TEGAL — Konferensi Cabang (Konfercab) DPC Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) se-Eks Karesidenan Pekalongan menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus merefleksikan kembali nilai-nilai ideologis Marhaenisme di tengah dinamika sosial masyarakat yang terus berkembang.
Ketua Panitia Konfercab DPC PA GMNI se-Eks Karesidenan Pekalongan, KRT Rosa Mulya Aji, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua Harian DPD PA GMNI Jawa Tengah, Abang Baginda M.M.H, yang secara langsung hadir dan turun ke basis organisasi.
Menurut Rosa, kehadiran jajaran pimpinan DPD tidak sekadar menjadi representasi struktural organisasi, tetapi juga menunjukkan adanya perhatian terhadap dinamika yang berkembang di tingkat cabang.
“Bagi kami, kehadiran Abang Baginda M.M.H sebagai Ketua Harian DPD PA GMNI Jawa Tengah yang langsung turun ke basis merupakan sebuah bentuk apresiasi sekaligus energi bagi kawan-kawan di daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan, Konfercab tidak semata-mata harus dimaknai sebagai forum untuk memilih atau menetapkan kepemimpinan baru. Lebih jauh, forum tersebut harus mampu menjadi ruang dialektika untuk membicarakan kembali gagasan, nilai, serta relevansi ideologi Marhaenisme dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan.
“Konfercab ini memiliki tantangan ideologis. Bukan hanya sekadar memilih ketua, tetapi bagaimana forum ini mampu mem-floorkan, mendiskusikan, dan menghidupkan kembali ideologi-ideologi Marhaenisme agar tidak berhenti sebagai konsep, melainkan dapat diterjemahkan dalam gerakan organisasi,” tegasnya.
Konfercab sebagai Forum Tertinggi Organisasi
Sementara itu, Ketua Harian DPD PA GMNI Jawa Tengah, Abang Baginda M.M.H, menegaskan bahwa Konfercab merupakan salah satu kewajiban organisasi sekaligus forum penting dalam menentukan arah perjalanan organisasi di tingkat cabang.
Menurutnya, Konfercab menjadi ruang demokrasi organisasi untuk membahas berbagai persoalan, mengevaluasi perjalanan organisasi, merumuskan keputusan, sekaligus menentukan langkah strategis ke depan.
“Konfercab merupakan salah satu kewajiban organisasi dan menjadi forum tertinggi di tingkat cabang, di mana berbagai hal terkait organisasi dibicarakan, dimusyawarahkan, kemudian diputuskan dan dilaksanakan bersama,” jelas Abang Baginda.
Ia menilai, wilayah Eks Karesidenan Pekalongan memiliki karakter sosial yang dinamis. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi PA GMNI untuk terus menghadirkan nilai-nilai organisasi dalam kehidupan masyarakat.
Dinamika yang muncul di berbagai daerah, menurutnya, harus dibaca sebagai bagian dari proses pendewasaan organisasi. PA GMNI tidak cukup hanya hadir dalam ruang-ruang struktural, tetapi juga perlu mampu menerjemahkan gagasan kebangsaan dan nilai-nilai Marhaenisme dalam tindakan yang konkret.
“Eks Karesidenan Pekalongan merupakan wilayah yang sangat dinamis. Berbagai dinamika yang ada harus mampu kita jadikan sebagai bagian dari proses untuk mewartakan dan menghadirkan nilai-nilai organisasi di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Abang Baginda juga menekankan bahwa keberhasilan Konfercab tidak berhenti ketika proses persidangan selesai atau ketika kepengurusan baru terbentuk. Justru, setelah forum tersebut berakhir, pekerjaan organisasi yang sesungguhnya harus dimulai.
Ia berharap hasil Konfercab dapat diterjemahkan dalam program dan tindakan nyata, sehingga organisasi memiliki arah yang lebih jelas, terukur, serta mampu bekerja secara maksimal.
“Setelah Konfercab ini dilaksanakan, harus ada action. Jangan sampai forum hanya menghasilkan keputusan administratif, tetapi tidak ada tindak lanjut. Kepengurusan yang terbentuk harus mampu membawa organisasi menjadi lebih terarah, lebih solid, dan lebih maksimal dalam menjalankan peran serta tanggung jawabnya,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Tegal Apresiasi Kontribusi PA GMNI
Apresiasi terhadap pelaksanaan Konfercab juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Tegal yang dalam kesempatan tersebut diwakili Camat Bumijawa, M. Sihabbudin, S.T., T.P.
Dalam sambutannya, M. Sihabbudin menyampaikan terima kasih atas kehadiran keluarga besar PA GMNI di Kabupaten Tegal. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki arti penting, terutama karena Kabupaten Tegal merupakan wilayah dengan kondisi sosial dan karakter masyarakat yang cukup kompleks.
“Kami mengucapkan terima kasih karena telah hadir di Kabupaten Tegal. Dengan kondisi wilayah yang cukup kompleks, tentu kami berharap kehadiran PA GMNI dapat memberikan manfaat dan energi positif bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap keberadaan organisasi alumni GMNI tidak hanya berhenti pada aktivitas internal organisasi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi sosial yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, organisasi kemasyarakatan dan kebangsaan memiliki posisi strategis dalam membangun komunikasi sosial serta membantu menciptakan ruang-ruang partisipasi masyarakat.
“Semoga dengan diselenggarakannya Konfercab PA GMNI se-Eks Karesidenan Pekalongan ini, akan lahir gagasan-gagasan yang memberikan kontribusi sosial secara langsung kepada masyarakat,” katanya.
Ia juga berharap seluruh rangkaian Konfercab dapat berjalan secara lancar, tertib, dan demokratis. Kepada siapa pun yang nantinya memperoleh amanah untuk memimpin organisasi, ia berpesan agar mampu menjalankan tanggung jawab tersebut dengan sungguh-sungguh.
“Kami berharap proses Konfercab dapat berjalan dengan lancar dan demokratis. Bagi yang nantinya mendapatkan amanah, kami berharap dapat mengembannya secara maksimal, penuh tanggung jawab, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi organisasi dan masyarakat,” pungkasnya.
Meneguhkan Kembali Spirit Marhaenisme
Konfercab DPC PA GMNI se-Eks Karesidenan Pekalongan pada akhirnya bukan hanya menjadi agenda pergantian atau penataan kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, serta semangat perjuangan alumni GMNI dalam membaca persoalan masyarakat dan kebangsaan.
Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, tantangan PA GMNI adalah bagaimana menjaga kesinambungan antara ideologi, organisasi, dan tindakan nyata. Nilai-nilai Marhaenisme tidak cukup hanya diwariskan sebagai pengetahuan sejarah, tetapi perlu terus didiskusikan, dikontekstualisasikan, dan diterjemahkan dalam kerja-kerja sosial yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Dengan demikian, Konfercab diharapkan tidak hanya menghasilkan struktur kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan energi baru, gagasan baru, serta gerakan yang lebih terarah dalam memperkuat eksistensi PA GMNI di wilayah Eks Karesidenan Pekalongan.
Sebab, pada akhirnya, organisasi bukan semata tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang seberapa jauh nilai perjuangan mampu dihidupkan menjadi tindakan dan seberapa besar keberadaannya memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.




























