Atas Nama Redaksi Nasional Detik. Com, mengucapkan HUT BSSN , 4 April 2026
Penulis : Gilang Ferdian
Nasionalistik.com — 04 April 2026 Special Redaksi Di era digital saat ini, pertukaran informasi terjadi dalam hitungan detik. Bersamaan dengan itu, risiko ancaman terhadap keamanan data dan informasi negara juga semakin meningkat. Di Indonesia, lembaga yang memiliki wewenang penuh dalam menjaga keamanan siber dan persandian negara adalah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Namun, bagaimana sejarah terbentuknya lembaga ini? Dan apa hubungan BSSN dengan dunia persandian yang sudah ada sejak zaman dahulu?
Sejarah: Dari Kanjeng Raden Tumenggung hingga BSSN
Sejarah persandian di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjalanan bangsa ini meraih kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan.
1. Masa Perjuangan (AJB KRT Radjiman)
Awal mula lembaga sandi di Indonesia bermula pada masa revolusi fisik. Pada tanggal 19 Agustus 1946, dibentuklah Dinas Code di bawah Kementerian Pertahanan. Kemudian, melalui Keputusan Presiden No. 120 tahun 1947, lembaga ini diresmikan menjadi Dinas Sandi Negara.
Pada perkembangannya, lembaga ini mengalami beberapa kali perubahan nama dan struktur, salah satunya dikenal sebagai Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Untuk menghormati pendiri dan tokoh penting persandian Indonesia, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat, nama ini kemudian diabadikan menjadi Akademi Ilmu Pemerintahan (AIP) KRT Radjiman.
2. Transformasi Menjadi BSSN
Seiring perkembangan zaman dan masuknya era internet, ancaman tidak lagi hanya datang dari pesan rahasia konvensional, tetapi juga dari dunia maya. Oleh karena itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2017, Lembaga Sandi Negara secara resmi dibubarkan dan dibentuklah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Transformasi ini menandai perluasan tugas, dari yang semula hanya mengurusi sandi (enkripsi), kini juga bertanggung jawab penuh atas keamanan siber nasional.
Peran dan Fungsi Utama BSSN
BSSN memiliki tugas strategis yang sangat vital bagi negara, antara lain:
– Keamanan Siber: Melindungi aset informasi, data, dan infrastruktur digital negara dari serangan siber, peretasan, dan penyadapan.
– Persandian: Mengembangkan sistem kriptografi atau teknik pengamanan pesan agar informasi rahasia negara tidak dapat dibaca oleh pihak yang tidak berwenang.
– Kebijakan: Merumuskan kebijakan nasional terkait keamanan informasi dan siber.
– Koordinasi: Bekerja sama dengan instansi pemerintah, TNI, Polri, dan sektor swasta dalam menangani insiden keamanan digital.
Mengapa Literasi BSSN Itu Penting?
Istilah “Literasi BSSN” sering kali dikaitkan dengan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya keamanan digital. Mengapa ini penting?
1. Perlindungan Data Pribadi: BSSN mengedukasi masyarakat agar waspada dalam menggunakan internet, memahami phishing, dan menjaga password agar tidak mudah diretas.
2. Kesadaran Nasional: Setiap warga negara memiliki peran dalam menjaga kedaulatan digital. Serangan siber tidak hanya menyerang pemerintah, tetapi juga bisa mengganggu sistem perbankan, transportasi, dan layanan publik yang digunakan masyarakat.
3. Regulasi dan Hukum: Memahami bahwa aktivitas di dunia maya memiliki aturan hukum dan konsekuensi, serta ada lembaga yang berwenang mengawasi dan menindak pelanggaran keamanan informasi.
Kesimpulan
BSSN adalah pewaris tradisi dan teknologi persandian yang telah ada sejak awal kemerdekaan Indonesia. Dari sekadar alat bantu perang menggunakan kode rahasia, kini berkembang menjadi garda terdepan pertahanan negara di ruang angkasa (cyberspace).
Memahami sejarah dan fungsi BSSN berarti kita turut serta mendukung terciptanya ekosistem digital yang aman, nyaman, dan produktif bagi seluruh rakyat Indonesia.
Penulis : Gilang Ferdian
Editor : Pimpinan Redaksi
Sumber : Berbagai Literasi dan Pustaka Pribadi







































