsleting listrik di tengah inkubator yang menyala.
Kejadian pada 28 Oktober 2026 sore ini pun memunculkan pertanyaan tajam soal mutu bangunan RSUMAK. Apakah kebocoran atap sudah lama dibiarkan tanpa perawatan? Apakah material plafon yang digunakan tidak sesuai spesifikasi teknis untuk fasilitas kesehatan? Dan bagaimana fungsi pengawasan konstruksi serta pemeliharaan rutin gedung yang dibiayai dari anggaran daerah?
Hingga Selasa malam, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen RSUMAK maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues terkait penyebab pasti ambruknya plafon, luas kerusakan, maupun hasil pemeriksaan struktur atap setelah hujan lebat sore tadi.
Publik kini mendesak Pemerintah Kabupaten Gayo Lues untuk segera melakukan audit teknis menyeluruh terhadap konstruksi RSUMAK. Insiden ini tidak bisa dianggap sekadar musibah cuaca. Jika ruang bayi saja bisa ambruk pada saat hujan, bagaimana jaminan keselamatan pasien di ruang IGD, ruang operasi, dan ruang rawat inap lainnya?
Keselamatan pasien harus menjadi harga mati.
(TIM)


























