Pemuda Baptis, Mengelar Nobar Filem Pesta Babi, Menyadarkan Orang Asli Papua Bersatu Selamatkan Manusia, Tanah dan Hutan Papua

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Senin, 15 Juni 2026 - 17:43 WIB

5064 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasional detik.com,Wamena, Persekutuan Pemuda Baptis Wilayah Hubula bersama pemuda sahabat GIDI, KINGMI, GKI dan Katolik Nonton Bareng Filem Dokumenter Pesta Babi.

Pemutaran filem dokumenter pesta babi ini berlangsung di gedung gereja baptis bahtera pada 14 Juni 2026. Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua Pegunungan.

Nonton bareng diawali dengan Diskusi tentang pesta babi dihadirkan kedua narasumber yaitu Angginak Sepi Wanimbo dan Marsela Tabuni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Marsela Tabuni, menyelaskan penting anak muda – mudi generasi emas masa depan gereja dan bangsa belajar sejarah penduduk orang asli Papua. Dan mengenali diri untuk menata masa depan yang penuh harapan.

Hari ini jika generasi muda lebih banyak belajar sejarah orang lain maka kita akan muda mendapat tipu tetapi belajar sejarah sendiri kita akan berdiri kuat di atas negeri dan tanah Papua.

Lanjut Angginak Sepi Wanimbo, salah satu pegiat literasi muda Papua Pegunungan. Menyampaikan Tuhan menciptakan kekayaan alam kaya raja ini untuk mengelola dan menikmati hasil itu Tuhan tempatkan manusia sesuai bahasa, budaya dan ras, misalnya sahabat – sahabat kita diluar Papua. Untuk hidup berkarya, disana tetapi bagi kami penduduk orang asli Papua. Tuhan tempatkan hidup beranak cucu di pulau bernama Papua.

Orang asli Papua hidup dengan kearifan lokal artinya mereka selalu menjaga tanah sebagai ibu, yang melahirkan, membesarkan, hutan sebagai supermarket bagi orang asli Papua.

Hutan, tanah, sebagai napas kehidupan bagi orang asli Papua. Tetapi juga sebuah band yang sedang terbaring, Maka bagi orang asli penduduk Papua. Tugas adalah selalu merawat, menjaga, secara baik sebab jika tidak memberi pupuk secara teratur maka hilangnya sebuah warisan kekayaan bagi orang asli Papua.

Menurut pemerintah pusat operasi Proyek Strategis Nasional (PSN). Di Merauke itu untuk kesejahteraan orang asli Papua. Tetapi menurut  orang asli Papua (PSN),  untuk orang diluar Papua. Terbukti hari ini semua petugas pekerjaan di sebuah perusahan yang sedang operasi adalah sahabat – sahabat dari nusantara sementara anak daerah menjadi penonton setia.

Tanah sudah dicangkul, hutan sudah dibabat rata melalui exsepator dikawal ketat oleh keamanan negara TNI di wilayah operasi PSN. Orang asli pribumi kehilangan harapan dan masa depan bagi masyarakat adat di daerah tersebut.

Suatu kegagalan oleh pemimpin gereja, pemerintah, adat tidak mampu melindungi suatu kekayaan besar yaitu tanah, gunung, dan manusianya. Sehingga setiap pemimpin daerah bijaksana dalam program kebijakan  pembangunan di tanah Papua.

Setiap anak muda Papua yang sudah bersarjana ilmu pengetahuan itu jadikan sebagai senjata ampuh untuk selamatkan hutan, tanah dan manusia.  Sebaliknya Ilmu jangan jadikan sebagai senjata untuk mempersulitkan, menyiksa, membunuh, mencuri barang milik orang lain. Tetapi gunakan skil, keterampilan itu untuk menolong sesama manusia.

Papua ini sejak Tuhan ciptakan ada penduduknya yaitu, orang asli Papua, yang hidup berkarya, beranak cucu di negeri ini. Oleh karena itu orang luar berangapan bahwa Papua. Itu tanah kosong itu suatu kebohongan besar yang dilakukan oleh mereka bukan penduduk orang asli Papua.

Orang asli Papua jangan kita bermimpi disiang hari bahwa orang dari negara luar akan datang membangtu persoalan, derita orang asli Papua. Tetapi orang asli Papua, sendiri saatnya bersatu bangkit untu menentukan masanya sendiri yang penuh semangat.

Tanah tidak pernah melahirkan anak tetapi manusia yang biasanya melahirkan anak karena itu pentingnya orang asli Papua menjaga tanah, hutan dan sesama manusia. Sebab Papua bukan tanah kosong tetapi Papua ada penduduk orang asli Papua.

Usai diskusi panel filem pesta babi akhir penutup Angginak Sepi Wanimbo, sebagai pegiat literasi Papua Pegunungan.  salurkan kedua buku karya anak Papua berjudul, Sejarah Kepemimpinan6 Pemuda Baptis Papua dan karangan Socratez Sofyan Yoman, bertema. Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua. Diserahkan kepada  salah satu narasumber bernama Marsela Tabuni, sebagai anggota lapak baca di tunggu menara salib Jayawijaya Wamena.

Bangtuan buku sebagai salah satu upaya tindakan nyata bagi pegiat gerakan literasi untuk mengajak anak muda – mudi membudayakan membaca buku dimana saja berada di kampus, gereja, komunitas dan di kantor – kantor pelayanan umum.

Literasi ini salah satu cara efektif  untuk mencerdaskan, mendidik, menolong bagi mereka yang tidak dapat ditolong sehingga meminta pemimpin gereja membuka kelas literasi di setiap tempat pelayanan Tuhan.

Saat ini pemerintah daerah dan pimpinan gereja membangun sarana dan prasarana sangat mengah tetapi jika pembangunan manusia Papuanya lemah maka akan kita menjadi tamu di negerinya sendiri.

Karena itu membangkitkan semangat belajar dari ayah dan ibu di honai, gereja, komunitas literasi dan di sekolah untuk mempersiapkan generasi muda – mudi yang mempunyai kualitas ilmu tinggi dan takut akan pada Tuhan.

Saat ini penduduk orang asli Papua. Semakin hari terus berkurang karena itu  saatnya jangan kita membedakan antara gunung dan pantai tetapi saatnya kita orang asli Papua dari Sorong hingga Merauke bersatu selamat manusia, hutan dan tanah Papua.

Akhir nobar filem pesta babi ketua pemuda baptis wilayah hubula, Yeslin Yoman, sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua narasumber dan pesan kegiatan – kegiatan positif seperti sekarang ini kita akan terus lakukan untuk kedepan sebab itu kami meminta dukungan Doa, daya dan dana dari semua elemen entah itu tokoh, kader, intelektual serta kita semua.

Diskusi panel dan pemutaran filem kita akan terus lakukan di setiap gereja oleh karena itu memohon kepada setiap generasi muda kita bersatu hati memajukan pelayanan Tuhan secara bersama – sama dengan bergandengan tangan. Wamena, 14 Juni 2026

Berita Terkait

Kodam XIX Tuanku Tambusai Kawal Pemadaman Karhutla di Gemalasari, Pendinginan Berlanjut
*Dari Timbunan Sampah Jadi Bahan Bakar, TNI AD Siap Turun Tangan*
Pangdam I/BB Datang ke Kodim 0206/Dairi, Tekankan Prajurit Tetap Tulus Mengabdi dan Bijak Bermedia Sosial
Pangdam I/BB Tiba di Dairi, Disambut Dandim dan Sejumlah Pejabat Daerah
Babinsa Koramil 07/Salak Komsos Bersama Perangkat Desa Simerpara
Komsos di Kuta Dame, Babinsa Koramil 06/Kerajaan Ajak Perangkat Desa Waspadai Karhutla
​Bukan Meredam, Blokir Media Sosial Picu Kemarahan Publik dan Lumpuhkan Ekonomi
Babinsa 04/Tigalingga Komsos Bersama Camat, Bahas Pencegahan Karhutla

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:26 WIB

Kodam XIX Tuanku Tambusai Kawal Pemadaman Karhutla di Gemalasari, Pendinginan Berlanjut

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:18 WIB

*Dari Timbunan Sampah Jadi Bahan Bakar, TNI AD Siap Turun Tangan*

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:07 WIB

Pangdam I/BB Datang ke Kodim 0206/Dairi, Tekankan Prajurit Tetap Tulus Mengabdi dan Bijak Bermedia Sosial

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Pangdam I/BB Tiba di Dairi, Disambut Dandim dan Sejumlah Pejabat Daerah

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:53 WIB

Babinsa Koramil 07/Salak Komsos Bersama Perangkat Desa Simerpara

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:45 WIB

​Bukan Meredam, Blokir Media Sosial Picu Kemarahan Publik dan Lumpuhkan Ekonomi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Babinsa 04/Tigalingga Komsos Bersama Camat, Bahas Pencegahan Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:36 WIB

Babinsa Parongil Sambangi Pekerja Bangunan, Pesan Kewaspadaan Jadi Perhatian

Berita Terbaru