Jakarta, nasionaldetik.com
Ada hari hari ketika napas perlu dirawat seperti orang menjaga sisa air di musim kering. Tidak untuk dipamerkan, hanya agar hidup bisa diteruskan esok hari. Pikiran telah lama berjalan lebih jauh daripada percakapan sehari hari, sementara tubuh tetap terikat pada urusan yang tidak bisa ditunda. Duduk, makan, menyapa, lalu pulang, menjadi rangkaian siklus. Dalam urutan itulah hidup menguji kesabaran tanpa memberi penjelasan.
Keramaian sering menempatkan bahasa sebagai alat pergaulan. Ia diharapkan akrab dan segera menyatu. Di sana, satu lapis cerita biasanya cukup. Lapisan lain disimpan karena tidak setiap tanah sanggup menumbuhkan benih yang sama. Mengetahui kapan menyimpan dan kapan membuka adalah bentuk ketelitian terhadap hidup.
Tulisan mengambil tempatnya sebagai rumah yang tidak menjanjikan kenyamanan. Di sana pikiran berjalan tanpa harus menyenangkan siapa pun. Ia bisa keras, bisa kering, bisa terlalu jujur untuk dibawa ke meja makan. Kata kata tidak diminta merapikan dunia. Mereka hanya diminta jujur pada apa yang dilihat dan ditanggung.
Perjalanan memperlihatkan bahwa manusia datang membawa beban yang tidak setara. Ada yang tertawa untuk menutup luka, ada yang marah karena gagal bahasa, ada yang singgah sebentar karena hidup tidak memberi mereka waktu lebih lama. Kebersamaan semacam itu menyusun peta yang tidak simetris. Tidak semua pertemuan ditakdirkan panjang, dan panjang tidak selalu berarti adil.
Pelan pelan, beberapa orang akan tinggal dan menetap. Mereka tidak mencurigai pilihan kata dan tidak gelisah oleh waktu yang dibutuhkan pikiran. Jumlahnya mengecil. Dari situlah kecukupan muncul. Bahasa bergerak tanpa perlu diborgol. Pikiran beredar tanpa harus tersendat. Beban hidup dibagi tanpa antrian.
Pada jarak yang lebih jauh, peran itu memperlihatkan dirinya tanpa dicari. Ia menyerupai api kecil di sudut malam, menyala tanpa perintah. Orang mendekat sekadar menghangatkan diri, lalu kembali ke jalan yang menuntut mereka. Api tidak memanggil dan tidak menahan. Ia tahu bahwa hangat yang berpindah sudah cukup sebagai alasan keberadaannya.
Tulisan tinggal lebih lama daripada obrolan yang cepat larut. Ia berpindah dari tangan ke tangan, dari waktu ke waktu, tanpa jaminan akan disukai. Ia bertemu pembaca yang belum dikenal, pada keadaan yang tidak bisa dipilih. Kejujuran bertahan karena ia tidak meminta izin untuk tetap ada.
Kerendahan hati tumbuh dari kesadaran bahwa setiap orang memikul medan hidup yang berlainan. Ada yang harus lebih dulu mengurus perut, ada yang mengurusi luka, ada yang menjaga keyakinan agar tidak runtuh. Bahasa yang setia pada asalnya memberi ruang bagi perbedaan itu, sambil menolak menjadi alat penjinakan.
Ada hari ketika jarak dengan manusia melebar tanpa sebab yang mudah disebut. Kedalaman mengajarkan kesabaran untuk tinggal bersama. Diam, hening yang berjarak, dan pilihan ruang menjadi bagian dari kerja hidup yang tidak selalu terlihat. Pada saat yang sama, dunia masih bisa disapa dengan senyum tipis dan canda singkat, tanpa memindahkan seluruh beban ke pundak orang lain.
Hidup bergerak di antara kesetiaan pada pikiran, hubungan, dan batas yang terus diuji. Ketiganya bekerja tanpa pernyataan. Kedalaman dijaga seperti orang menjaga martabat di tengah keadaan yang tidak selalu adil. Pelan, keras kepala, dan tanpa janji imbalan.
Waktu akhirnya terbaca melalui bekas yang ditinggalkannya. Melalui siapa yang masih singgah, siapa yang tetap ingat, dan siapa yang membawa sedikit hangat itu ke tempat lain. Dari sana, pelan pelan, seseorang belajar menakar kapan berbicara penuh, kapan berbagi ringan, dan kapan membiarkan dunia berjalan dengan caranya sendiri.
Tulisan ini tidak disusun untuk menuntun. Ia diletakkan seperti catatan kecil di saku, dibaca ulang saat langkah terasa berat dan bahasa mulai menipis. Dialog imajiner ini terus berlangsung, tanpa kesimpulan, karena hidup sendiri jarang memberi penutup yang rapi.
Mrs.







































