Esai Reflektif Alumni OPKAL 2000 Dalam Bingkai Reuni UIN Malang 2026

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:29 WIB

5033 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh : Faizuddin FM Jombang
OPKAL 2000

Nasionaldetik.com,— 31 Oktober 2026 Catatan Perjalanan Seorang Mahasiswa STAIN Malang dalam Bingkai Reuni UIN 2026” ini memberi pesan reflektif yang kuat. Inti ceritanya bukan sekadar nostalgia masa kuliah, melainkan perjalanan perubahan diri, dari mahasiswa yang belum percaya diri menjadi pribadi yang berani menyampaikan pendapat, peduli terhadap keadilan, dan siap mengambil peran dalam masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun 2000 awal masuk STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Malang , saya merasakan banyak sekali tantangan. Hal-hal yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana justru menjadi sesuatu yang harus saya pelajari dari awal. Bertempat tinggal di ma’had, mengikuti kegiatan PKPBA, berkomunikasi dengan orang baru, hingga menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru membutuhkan proses. Saya yang sebelumnya belum mengetahui banyak hal akhirnya harus berusaha mengikuti berbagai kegiatan dan aturan yang ada. Dari situlah saya mulai memahami bahwa pendidikan tidak selalu memberikan hasil secara instan. Ada proses panjang yang harus dijalani, ada kesalahan yang harus diperbaiki, dan ada rasa lelah yang harus dilewati. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan saya sebagai seorang Mahasiswa STAIN.

Menjadi seorang Mahasiswa STAIN Malang merupakan salah satu perjalanan yang sangat berarti dalam kehidupan saya. Ketika pertama kali menjadi Mahasiswa, saya datang dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Saya bahkan belum mengenal institusi STAIN Malang, belum tahu kota Malang, dan sebelumnya tidak banyak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan Ma’had di tengah-tengah kampus. Jika mengingat masa itu, saya menyadari bahwa diri saya yang dahulu sangat berbeda dengan diri saya sekarang. Banyak hal yang pada awalnya terasa sulit, perlahan mulai saya pahami melalui proses pendidikan, pembiasaan, dan pengalaman selama menjadi Mahasiswa. Bagi saya, menjadi Mahasiswa STAIN bukan hanya tentang belajar ilmu agama di dalam kelas, tetapi juga tentang belajar menjalani kehidupan, belajar menghargai orang lain, dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Semakin lama menjalani kehidupan sebagai Mahasiswa, saya mulai memahami bahwa dunia kampus khususnya STAIN, sebenarnya sedang mengajarkan banyak hal yang tidak semuanya tertulis di dalam buku perpus kampus. Salah satunya adalah pentingnya peran dalam kehidupan. Setiap orang mempunyai peran masing-masing, baik sebagai seorang mahasiswa, teman, anggota masyarakat, maupun sebagai seseorang agenda perubahan kelak akan memberikan manfaat kepada Bangsa dan negara. Di STAIN Malang, saya belajar bahwa menjadi seseorang yang berilmu saja belum cukup. Ilmu harus disertai dengan tanggung jawab dan kemauan untuk mengamalkannya. Dari sinilah saya mulai menyadari bahwa keberadaan seseorang akan lebih berarti apabila dirinya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Perubahan yang paling saya rasakan adalah keberanian untuk tampil di depan banyak orang. Sebelum menjadi mahasiswa, saya termasuk orang yang tidak percaya diri untuk berbicara atau tampil di hadapan orang banyak. Bahkan untuk sekadar menyampaikan pendapat di depan orang lain terkadang masih merasa takut dan malu. Namun, kehidupan di STAIN Malang secara perlahan memaksa saya untuk keluar dari rasa takut tersebut. Berbagai kegiatan yang mengharuskan mahasiswa berbicara, menyampaikan pendapat, mengikuti kegiatan organisasi, dan tampil di depan umum menjadi latihan yang sangat berharga.

Awalnya memang tidak mudah, tetapi karena terus dilakukan akhirnya rasa takut tersebut perlahan berkurang. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian tidak selalu muncul dengan sendirinya, tetapi dapat tumbuh karena seseorang mau mencoba dan membiasakan diri.

Hal lain yang sangat membekas dalam perjalanan saya adalah ketika mendapatkan pembelajaran tentang keberanian memperjuangkan hak-hak mahasiswa pada masa itu tahun 2000. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang mahasiswa akan diarahkan untuk melakukan keberanian dan mengamati berbagai persoalan yang ada di kampus. Namun, pengalaman tersebut justru membuka wawasan saya. Saya mulai belajar melihat sebuah persoalan tidak hanya dari apa yang terlihat di permukaan, tetapi juga berusaha mencari penyebab, memahami keadaan, dan memikirkan kemungkinan solusi. Keberanian mengajarkan saya untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Dari sana saya memahami bahwa ilmu yang dipelajari di STAIN Malang seharusnya tidak berhenti di dalam kelas, tetapi dapat digunakan untuk membaca realitas kehidupan.

Jika saya melihat kembali perjalanan dari awal menjadi mahasiswa STAIN, perubahan yang terjadi bukan hanya perubahan dalam kemampuan akademik. Saya yang dahulu tidak pernah bersuara yang argumentatif dan belum memahami banyak hal tentang kehidupan, perlahan mendapatkan kemampuan dan pengalaman baru. Saya yang dahulu tidak percaya diri tampil di depan banyak orang, akhirnya berani berbicara dan mengambil peran. Saya yang sebelumnya mungkin berpikir bahwa pendidikan hanya berkaitan dengan pelajaran, akhirnya memahami bahwa pendidikan juga berkaitan dengan karakter, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian kepada sesama. Perubahan tersebut tidak terjadi dalam satu atau dua hari. Semuanya lahir dari kebiasaan, kedisiplinan, pengalaman, serta proses panjang selama menjadi mahasiswa.

Bagi saya, STAIN Malang bukan hanya sebuah tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga tempat yang ikut membentuk cara saya memandang kehidupan. Di sana saya belajar bahwa menjadi manusia yang baik tidak cukup hanya dengan memiliki pengetahuan. Seseorang harus mampu membawa ilmu tersebut dalam kehidupan nyata. Keberanian yang saya dapatkan harus digunakan untuk menyampaikan kebaikan, kebenaran dan keadilan. Ilmu yang dipelajari harus dapat memberikan manfaat. Pengalaman menjadi mahasiswa STAIN Malang membuat saya semakin yakin bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengubah seseorang, bukan hanya dari tidak tahu menjadi tahu, tetapi juga dari tidak peduli menjadi peduli dan dari tidak berani menjadi berani mengambil peran.

Kenangan selama menjadi mahasiswa STAIN tentu tidak semuanya berupa pengalaman yang mudah. Ada masa ketika merasa lelah, ada saat merasa kesulitan mengikuti kegiatan, dan ada pula keadaan yang membuat ingin menyerah. Namun, justru dari berbagai kesulitan itulah saya mendapatkan pelajaran. Saya belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, terkadang seseorang harus melewati keadaan yang tidak nyaman terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. Jika pada saat itu saya hanya melihat kesulitan tanpa memahami prosesnya, mungkin saya tidak akan menyadari betapa besar manfaat yang saya dapatkan dari kehidupan kampus. Kini, ketika melihat kembali perjalanan tersebut, saya justru merasa bahwa berbagai kesulitan itu merupakan bagian dari kenangan yang indah dan tidak terlupakan.

Pada akhirnya, kenangan saya selama menjadi mahasiswa STAIN Malang adalah sebuah perjalanan yang tidak akan mudah dilupakan. Saya datang sebagai gelas kosong dan belum memiliki keberanian untuk tampil di depan banyak orang. Namun, melalui proses pendidikan dan pengalaman yang saya jalani, sedikit demi sedikit saya mengalami perubahan. Saya belajar ilmu, belajar kepekaan, belajar berkomunikasi, belajar mengambil peran. Ketika suatu saat saya ditanya apa yang saya bawa dari kampus, mungkin jawaban saya bukanlah sesuatu yang mewah atau besar.

Saya akan mengatakan bahwa saya membawa ilmu, pengalaman, keberanian yang saya dapatkan selama menjadi mahasiswa. Karena bagi saya, itulah bekal yang akan terus saya bawa dalam menjalani kehidupan setelah meninggalkan kampus STAIN Malang.

Tim Redaksi

Berita Terkait

Menempa Jiwa Kepemimpinan, Koramil 11 Manyaran Latih Puluhan Siswa MTs
Koramil 17/Wonosegoro Diserbu 65 Anak TK, Kenalkan Serunya Profesi Prajurit TNI AD Sejak Dini
*MCK TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu Mulai Berdiri Kokoh, Hadirkan Fasilitas Umum yang Dinantikan Warga*
Di Balik Seng yang Dibongkar, Tumbuh Harapan Baru untuk Rumah Edi Harahap
Harapan Baru di Balik Dinding Rumah, Satgas TMMD ke-130 Percantik Hunian Ibu Heni Derita Tampubolon
Satgas TMMD ke-130 Mulai Pemasangan Daun Pintu dan Pengecatan Jendela RTLH Milik Suroto
Satgas TMMD ke-130 Gotong Royong Bongkar Bagian Depan Rumah Edi Harahap
Sentuhan Akhir Pengecoran Lantai, Rumah Ibu Heni Derita Tampubolon Kian Nyaman Berkat Satgas TMMD ke-130*

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:54 WIB

Menempa Jiwa Kepemimpinan, Koramil 11 Manyaran Latih Puluhan Siswa MTs

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:47 WIB

Koramil 17/Wonosegoro Diserbu 65 Anak TK, Kenalkan Serunya Profesi Prajurit TNI AD Sejak Dini

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:29 WIB

Esai Reflektif Alumni OPKAL 2000 Dalam Bingkai Reuni UIN Malang 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:26 WIB

*MCK TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu Mulai Berdiri Kokoh, Hadirkan Fasilitas Umum yang Dinantikan Warga*

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 20:05 WIB

Harapan Baru di Balik Dinding Rumah, Satgas TMMD ke-130 Percantik Hunian Ibu Heni Derita Tampubolon

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:54 WIB

Satgas TMMD ke-130 Mulai Pemasangan Daun Pintu dan Pengecatan Jendela RTLH Milik Suroto

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Satgas TMMD ke-130 Gotong Royong Bongkar Bagian Depan Rumah Edi Harahap

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:33 WIB

Sentuhan Akhir Pengecoran Lantai, Rumah Ibu Heni Derita Tampubolon Kian Nyaman Berkat Satgas TMMD ke-130*

Berita Terbaru