DPD I KNPI Papua Pegunungan Desak Pemerintah Provinsi dan Pemerintah 8 Kabupaten Segera Gelar Dialog Rakyat & Rekonsiliasi Konflik

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:00 WIB

50745 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Papua P, nasionaldetik.com

Dolpinus Weya, A.Md, Sos Ketua DPD I KNPI Papua Pegunungan menyatakan Konflik sosial di Papua Pegunungan tidak lagi berdiri sebagai peristiwa insidental, melainkan telah berkembang menjadi siklus dendam antarsuku yang diwariskan lintas generasi. Konflik yang semula berangkat dari persoalan individu kini bertransformasi menjadi konflik kolektif yang melibatkan keluarga besar, klan suku marga, dedominasi Gereja, nama Kabupaten disebut, hingga Penyebutan suku besar. Ketika mekanisme penyelesaian konflik tidak menyentuh akar keadilan sosial dan pemulihan relasi, maka luka batin dan rasa ketidakadilan terus dipelihara. Inilah yang menjadikan Papua Pegunungan sebagai “lahan subur” lahirnya konflik baru, karena setiap masalah lama belum sungguh disembuhkan, hanya ditutup sementara oleh kesepakatan adat yang rapuh dan kehadiran pemerintah yang simbolik.

Leo Himan Wakil Ketua III mengaris bawahi bahwa Tradisi Pembayaran kepala menjadi beban sosial-ekonomi yang selalu saja meresahkan keluarga pelaku mapun keluarga korban. Karena Penyelesaian konflik yang bertumpu pada tradisi pembayaran kepala hingga miliaran rupiah telah menciptakan beban struktural yang sangat berat bagi masyarakat. Sumber dana yang berasal dari iuran keluarga pelaku, pemotongan dana desa serta bantuan pemerintah, baik dalam bentuk uang maupun ternak babi, secara tidak langsung mendorong konflik ini berubah menjadi komoditas sosial ekonomi. Kita berfikir kebiasaan ini akan menyelesaikan masalah secara bermartabat, mekanisme ini justru melahirkan ketergantungan, ketimpangan, kemiskinan, dan ekspektasi berlebihan dalam setiap penyelesaian konflik. Pemerintah, tanpa disadari, ikut terjebak dalam pola penyelesaian yang hanya memadamkan api di permukaan, namun membiarkan bara konflik tetap menyala di bawahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bayam Keroman, Wakil Ketua juga menyampaikan bahwa dalam konflik perang suku, Perempuan selalu jadi Korban tersembunyi. Salah satu dampak paling tragis dari konflik sosial adalah normalisasi praktik kawin paksa sebagai alat transaksi penyelesaian masalah. Perempuan baik yang masih remaja, masih sekolah, bahkan yang telah menikah selalu saja diintimidasi dan ditekan keluarga untuk dikorbankan demi memenuhi tuntutan adat. Sangat kronis martabat perempuan direduksi menjadi alat tukar, jembatan pembayaran, dan pelunasan konflik yang tidak mereka inginkan. Praktik ini bukan hanya melanggar nilai kemanusiaan dan hak asasi, tetapi juga menciptakan trauma sosial yang mendalam. Ketika perempuan kehilangan hak atas tubuh dan masa depannya, maka sesungguhnya masyarakat sedang menghancurkan fondasi moral dan peradaban manusia papua itu sendiri.

Arman Kogoya Wakil Sekertaris menyatakan bahwa Perang Suku juga menjadi faktor Keruntuhan Ekonomi Keluarga dan Masa Depan Anak. Tradisi Kewajiban setiap kepala keluarga untuk menyumbang uang dan ternak memicu teejadinya rantai utang-piutang yang berkepanjangan. Karena tuntutan denda adat, Keluarga terpaksa menjual aset, mengorban ternak dan Uang bahkan biaya pendidikan anak pun sering dikorbankan hanya demi memenuhi tuntutan adat. Sangat miris Anak-anak tumbuh dalam situasi ketidakpastian ekonomi, tekanan psikologis, dan kehilangan masa depan. Dalam konteks ini, konflik sosial bukan hanya persoalan keamanan, tetapi telah berubah menjadi tragedi kemiskinan struktural yang menghancurkan generasi Papua Pegunungan secara perlahan namun pasti.

Eliut Lokbere, Anggota DPD I KNPI Papua Pegunungan Konflik Suku akan menjadi Luka yang Tak Pernah Sembuh yang kemudian berimplikasi pada Rusaknya Relasi Sosial. Ironisnya, sekalipun pembayaran adat telah dilakukan, luka batin dan dendam keluarga tidak akan pernah benar-benar hilang. Kehidupan sosial masyarakat akan dibayangi rasa takut, saling curiga, dan pembatasan aktivitas sehari-hari. Relasi antarkeluarga dan antarsuku menjadi tegang, rapuh, dan mudah meledak. Dalam situasi seperti ini, masyarakat hidup dalam “damai semu” yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi konflik terbuka. Ketika kepercayaan sosial runtuh, maka tatanan hidup bersama menjadi sulit dikendalikan, dan pemerintah daerah akan kehilangan pijakan untuk membangun stabilitas jangka panjang.

Yulans F.Y Wenda, S.HI, Sekertaris DPD I KNPI Papua Pegunungan Serukan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Daerah Delapan Kabupaten Segera mengambil langkah kemanusiaan untuk mengelar Dialog Rakyat dan Rekonsiliasi Konflik atas realitas sosial konflik perang suku.

Dialog Rakyat dan Rekonsiliasi Konflik adalah pokok pikiran dan rekomendasi seluruh Pemuda Delapan Kabupaten yang merupakan Penegasan dan pernyataan Fundamental sebagai bentuk tanggung jawab moral generasi muda papua pegunungan.

Oleh sebab itu Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan delapan kabupaten diharpkan dapat berkordinasi dalam forum rapat Stakeholder atau Raker Muspida secara kolektif untuk segera menginisiasi *DIAOG RAKYAT dan REKONSILIASI KONFLIK* yang dimakukan secara inklusif, terbuka, dan bermartabat. Dialog ini harus melibatkan tokoh adat, tokoh agama, perempuan, pemuda KNPI, OKP/Cipayung,Ormas, Pimpinan Sinode, akademisi, dan aparat negara untuk merumuskan model penyelesaian konflik yang berkeadilan, memulihkan relasi sosial, serta menghormati hak asasi manusia. Konflik sosial terbukti menjadi penghambat utama ekonomi, pendidikan, dan pembangunan. Tanpa keberanian politik dan kebijaksanaan para pimpinan daerah, Papua Pegunungan akan terus terjebak dalam lingkaran konflik yang menggerogoti masa depan daerah dan generasi mudanya.

*Salam Pemuda! Hormat Kami*
*DPD I KNPI Papua Pegunungan*
_Energy Of Harmony_

*Ketua:Dolpinus Weya, A.Md, Sos*
*Sekertaris:Yulans F.Y Wenda, S
HI*

Red.

Berita Terkait

Air Mata Pengiring Kepergian Camat Kedondong, Sosok Pemimpin yang Dekat di Hati Warga
Gasak Motor di Halaman Masjid Saat Salat Subuh, Pelaku Curat Diringkus Tekab 308 Polsek Gedong Tataan Bersama Warga
Rutan Ambon Akhiri Program Magang HUB Batch II Dengan Apresiasi
Pembina DPD IWO-IKabtang Monitor Sampah yang Menggunung; Mencerminkan Lemahnya Rensponsip Pemerintah.
Lepas Control Peredaran Rokok Ilegal di Pekanbaru, Ketua DPC GRIB Berikan Sorotan Tajam Kinerja Kepala Bea Cukai
Apresiasi Tinggi Kinerja Sat Reskrim Polres Tanggamus, Lpakn RI Projamin Dan Forum Wartawan Limau Bersatu: Kinerja Gemilang Dalam Pemberantasan Kejahatan
Aset Disita Paksa, PT Citra Aryaguna dan Elisabeth Louise Coreta Tak Berkutik Pasca-Putusan Inkrah MA
Bakti Sosial IPeKB Provinsi Banten Tahun 2026 Salurkan Bantuan GENTING bagi Keluarga Berisiko Stunting di Kecamatan Balaraja

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:14 WIB

Dikabarkan Truk Diamankan, Alat Berat Tak Diamankan, Disinyalir Oknum APH Diduga Beking Galian C Ilegal di Deli Serdang.

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:44 WIB

Jalan Tani Tertutup Semak, Babinsa dan Kades Turun Tangan Ajak Warga Gotong Royong di Lau Mulgap

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:13 WIB

BLT-DD Tahap I Cair di Sukaramai, Babinsa Pastikan Bantuan Tepat Sasaran

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:59 WIB

Kopi Arabika Usia 1 Tahun Mulai Berbuah, Babinsa Ikut Dampingi Panen Perdana Petani

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:24 WIB

Sosok Hisar Rumapea, Dinilai Memiliki Kapabilitas dan Integritas Tinggi Sebagai Kasi Penegakan Hukum UPT Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah II Disnaker Sumut

Selasa, 26 Mei 2026 - 10:17 WIB

Pembina DPD IWO-IKabtang Monitor Sampah yang Menggunung; Mencerminkan Lemahnya Rensponsip Pemerintah.

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:11 WIB

Diduga Jadi Sarang Mafia BBM Subsidi, Aktivitas Mencurigakan di SPBU 14.202.113 Tanjung Mulia Terpantau Bebas Beroperasi

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:01 WIB

Polsek Candipuro Ungkap Curanmor di Trimomukti, Tiga Pelaku Ditangkap, Satu Buron

Berita Terbaru