– Tanah Karo, Nasionaldetik.com
– Festival Bunga dan Buah ( FBB) yang berlangsung setiap Tahun di kota sejuk Berastagi, menimbulkan banyak asumsi negatif, kegiatan yang menelan anggaran dengan angka yang singnifikan mencapai Rp 1 Milliar.
Adapun beberapa komentar dari masyarakat sekitar yang merupakan pedagang buah, sangat menyayangkan kegiatan tersebut, stand – stand yang disediakan oleh panitia penyelenggara, justru diperjual belikan kepada pedagang- pedagang dadakan.
” Bukannya stand petani bunga dan buah yang diperbanyak didalam, Untuk membantu para petani mengenalkan hasil bertani, malah pedangan jajanan dan mainan yang buat semak diperbanyak, kan lebih nyambung kalo segala jenis hasil buah dan bunga dipajang” ujar Singarimbun (48) salah satu pedangan buah di pajak Berastagi. Minggu (09/08/2026).
Ditimpali lagi oleh rekannya sesama pedagang,” kalo tidak gitu, kan gak banyak untung panitianya, tiap tahun seperti itu, entah kapan ada perubahan,” cetus Br Nainggolan.
Adapun dari pantauan Kru Media, kegiatan FBB yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu, tolak ukur dari keberhasilan FBB bukan sebatas banyaknya pengunjung, justru kegiatan yang berlangsung setiap tahun ini seharusnya menimbulkan dampak postif bagi sektor pariwisata, pelaku UMKM, serta perekonomian Kabupaten Karo.
Ketika Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Karo, M. Rapi Ginting SE, Yang membidangi Pariwisata di konfirmasi mengaku hingga kini pihaknya belum menerima laporan resmi dari Pemerintah Kabupaten Karo terkait pelaksanaan FBB 2026.
“Belum ada rapat. Kami juga belum menerima laporan resmi dari Pemkab Karo. Mungkin minggu depan sudah ada laporannya. Nanti akan kami panggil dan meminta penjelasan secara detail,” ujar Rapi Ginting.
Dikatakan Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu menilai secara umum penyelenggaraan Festival Bunga dan Buah tahun ini menunjukkan kemajuan dibanding tahun sebelumnya. meski demikian masih terdapat sejumlah kelemahan yang harus menjadi bahan evaluasi.
“Secara kasat mata kegiatan ini makin bagus, ada kemajuan dan peningkatan. Memang ada kelemahan-kelemahan yang harus diperbaiki ke depan, puncak keramaian terjadi pada malam penutupan. Namun, mayoritas pengunjung merupakan masyarakat dari berbagai desa di 17 kecamatan se-Kabupaten Karo,” beber Rapi
Tidak dibantah olehnya, Wisatawan dari luar daerah masih didominasi pengunjung asal Kabupaten Deli Serdang, Dairi, dan Langkat.
Selain itu, Komisi D juga menyoroti penataan stan yang dinilai belum mencerminkan identitas Festival Bunga dan Buah.
Menurutnya, masih banyak stan yang menjual produk yang tidak berkaitan dengan tema festival, seperti pakaian bekas dan aneka jajanan.
“Ke depan stan jajanan perlu dikurangi. Kalau makanan, kita akan mendorong Pemkab Karo mengutamakan UMKM atau kelompok masyarakat dari desa-desa di Tanah Karo,” Tegasnya.
Diakhirinya dengan mengatakan “Komisi D akan tetap menjalankan fungsi pengawasan terhadap pelaksanaan Festival Bunga dan Buah, termasuk meminta penjelasan mengenai penggunaan anggaran serta hasil yang dicapai.
“Intinya, Komisi D akan tetap kritis demi kemajuan Tanah Karo ke depan,” tutupnya mengakhiri.
(Nur Kennan Tarigan)




























